Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #52

Rumah yang Akan Diketuk

Ada satu tahap dalam hidup yang tidak pernah benar-benar bisa dipersiapkan. Bukan saat kita mulai bekerja, bukan ketika menerima gaji pertama, bahkan bukan ketika pertama kali mengatakan bahwa kita mencintai seseorang. Tahap yang paling menakutkan justru datang setelah itu semua, ketika hubungan yang selama ini terasa cukup dimiliki oleh dua orang perlahan menyadari bahwa mereka tidak akan pernah benar-benar hidup hanya berdua. Di belakang setiap orang ada rumah yang membesarkannya. Ada orang tua yang mengajarkan nilai-nilai hidup. Ada tradisi yang sudah mengakar sejak sebelum ia lahir. Dan mencintai seseorang, pada akhirnya, juga berarti bersiap mengetuk pintu rumah yang telah membentuknya.

Beberapa hari setelah percakapan gue dengan Ibu , pikiran itu tidak pernah benar-benar pergi. Beliau memang tidak melarang. Tidak juga mendesak. Justru karena itulah gue semakin merasa harus segera mengambil langkah. Gue tidak ingin hubungan ini terus berjalan di tempat. Bukan karena ingin buru-buru menikah, tetapi karena semakin lama sesuatu yang dibiarkan menggantung akan semakin mudah dipenuhi prasangka.

Pagi itu Jakarta kembali sibuk dengan rutinitasnya. Bus TransJakarta melintas penuh penumpang, suara remnya mendesis di halte. Pedagang nasi uduk mulai membereskan dagangan karena jam berangkat kerja hampir selesai. Aroma kopi sachet dari warung kecil dekat kantor bercampur dengan asap knalpot yang sudah menjadi bau khas kota ini. Semua orang tampak memiliki tujuan. Gue pun begitu. Hanya saja, tujuan gue hari itu bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan.

Sepanjang pagi, beberapa kali gue ingin mengajak Kinan berbicara. Namun setiap kali melihatnya sedang fokus di depan layar komputer atau sedang berdiskusi dengan rekan kerja lain, niat itu kembali gue urungkan. Ada percakapan yang tidak pantas dilakukan sambil berdiri di pantry atau di sela-sela makan siang. Gue ingin membicarakannya dengan sungguh-sungguh.

Menjelang pukul lima sore, saat sebagian besar karyawan mulai bersiap pulang, gue menghampiri mejanya.

"Ada waktu sebentar?"

Kinan mengangkat kepala dari layar monitornya. "Ada. Kenapa?"

"Jangan pulang dulu. Aku mau ngobrol."

Ekspresinya berubah sedikit. Bukan takut, melainkan penasaran. "Serius banget?"

"Iya."

Dia tidak bertanya lagi. Hanya mengangguk pelan.

* * *

Kami memilih berjalan kaki menuju taman kecil di belakang kompleks perkantoran. Tempat itu tidak terlalu ramai menjelang malam. Hanya ada beberapa pegawai yang duduk sambil menikmati jajanan kaki lima, seorang bapak penjual jagung rebus, dan suara kendaraan dari jalan utama yang terdengar seperti dengungan panjang di kejauhan. Langit Jakarta mulai berubah jingga. Cahaya matahari memantul di kaca gedung-gedung tinggi, membuat kota ini terlihat jauh lebih tenang daripada kenyataannya.

Beberapa menit kami berjalan tanpa berbicara.

Lucu juga. Selama ini gue tidak pernah kesulitan mencari topik ketika bersama Kinan. Kami bisa mengobrol soal pekerjaan, makanan, film, bahkan hal-hal receh yang sama sekali tidak penting. Tapi ketika pembicaraan itu benar-benar penting, justru semua kalimat terasa sulit keluar.

"Kamu bikin aku deg-degan," katanya sambil tersenyum tipis.

"Gue juga."

"Kamu yang ngajak ngobrol, kok kamu juga?"

"Iya."

Dia tertawa kecil.

"Ternyata orang yang kelihatannya santai juga bisa gugup."

"Gue emang lagi gugup."

Kami berhenti di dekat bangku taman. Gue menarik napas pelan sebelum akhirnya duduk. Kinan ikut duduk di sebelah gue dengan jarak yang tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak sejauh orang asing.

"Aku dengerin."

Gue memandang jalan di depan. Orang-orang masih lalu-lalang dengan langkah cepat. Mungkin mereka sedang mengejar kereta, mengejar bus, atau sekadar ingin segera sampai rumah.

"Kinan..."

"Iya?"

"Gue capek pura-pura semuanya masih santai."

Dia tidak menyela.

"Gue ngerasa hubungan kita udah bukan sekadar saling nemenin pulang atau makan siang bareng."

Kinan menunduk.

"Gue juga."

"Makanya... gue pikir udah waktunya kita mulai mikirin langkah berikutnya."

Suasana mendadak hening.

Bukan hening yang canggung.

Melainkan hening yang dipenuhi banyak pikiran.

"Aku tahu suatu hari kita pasti ngomongin ini," katanya pelan. "Cuma... ternyata pas harinya datang, rasanya tetap takut."

"Gue juga takut."

"Takut kenapa?"

Lihat selengkapnya