Ada satu kesalahpahaman yang sering dimiliki banyak orang tentang cinta. Mereka mengira bagian paling sulit adalah membuat seseorang jatuh hati. Padahal kenyataannya tidak begitu. Membuat dua orang saling mencintai kadang justru jauh lebih mudah daripada menjaga keberanian setelah keduanya sepakat untuk melangkah lebih jauh. Karena sejak saat itu, hubungan tidak lagi hanya berbicara tentang rasa. Ia mulai berbicara tentang waktu, keluarga, kesiapan, dan segala sesuatu yang selama ini tidak pernah terlihat ketika semuanya masih terasa ringan.
Beberapa hari setelah percakapan kami di taman belakang kantor, tidak banyak yang berubah dari luar. Kami masih berangkat bekerja seperti biasa. Masih saling menyapa setiap pagi. Masih sesekali makan siang bersama ketika pekerjaan sedang tidak terlalu padat. Dari mata orang lain, hubungan kami mungkin tampak sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Hanya kami berdua yang tahu bahwa sebenarnya ada sesuatu yang telah bergeser. Bukan menjadi lebih buruk, tetapi menjadi lebih berat. Rasanya seperti dua orang yang sedang berjalan di jembatan kayu. Selama hanya berjalan berdua, langkah itu terasa ringan. Namun begitu menyadari bahwa di ujung jembatan ada banyak orang yang menunggu keputusan mereka, setiap pijakan mendadak terasa lebih hati-hati.
Gue mulai lebih sering memperhatikan jam pulang. Dulu, sepulang kerja kami kadang masih mampir membeli minuman dingin di minimarket dekat kantor atau sekadar duduk beberapa menit sebelum pulang. Sekarang kami lebih sering langsung menuju parkiran. Bukan karena ingin menjauh satu sama lain, melainkan karena masing-masing sedang membawa banyak pikiran pulang ke rumah. Anehnya, justru dalam diam itu gue semakin merasa dekat dengan Kinan. Ada jenis kedekatan yang tidak membutuhkan banyak kata. Cukup mengetahui bahwa orang di samping kita sedang memikirkan hal yang sama.
Suatu sore, ketika kami berjalan menuju parkiran motor, Kinan tiba-tiba berkata pelan, "Akhir-akhir ini aku jadi sering lihat ibu."
Gue menoleh. "Maksudnya?"
"Kalau pulang."
Dia tersenyum kecil, tetapi senyum itu tidak sepenuhnya bahagia.
"Dulu aku pulang ya pulang aja. Sekarang tiap lihat ibu lagi nyapu halaman, lagi masak, atau lagi nonton televisi, aku jadi kepikiran."
"Kepikiran apa?"
"Gimana nanti kalau suatu saat aku harus bikin beliau menerima keputusan yang mungkin nggak sesuai harapannya."
Kalimat itu membuat langkah gue ikut melambat. Gue tidak langsung menjawab karena pertanyaan seperti itu memang tidak punya jawaban yang bisa menghilangkan rasa takut.
"Aku jadi ngerasa bersalah, padahal belum ngapa-ngapain."
"Gue juga begitu."
Dia menatap gue sekilas.
"Kamu juga?"
"Iya."
"Gara-gara Ibu?"
Gue mengangguk pelan.
"Beliau belum nanya macam-macam. Malah makin biasa. Tapi justru itu yang bikin gue kepikiran."
Kinan mengembuskan napas panjang. "Ternyata mikirin orang tua capek juga ya."
"Iya."
"Tapi kalau nggak dipikirin juga rasanya nggak mungkin."
Percakapan itu selesai begitu saja ketika kami sampai di parkiran. Tidak ada kesimpulan. Tidak ada janji baru. Hanya dua orang yang semakin sadar bahwa mencintai berarti bersiap memikul tanggung jawab yang perlahan mulai terlihat bentuknya.