Ada masa ketika seseorang mulai belajar bahwa rumah bukan hanya tempat untuk pulang. Rumah juga tempat di mana pertanyaan-pertanyaan paling sulit pertama kali muncul. Bukan karena orang tua ingin menghakimi, melainkan karena merekalah orang pertama yang menyadari perubahan sekecil apa pun pada anaknya. Mereka mungkin tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, tetapi mereka hampir selalu tahu bahwa ada sesuatu yang sedang berubah. Barangkali memang begitulah naluri orang tua bekerja. Mereka tidak selalu melihat dengan mata, tetapi sering kali merasa lebih dulu dengan hati.
Seminggu berlalu sejak percakapan gue dan Kinan di taman belakang kantor. Kesibukan pekerjaan kembali memenuhi hari-hari kami. Akhir bulan selalu menjadi waktu yang melelahkan di kantor. Berkas menumpuk di meja, telepon hampir tidak pernah berhenti berdering, dan aroma kopi sachet yang diseduh bergantian di pantry menjadi teman setia hampir setiap divisi. Orang-orang datang lebih pagi dan pulang sedikit lebih malam. Di sela-sela kesibukan itu, hubungan gue dan Kinan justru terasa lebih tenang. Kami tidak lagi terlalu sering bertukar pesan sepanjang hari. Bukan karena rasa itu berkurang, tetapi karena kami sama-sama sedang memberi ruang bagi diri sendiri untuk berpikir.
Sesekali mata kami bertemu ketika berpapasan di lorong kantor atau saat sama-sama mengambil air minum. Senyuman kecil yang dulu terasa biasa kini memiliki arti yang berbeda. Seolah-olah senyum itu sedang berkata, aku masih di sini. Kadang hanya itu yang dibutuhkan seseorang untuk bertahan menjalani hari yang panjang.
Sore itu, setelah jam kerja selesai, gue melihat Kinan membereskan mejanya lebih cepat dari biasanya.
"Pulang duluan?" tanya gue.
"Iya."
"Nggak lembur?"
Dia menggeleng.
"Mau bantu ibu di rumah."
Gue mengangguk.
"Hati-hati."
"Kamu juga."
Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada janji bertemu setelah pulang kerja. Hubungan kami mulai belajar bahwa tidak setiap hari harus diisi dengan kebersamaan. Ada kalanya mencintai berarti membiarkan seseorang menjalankan tanggung jawabnya tanpa merasa harus selalu ditemani.
Perjalanan pulang Kinan sore itu diwarnai langit Jakarta yang mulai redup. Bus TransJakarta melintas beriringan di jalur khusus, suara pengumuman halte terdengar samar ketika pintunya terbuka, sementara deretan pedagang kaki lima mulai memenuhi trotoar menjelang waktu berbuka bagi mereka yang baru pulang bekerja. Sesampainya di rumah, aroma bawang putih yang sedang ditumis langsung menyambutnya dari dapur.
"Ibu?" panggilnya.
"Dapur."
Kinan meletakkan tas kerja, mengganti pakaian, lalu menghampiri ibunya yang sedang mengaduk sayur bening di atas kompor.
"Biar aku aja yang lanjut."
Ibunya tersenyum tipis.
"Tumben."
"Kangen masak."
"Kangen apa habis dimarahin minggu lalu?"