Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #55

Hal yang Belum Siap Diucapkan

Ada alasan mengapa sebagian orang memilih diam, bukan karena mereka tidak memiliki jawaban, tetapi karena mereka sadar bahwa setiap jawaban memiliki akibat. Semakin bertambah usia, kita mulai memahami bahwa mengucapkan sebuah keputusan sering kali jauh lebih mudah daripada menanggung perubahan yang mengikutinya. Karena sejak sebuah kalimat keluar dari mulut kita, hidup tidak akan pernah benar-benar kembali seperti sebelumnya.

Hari-hari setelah percakapan Kinan dengan ibunya berjalan nyaris seperti biasa. Pagi datang bersama suara motor yang memenuhi gang-gang kecil Jakarta, pedagang bubur yang mendorong gerobaknya sejak matahari belum sepenuhnya naik, serta klakson kendaraan yang mulai bersahut-sahutan bahkan sebelum jam berangkat kerja tiba. Kota ini selalu berhasil membuat orang merasa tergesa-gesa, seolah setiap menit yang terlambat akan mengubah seluruh hidup mereka. Gue kembali menjalani rutinitas seperti biasanya. Berangkat dengan motor melewati jalan tikus yang mulai gue hafal setiap lubangnya, berhenti di lampu merah yang hampir selalu sama macetnya, lalu memarkir kendaraan di basement kantor sebelum naik ke lantai tempat kami bekerja.

Di kantor, hubungan gue dan Kinan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Kami sama-sama menjaga profesionalitas. Sesekali bertemu di pantry untuk mengambil kopi atau air minum, saling bertanya mengenai pekerjaan, lalu kembali ke meja masing-masing. Justru setelah percakapan serius beberapa hari lalu, kami seperti sama-sama sepakat untuk tidak membiarkan hubungan pribadi mengganggu pekerjaan. Gue menyukai perubahan itu. Rasanya lebih dewasa. Kami tidak lagi membutuhkan pesan setiap jam atau alasan untuk terus berada berdekatan. Ada kepercayaan yang tumbuh perlahan, dan kepercayaan sering kali bekerja dalam diam.

Menjelang akhir pekan, pekerjaan sedikit lebih longgar. Saat makan siang di warung langganan dekat kantor, Kinan duduk berhadapan dengan gue sambil mengaduk es teh yang es batunya hampir seluruhnya mencair. Wajahnya terlihat lebih tenang dibanding minggu lalu.

"Ibumu gimana?" tanya gue pelan.

Dia memahami maksud pertanyaan itu.

"Belum nanya lagi."

"Gimana perasaanmu?"

"Masih deg-degan."

"Gue kira udah lega."

"Justru makin kepikiran."

Gue mengangguk. Jawaban itu tidak mengejutkan.

"Kamu tahu nggak," lanjutnya sambil memandang lauk di piringnya, "kadang aku pengin cerita semuanya. Tapi setiap kali lihat ibu lagi nyapu halaman atau lagi masak sendiri, aku malah nggak tega."

"Kenapa?"

"Takut setelah aku cerita, rumah nggak lagi terasa sama."

Gue terdiam cukup lama. Kalimat itu terasa begitu manusiawi. Bukan karena mengandung kata-kata indah, tetapi karena itulah ketakutan yang sering dirasakan banyak anak ketika mulai memasuki fase baru dalam hidupnya.

"Aku bukan takut dimarahin," katanya lagi. "Aku lebih takut bikin mereka kepikiran."

Gue tersenyum tipis.

"Kayaknya kita punya ketakutan yang sama."

Kami tidak melanjutkan pembicaraan itu. Warung mulai ramai oleh karyawan dari kantor lain yang baru keluar makan siang. Suara sendok beradu dengan piring, kipas angin tua yang berputar sambil berdecit pelan, dan aroma ayam goreng yang baru diangkat dari penggorengan memenuhi ruangan sederhana itu. Hidup tetap berjalan seperti biasa, padahal di dalam kepala dua orang yang sedang duduk di pojok warung itu, banyak hal sedang berubah.

Sabtu pagi, gue memutuskan tidak keluar rumah. Sudah cukup lama akhir pekan gue habiskan di luar bersama teman-teman atau menyelesaikan urusan pribadi. Hari itu gue memilih membantu Ibu membersihkan rumah. Beliau sedang menyapu halaman ketika gue mengambil selang untuk menyiram tanaman kecil di depan teras. Matahari belum terlalu tinggi. Udara masih cukup sejuk, meski sesekali suara kendaraan dari jalan besar mulai terdengar semakin ramai.

"Kamu libur nggak main?" tanya beliau.

"Nggak dulu."

"Teman-temanmu?"

"Pasti pada sibuk."

Ibu mengangguk sambil memungut daun mangga yang jatuh tertiup angin semalam.

Lihat selengkapnya