Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #57

Keberanian Tidak Pernah Datang Sekaligus

Ada satu kesalahpahaman yang sering kita percaya ketika masih muda: bahwa keberanian akan datang seperti sakelar yang tiba-tiba menyala. Seolah suatu pagi kita bangun dengan hati yang mantap, kepala yang jernih, lalu mampu menghadapi apa pun tanpa ragu. Kenyataannya tidak begitu. Keberanian hampir selalu datang dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Ia muncul ketika lutut masih gemetar, ketika dada masih sesak, ketika kita masih takut mendengar jawaban yang tidak kita inginkan, tetapi tetap memilih melangkah. Mungkin itulah sebabnya orang dewasa tidak pernah benar-benar terlihat tanpa rasa takut. Mereka hanya belajar bergerak meski rasa takut itu masih ikut berjalan di sampingnya.

Hari Senin kembali mengembalikan Jakarta pada wajah aslinya. Sejak pukul enam pagi jalanan sudah dipenuhi deretan motor yang bergerak perlahan di sela-sela mobil, suara klakson bersahut-sahutan di perempatan, dan halte TransJakarta yang kembali dipenuhi antrean orang-orang dengan wajah mengantuk. Gue berangkat sedikit lebih pagi dari biasanya karena ingin menghindari kemacetan yang belakangan semakin panjang. Namun seperti biasa, Jakarta selalu punya cara sendiri untuk mengingatkan bahwa kota ini tidak bisa ditebak. Sebuah truk mogok di jalan utama membuat arus kendaraan merayap hampir dua puluh menit. Gue hanya bisa menarik napas panjang sambil memperhatikan orang-orang di sekitar. Ada yang berkali-kali melihat jam tangan, ada yang sibuk menelepon atasannya, ada pula yang tetap tenang mendengarkan musik melalui earphone. Setiap orang memiliki cara berbeda menghadapi keterlambatan, sebagaimana setiap orang memiliki cara berbeda menghadapi hidup.

Sesampainya di kantor, suasana sudah kembali sibuk. Mesin absensi berbunyi hampir tanpa jeda, aroma kopi sachet dari pantry mulai memenuhi ruangan, dan suara keyboard terdengar seperti hujan kecil yang tidak pernah berhenti. Gue melihat Kinan sudah duduk di mejanya. Rambutnya tetap tertutup pashmina berwarna krem yang sederhana, kacamatanya sedikit turun saat membaca laporan di layar komputer. Ia terlihat fokus, tetapi ketika mata kami bertemu beberapa detik, ia memberikan senyum tipis yang cukup membuat pagi itu terasa lebih ringan.

Pekerjaan hari itu cukup padat. Kami hampir tidak sempat berbicara selain urusan pekerjaan. Baru menjelang jam makan siang, ketika sebagian besar karyawan mulai turun menuju kantin, kami berjalan berdampingan tanpa banyak bicara. Tidak ada yang aneh. Justru kesunyian itu terasa nyaman.

"Kamu pulang langsung nanti?" tanya gue akhirnya.

"Iya."

"Nggak ada rencana ke mana-mana?"

Dia menggeleng.

"Kamu?"

"Sama."

Beberapa langkah kemudian Kinan berhenti sebentar sebelum masuk ke kantin.

"Aku udah mutusin sesuatu."

Gue menoleh.

"Apa?"

"Mungkin minggu ini aku bakal cerita semuanya."

Kalimat itu diucapkannya pelan, tetapi mantap.

Gue tidak langsung menjawab. Ada rasa lega sekaligus khawatir yang datang bersamaan. Lega karena akhirnya ia memutuskan untuk tidak terus menunda. Khawatir karena gue tahu, setelah pembicaraan itu terjadi, hubungan kami akan memasuki babak yang sama sekali baru.

"Udah yakin?" tanya gue.

"Belum."

"Lho?"

Dia tersenyum kecil.

Lihat selengkapnya