Ada masa ketika hidup terasa seperti sedang berdiri di depan dua pintu yang sama-sama belum pernah kita buka. Kita tahu salah satunya harus dipilih, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa benar-benar memastikan apa yang ada di baliknya. Anehnya, semakin dewasa, kita justru semakin sering berada di titik seperti itu. Bukan karena hidup semakin rumit, melainkan karena setiap keputusan yang kita ambil tidak lagi hanya memengaruhi diri sendiri. Di belakang kita ada orang tua yang telah membesarkan kita dengan keyakinannya masing-masing. Di depan kita ada masa depan yang belum tentu sesuai dengan rencana siapa pun. Dan di tengah-tengahnya, kita hanya mencoba menjadi anak yang baik tanpa harus mengkhianati hati sendiri.
Hari Sabtu datang lebih tenang dibanding hari-hari kerja. Jakarta memang tidak pernah benar-benar sepi, tetapi ritmenya berubah. Jalanan yang biasanya dipenuhi orang berangkat ke kantor kini lebih banyak diisi keluarga yang hendak berbelanja, pesepeda yang memanfaatkan udara pagi, dan pedagang sarapan yang masih dikerumuni pembeli. Dari dapur rumah, aroma bawang merah yang ditumis bercampur dengan wangi daun salam memenuhi ruangan. Ibu Suminten sedang memasak sayur lodeh sederhana. Radio kecil di atas kulkas kembali memutar lagu-lagu campursari yang sudah sangat akrab di telinga sejak gue kecil.
Seusai membantu menyapu halaman depan, gue duduk di teras sambil menyeruput teh hangat. Gang perumahan mulai ramai. Anak-anak bermain sepeda, seorang bapak mendorong gerobak tanaman hias, sementara suara pedagang roti keliling sesekali memecah suasana. Kehidupan berjalan seperti biasa. Justru itu yang membuat gue sadar bahwa sering kali perubahan terbesar dalam hidup datang ketika keadaan di sekitar terlihat paling normal.
Ponsel di samping gue bergetar pelan.
Kinan.
"Aku jadi cerita hari ini."
Hanya satu kalimat.
Tidak ada emotikon.
Tidak ada penjelasan.
Gue membaca pesan itu beberapa kali.
Jari gue sempat berhenti di atas layar sebelum akhirnya membalas.
"Semoga lancar."
Tidak lama kemudian balasan masuk.
"Doain ya."
"Selalu."
Percakapan selesai sampai di situ.
Gue sengaja tidak bertanya lebih jauh. Ada beberapa momen yang harus dijalani seseorang sendirian. Kehadiran kita bukan dengan terus bertanya, melainkan dengan memberi ruang agar ia mampu menghadapi keluarganya tanpa merasa sedang ditekan.
Hari itu gue justru menghabiskan waktu membantu Ibu membereskan gudang kecil di belakang rumah. Banyak barang lama yang akhirnya dikeluarkan. Kardus berisi buku sekolah, rak kayu yang salah satu kakinya patah, kipas angin rusak yang entah mengapa tidak pernah dibuang, sampai beberapa album foto yang sudah mulai menguning.
Ibu membuka salah satu album.
"Itu waktu kamu SD."
Gue ikut melihat.
Foto itu memperlihatkan gue memakai seragam merah putih dengan rambut cepak yang bentuknya jauh dari kata rapi. Di samping gue berdiri Ibu yang masih terlihat jauh lebih muda.
"Gue jelek juga ya."
Ibu tertawa.
"Dari dulu juga nggak ganteng-ganteng amat."
"Bu..."
"Lha iya."
Kami sama-sama tertawa.
Beberapa halaman berikutnya memperlihatkan foto-foto sederhana. Tidak ada liburan ke luar negeri. Tidak ada pesta ulang tahun mewah. Sebagian besar hanya foto di halaman rumah, acara keluarga, atau ketika gue menerima rapor.
"Aneh ya," kata gue pelan.
"Kenapa?"