Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #59

Rumah yang Mulai Membuka Pintu

Tidak ada orang yang benar-benar siap menghadapi hari ketika urusan hati berubah menjadi urusan keluarga. Selama masih sebatas dua orang yang saling menyukai, semuanya terasa sederhana. Masalah bisa diselesaikan dengan duduk berdua, saling meminta maaf, atau sekadar menghabiskan waktu bersama. Namun ketika hubungan mulai melibatkan orang tua, sejarah keluarga, nilai-nilai yang diwariskan, dan harapan yang dibangun selama puluhan tahun, setiap langkah menjadi jauh lebih berat. Bukan karena ada yang berniat menghalangi, melainkan karena setiap orang tua selalu ingin memastikan bahwa anaknya sedang berjalan menuju kehidupan yang baik.

Hari Senin datang seperti biasa. Jakarta kembali sibuk sejak matahari belum benar-benar tinggi. Jalan arteri dipenuhi sepeda motor yang saling berebut ruang, suara klakson bersahutan dengan deru bus TransJakarta yang berhenti di halte, sementara para pedagang kaki lima mulai menyiapkan dagangan untuk gelombang pembeli pertama. Gue berangkat sedikit lebih pagi dari biasanya. Bukan karena ada pekerjaan yang mendesak, melainkan karena semalaman pikiran gue terus kembali pada satu kalimat Kinan beberapa hari lalu.

"Sekarang giliran kamu."

Kalimat itu tidak pernah benar-benar meninggalkan kepala gue.

Sesampainya di kantor, suasana kembali dipenuhi rutinitas yang sudah sangat akrab. Mesin absensi berbunyi setiap beberapa detik. Aroma kopi sachet dari pantry bercampur dengan bau pendingin ruangan yang selalu terlalu dingin. Beberapa rekan kerja bercanda mengenai kemacetan pagi, sementara yang lain langsung tenggelam di depan layar komputer masing-masing.

Kinan datang sekitar lima belas menit kemudian. Pashmina krem yang dikenakannya masih tertata rapi seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya. Wajahnya terlihat sedikit lebih lelah, namun juga lebih tenang. Seolah-olah ada beban yang mulai bergeser dari pundaknya.

Saat jam istirahat siang, kami makan di warung langganan yang letaknya tidak jauh dari kantor. Tidak ada percakapan berat. Kami justru membicarakan hal-hal sederhana—menu makan siang yang porsinya semakin sedikit, jalanan yang makin macet, dan seorang rekan kerja yang hampir setiap hari lupa membawa kartu akses. Kami sama-sama paham bahwa tidak semua kecemasan harus dibicarakan terus-menerus. Kadang yang dibutuhkan seseorang hanyalah kesempatan untuk kembali merasa hidup berjalan normal.

Sebelum kembali ke kantor, Kinan berhenti melangkah.

"Ayah semalam ngomong lagi."

Gue menoleh.

"Apa katanya?"

"Beliau cuma bilang... kalau memang serius, semuanya harus jelas."

Gue mengangguk pelan.

"Itu masuk akal."

"Iya."

"Tidak ada yang salah."

Kinan tersenyum tipis.

"Aku tahu."

"Tapi tetap bikin takut?"

"Iya."

Gue ikut tersenyum.

"Gue juga lagi ngerasain hal yang sama."

Tidak ada lagi yang perlu ditambahkan. Kami kembali berjalan berdampingan menuju kantor. Langkah kami masih sama seperti beberapa bulan lalu, tetapi arah perjalanan kami sudah berbeda.

* * *

Sore harinya, perjalanan pulang terasa lebih lambat dari biasanya. Langit Jakarta mulai berubah jingga ketika gue melewati jalan tikus yang menghubungkan kawasan perkantoran dengan permukiman. Di depan sebuah warteg, beberapa pekerja bangunan duduk makan dengan wajah yang terlihat sangat lelah. Seorang kurir paket berhenti sebentar untuk mengisi daya ponselnya di minimarket. Kehidupan terus bergerak dengan caranya sendiri.

Sesampainya di rumah, Ibu sedang menyiram tanaman di halaman depan. Ember plastik biru yang sudah bertahun-tahun dipakai masih setia berada di samping pot bunga melati kesayangannya.

"Pulang."

"Iya, Bu."

"Capek?"

"Lumayan."

Beliau hanya mengangguk.

Setelah makan malam, kami duduk di ruang tengah. Televisi menyala pelan, tetapi tidak benar-benar kami tonton. Ibu sedang melipat pakaian, sementara gue membantu memasangkan gantungan baju.

Lihat selengkapnya