Ada orang-orang yang mengira ujian terbesar dalam sebuah hubungan adalah ketika dua orang mulai saling mencintai. Padahal, mencintai adalah bagian yang paling mudah. Yang jauh lebih sulit adalah menjaga cinta itu tetap hidup ketika ia mulai memasuki ruang yang lebih besar, ruang tempat setiap orang membawa cara hidup, pengalaman, dan keyakinannya sendiri. Di titik itulah kita sadar bahwa hubungan tidak pernah benar-benar dibangun oleh dua hati saja. Ia juga dibentuk oleh rumah-rumah yang membesarkan keduanya.
Sejak percakapan gue dengan Ibu beberapa malam sebelumnya, tidak ada perubahan besar yang terlihat di rumah. Beliau tetap bangun lebih pagi daripada siapa pun, tetap menyapu halaman sebelum matahari terlalu tinggi, tetap menyiapkan sarapan sederhana, dan tetap mengingatkan gue agar tidak terlalu sering melewatkan makan siang. Namun, ada satu perubahan kecil yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang tinggal serumah. Sesekali beliau mulai bertanya tentang Kinan. Bukan bertanya dengan rasa curiga, melainkan seperti seseorang yang sedang perlahan mengenal sosok yang belum pernah ditemuinya.
"Pekerjaannya sama kayak kamu?" tanya beliau suatu pagi sambil menuangkan teh ke dalam gelas.
"Iya, Bu."
"Orangnya sering lembur?"
"Kadang."
Beliau mengangguk pelan.
"Kalau perempuan terlalu capek kerja juga kasihan."
Kalimat itu terdengar biasa. Tetapi gue tahu, itu adalah bentuk perhatian yang tidak diucapkan secara langsung. Ibu tidak sedang menilai. Beliau sedang membayangkan kehidupan seseorang yang selama ini hanya beliau kenal lewat nama.
Gue tersenyum sendiri.
Mungkin beginilah cara seorang ibu membuka pintu hatinya. Tidak tergesa-gesa, tetapi juga tidak menutup diri.
Hari itu perjalanan menuju kantor terasa lebih ringan. Udara Jakarta masih menyimpan sisa hujan dini hari. Aspal yang mulai mengering memantulkan cahaya matahari pagi, sementara aroma tanah basah bercampur dengan bau knalpot kendaraan yang sudah memenuhi jalan sejak subuh. Di sebuah persimpangan, gue melihat seorang bapak mengantar anaknya ke sekolah dengan motor tua. Anak itu memeluk tas sekolah di depan dadanya, sementara bapaknya terus berbicara tanpa menoleh ke belakang. Gue tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tetapi dari kaca spion terlihat anak itu sesekali mengangguk.
Barangkali setiap orang tua memang punya bahasa cintanya sendiri.
Sesampainya di kantor, pekerjaan berjalan seperti biasanya. Beberapa laporan harus segera diselesaikan sebelum akhir pekan. Telepon kantor beberapa kali berdering, suara printer hampir tidak berhenti sejak pagi, dan pantry kembali menjadi tempat paling ramai setiap jam istirahat.
Menjelang makan siang, Kinan menghampiri meja gue.
"Ada waktu nanti pulang?"
Gue mengangguk.
"Ada."
"Aku mau cerita."
"Oke."
Tidak ada penjelasan lain.
Sepanjang siang gue beberapa kali bertanya-tanya apa yang ingin ia sampaikan. Namun gue sengaja tidak menanyakannya sekarang. Selama beberapa bulan terakhir, kami sama-sama belajar bahwa tidak semua percakapan harus dilakukan di sela-sela pekerjaan.
Sore menjelang ketika kami akhirnya keluar dari gedung kantor. Langit Jakarta berwarna keabu-abuan, tetapi belum menunjukkan tanda-tanda hujan. Kami memilih berjalan menuju taman kecil yang beberapa kali menjadi tempat kami berbicara sejak hubungan ini mulai berubah menjadi lebih serius.
Beberapa pegawai lain duduk di bangku taman sambil menikmati jajanan kaki lima. Seorang penjual es teh berjalan pelan menawarkan dagangannya. Dari kejauhan terdengar suara bus TransJakarta berhenti di halte, disusul suara pintu otomatis yang membuka dan menutup.
Kami duduk di bangku yang sama seperti beberapa minggu lalu.
Kinan menarik napas pelan.
"Ayah udah mulai nanya lebih banyak."
"Tentang?"
"Tentang kamu."
Gue tersenyum tipis.
"Semoga jawabannya bagus."
Dia ikut tersenyum, tetapi hanya sebentar.