Ada satu kesalahan yang sering dilakukan banyak orang ketika membayangkan akhir dari sebuah kisah cinta. Mereka mengira akan ada satu hari ketika semua persoalan selesai dalam satu percakapan. Seolah-olah setelah restu diberikan, setelah dua keluarga saling mengenal, semua akan berubah menjadi mudah. Padahal kehidupan tidak pernah bekerja seperti itu. Restu bukanlah sebuah kalimat yang menghapus seluruh ketakutan. Restu justru lahir setelah orang-orang saling mengenal, saling mengamati, lalu memutuskan untuk percaya. Dan kepercayaan tidak pernah tumbuh dalam semalam.
Beberapa minggu berlalu tanpa kejadian besar. Ritme kehidupan kembali mengambil alih hari-hari kami. Kantor tetap sibuk dengan target yang harus diselesaikan. Jalanan Jakarta tetap macet pada jam berangkat dan pulang kerja. Warung kopi di dekat halte masih dipenuhi pelanggan yang membeli kopi sachet sebelum naik bus TransJakarta. Pedagang gorengan di depan gang rumah selalu mulai menggoreng menjelang azan Magrib, sementara suara anak-anak yang bermain sepak bola di jalan perumahan tetap menjadi penanda bahwa sore telah datang.
Justru di tengah rutinitas yang terlihat biasa itulah hubungan kami perlahan berubah.
Ibu sesekali mulai bertanya tentang pekerjaan Kinan. Bukan lagi sekadar namanya.
"Dia rumahnya jauh dari kantor?"
"Cukup jauh, Bu."
"Kalau pulang malam aman?"
"Biasanya pulang sebelum terlalu malam."
Beliau mengangguk pelan.
"Laki-laki memang harus memastikan perempuan yang dia kenal bisa pulang dengan selamat."
Gue hanya menjawab singkat.
"Iya, Bu."
Nasihat itu tidak terdengar seperti perintah.
Lebih seperti prinsip hidup yang sudah lama beliau pegang.
Di sisi lain, Kinan juga mulai bercerita bahwa suasana di rumahnya berubah sedikit demi sedikit.
"Ayah udah nggak terlalu kaget lagi kalau aku nyebut nama kamu."
"Itu perkembangan."
"Iya."
"Masih banyak nanya?"
"Masih."
"Aku malah senang."
Kinan tertawa kecil.
"Kok senang?"
"Karena berarti beliau masih ingin tahu."
Ia terdiam beberapa saat sebelum mengangguk.
"Aku juga mulai mikir begitu."
Hubungan kami tidak lagi dipenuhi percakapan tentang rasa takut. Yang lebih sering kami bicarakan justru tentang bagaimana menjadi pribadi yang lebih siap. Gue mulai lebih serius menyusun rencana keuangan. Pengeluaran yang tidak perlu perlahan gue kurangi. Beberapa kali gue bahkan menolak ajakan nongkrong karena memilih menyimpan uang. Bukan karena merasa pelit, tetapi karena untuk pertama kalinya gue menyadari bahwa masa depan membutuhkan persiapan, bukan sekadar harapan.
Suatu malam setelah makan malam, Ibu duduk di teras sambil membersihkan daun-daun kering yang jatuh dari pot bunga.
"Badrun bantu, Bu."
"Duduk aja."
Gue tetap mengambil sapu lidi.
Kami bekerja tanpa banyak bicara.