Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #62

Rumah yang Akhirnya Menjadi Tujuan #Final Chapter

Ada satu hal yang baru benar-benar gue pahami ketika perjalanan ini hampir selesai. Selama bertahun-tahun, gue mengira rumah adalah tempat seseorang dilahirkan, dibesarkan, lalu pulang setiap malam. Ternyata rumah tidak sesederhana itu. Rumah adalah tempat di mana seseorang diterima apa adanya, tempat kita belajar meminta maaf, belajar memaafkan, belajar memahami bahwa cinta tidak selalu berbentuk kata-kata. Dan yang paling penting, rumah adalah tempat yang mengajarkan bahwa setiap langkah besar dalam hidup selalu dimulai dari restu orang-orang yang lebih dulu mencintai kita.

Musim terus berganti tanpa pernah meminta izin kepada siapa pun. Jakarta tetap menjadi kota yang sibuk. Halte-halte TransJakarta masih dipenuhi orang yang mengejar jam masuk kerja setiap pagi. Warteg di dekat kantor masih menyajikan menu yang berganti setiap hari, tetapi selalu terasa akrab. Pedagang kopi sachet di depan minimarket masih mengenali pelanggan-pelanggan tetapnya. Sementara suara azan yang bergema dari masjid-masjid kecil di antara padatnya permukiman masih menjadi jeda yang mengingatkan orang-orang bahwa hidup tidak hanya tentang mengejar waktu.

Begitu pula hidup kami.

Tidak ada lagi langkah yang dipercepat. Tidak ada lagi keinginan untuk segera sampai.

Semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

Hubungan gue dan Kinan tidak berubah menjadi kisah yang sempurna. Kami masih sesekali berbeda pendapat. Masih ada hari-hari ketika pekerjaan membuat salah satu dari kami lelah dan sulit diajak berbicara. Masih ada kekhawatiran tentang masa depan, tentang pekerjaan, tentang tanggung jawab yang semakin besar. Namun kami sudah tidak lagi melihat perbedaan sebagai ancaman. Kami mulai belajar melihatnya sebagai bagian dari perjalanan dua orang yang dibesarkan oleh keluarga yang berbeda.

Di rumah, Ibu juga tidak pernah lagi menanyakan hubungan kami setiap hari. Bukan karena beliau tidak peduli, melainkan karena beliau mulai percaya bahwa ada beberapa perjalanan yang memang harus dijalani sendiri oleh anaknya. Sesekali beliau hanya bertanya apakah pekerjaan baik-baik saja, apakah badan sehat, atau apakah gue sudah sempat makan siang. Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu terdengar biasa, tetapi sekarang gue tahu bahwa itulah bahasa cinta yang selama ini beliau gunakan.

Suatu sore, setelah membantu beliau menyiram tanaman di depan rumah, kami duduk di teras menikmati teh hangat. Matahari mulai turun perlahan, sementara anak-anak di ujung gang masih bermain bola dengan riuh. Seorang penjual roti keliling melewati jalan sempit sambil membunyikan klakson kecil yang suaranya sudah akrab sejak gue masih kecil.

"Ternyata waktu cepet ya," kata Ibu pelan.

"Iya, Bu."

"Dulu rasanya baru kemarin kamu berangkat sekolah."

Gue tersenyum.

"Padahal sekarang udah kerja."

Beliau ikut tersenyum.

"Lama-lama juga punya keluarga sendiri."

Kalimat itu tidak lagi membuat dada gue sesak seperti dulu.

Karena sekarang gue tidak mendengarnya sebagai tekanan.

Melainkan sebagai doa.

Gue menoleh kepada beliau.

"Bu."

"Hm?"

"Makasih."

Beliau terlihat heran.

"Buat apa?"

"Buat semuanya."

Beliau tertawa kecil sambil menggeleng.

"Ibu nggak ngapa-ngapain."

Justru karena itulah gue semakin yakin bahwa orang tua sering kali tidak sadar betapa besar pengaruh mereka terhadap kehidupan anak-anaknya.

Mereka merasa hanya menjalani kewajiban.

Lihat selengkapnya