11 September 2024 : Sebuah Pengakuan, Jangan Beritahu Mertuamu ,Ya
Aku berbohong kepada kedua orang tuaku. Mereka mengira aku mendaftarkan diri untuk mengikuti CPNS, tetapi aku tidak sempat. Selain itu, aku juga belum siap mengemban tugas yang begitu penting. Aku sedang berada di tahap tidak mau melakukan apa pun karena aku tidak merasakan apa pun. Aku senang jika orang-orang senang diberi perhatian olehku, tetapi sepertinya tidak ada yang senang akan perhatianku. Aku juga tidak yakin apa yang orang-orang mau. Yang jelas, aku kehabisan energi untuk mengelak bahwa semuanya memang punya caranya sendiri; untuk membenci, menerima, ataupun mencintai, semuanya mempunyai cara mereka sendiri.
Lalu, apa yang aku inginkan? Aku ingin setidaknya diriku sendiri menginginkan diriku. Ketika aku meraih banyak hal, ternyata itu semua tidak tiba-tiba membuatku terlihat. Aku tetap tidak terlihat. Hal yang membuatku terlihat justru semua yang tidak bisa aku lakukan—seperti bekerja kantoran, memasak, hidup dalam keteraturan, mengendarai motor, dan satu lagi: tidak punya pasangan. Meski begitu, aku yakin kau pun sudah Tuhan ciptakan untuk hidup bersamaku, tetapi entah kenapa seiring berjalannya waktu hatiku tetap beku.
Ini memang perdebatan antara aku dan diriku yang lain. Aku tahu jika pikiran buruk hanya akan membuat situasi memburuk. Kepada orang lain, padamu, dan kepada Tuhan, aku bisa jamin aku tidak pernah bisa berpikiran buruk atau menyalahkan keadaan pada orang yang tidak seharusnya. Namun, padaku… semua kesalahan aku limpahkan pada diriku sendiri. Seperti: kenapa terlalu penurut? Kenapa terlalu terbuka? Kenapa terlalu mencintai? Kenapa terlalu berharap? Kenapa terlalu bersedih? Kenapa bilang ya dan kenapa bilang tidak? Sungguh, hari ini aku ingin menangis, tetapi air mata itu tidak kunjung hadir. Semua hal yang kukeluhkan ini berlalu begitu saja seperti aku sedang melamun.
Mungkin aku merasa bersalah pada diriku sendiri. Aku merasa terlindungi sekaligus dibatasi. Memang benar tidak ada hal yang benar-benar baik, begitu pula sebaliknya, tidak ada hal yang benar-benar buruk. Suatu hari kita tidak akan punya pilihan selain berteman dengan orang yang tidak kita sukai, suatu hari kita juga harus kehilangan orang yang benar-benar kita cintai. Selalu ada bayarannya. Dan aku tidak mau berutang apa pun pada diriku dan sekitarku, jadi aku menekan diriku untuk merasa cukup dalam segala hal. Aku tidak boleh egois. Sulit sekali untuk menekan diriku bahwa hanya ada aku saja itu sudah cukup. Aku tetap membutuhkan hal lain.
Cukup tentang diriku, bagaimana kabarmu hari ini? Apakah bulan ini juga membuatmu tidak bersemangat? Jika ya, maka kita berjodoh. Bulan ini aku semakin yakin jika aku butuh banyak uang untuk menemui psikolog. Tenang saja, aku akan bersamamu jika aku sudah sembuh, atau mungkin rutin mendapatkan perawatan. Memang aku sakit? Menurutku, ya. Sepertinya aku membutuhkannya. Aku banyak menyimpan barang-barang yang memiliki kenangan padahal itu hanya hal biasa. Katakanlah kau memberiku permen—calon suamiku memberiku permen! Maka permen itu tidak akan kumakan. Aku akan menyimpannya karena permenmu terlalu berharga untuk dimakan. Jika aku memakan permennya pun, aku pasti akan menyimpan bungkusnya. Aku memiliki banyak kenangan indah dan dugaan yang menyenangkan terkait hal-hal remeh seperti ini. Bayangkan jika ada orang yang memberiku sesuatu lebih dari 100 orang, maka kamarku akan dipenuhi oleh 100 barang.
Awalnya aku tidak menyadarinya. Akhir-akhir ini aku menyadari sesuatu, ternyata kondisiku separah itu. Kamarku selalu berantakan dan aku tak masalah akan hal itu. Aku tidak mandi dan tidak makan. Makan membuatku merasa gemuk, sedangkan mandi kuanggap hal yang sangat sia-sia dalam hidup, sebab seberapa banyak pun aku mandi, wajah dan kulitku tetap tidak cantik.
Kau pasti terkejut membaca suratku kali ini. Seperti, “Apa yang terjadi padamu? Apa yang terjadi pada calon istriku yang paling ceria itu?” Yah, begini adanya. Maaf kau harus bersamaku selamanya. Aku yakin jika ada pembaca buku ini selain kau—dan dia seorang dokter atau mahasiswa psikologi—mungkin dia akan menjadikanku sebagai objek penelitian. Aku tidak keberatan jika hasil kewarasanku mengenaskan. Setidaknya mereka akan berhasil menemukan cara untuk menyembuhkan orang-orang sepertiku di masa depan. Dan tidak ada lagi orang-orang sepertiku. Memang orang sepertiku tidak pernah ada. Terlalu langka jika ada. Terlalu tidak nyata jika memang ada. Seperti semua keadaanku ini memang mengada-ngada. Selalu begitu.
23 September 2024 : Sebuah Kejujuran, Sebenarnya Kau Tidak Nyata
Hari ini aku tidak melakukan apa pun. Entahlah, September di tahun ini begitu melelahkan. Aku mulai kesulitan bertahan. Aku sepertinya tidak akan bisa menikah. Menikah sepertinya hal yang buruk bagiku. Mungkin kau akan bertanya, “Apa yang terjadi? Sebelumnya kau begitu bersemangat tentang pertemuan kita, apa yang terjadi?”
Aku juga tidak begitu yakin, hanya saja aku merasa begitu sia-sia. Aku mulai merasa semakin lama aku hidup, semakin dingin saja rasanya. Kemampuanku untuk menghangatkan diri seperti hilang begitu saja. Jika kita menikah, aku akan sangat merepotkan karena bisa saja aku menjadi begitu tidak berperasaan padamu. Dan ketika itu terjadi, aku tahu itu akan menyakitkan. Ketika aku memiliki keturunan pun, aku tidak yakin bisa menjadi ibu yang baik. Aku takut aku iri pada anakku sendiri, sehingga aku memaksakan apa yang ingin aku raih pada anak-anakku nanti. Aku tidak mau itu terjadi. Aku ingin mereka hidup dengan bahagia dan penuh kehangatan. Mungkin jika aku menikah di umur awal 20-an, aku tetap akan begitu hangat. Sekarang umurku 25 tahun, dan aku sudah merasa beku terhadap diriku sendiri.
Seperti tidak apa-apa jika aku hidup begini saja. Tidak apa-apa jika memang tidak ada yang menyukaiku. Tidak apa-apa jika aku memang tidak memiliki pekerjaan. Tidak apa-apa jika memang akhirnya aku hanya hidup sebagai pemain tambahan. Calon istrimu ini memiliki sisi gelap yang berat. Aku yakin kau sangat sanggup hidup denganku, aku hanya tidak sanggup melihatmu kesulitan. Aku tidak bisa bayangkan jika saat hendak tidur kau harus melihatku menangis, lalu tiba-tiba berteriak tanpa menceritakan apa pun. Aku tidak ingin melampiasannya padamu. Kau begitu berharga; bersamaku hanya akan menahanmu dari kebahagiaanmu sendiri.
Ketika kau menikah denganku, kau akan mudah bosan. Lalu, kau akan bertemu seseorang yang begitu cantik dan penuh makna. Kau akan sadar jika aku bukanlah jodohmu. Kau akan menyadari bahwa kau hanya mengasihani diriku. Kau akan menyadari pada akhirnya aku hanya sebuah kesalahan yang tidak menyenangkan. Ketika kau membaca ini, mungkin kau akan marah seperti, “Apa maksudmu?”
Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya… hanya sulit menerima diriku. Aku terbiasa jika ingin diterima, aku harus bekerja keras. Sekarang aku kelelahan hingga aku tidak mau apa-apa lagi. Aku tidak keberatan jika tidak diterima, namun akhirnya aku… aku tidak tahu harus berbuat apa lagi agar aku merasa lebih baik.
Masalahnya, aku tidak tahu kenapa aku merasa begitu kesal hari ini. Apakah aku terlalu menekan diriku? Atau aku merasa aku begitu terlambat jika ingin meraih sesuatu? Aku tahu Tuhan telah menciptakanku sesempurna mungkin, tetapi aku tidak bisa bohong jika benar-benar sulit untuk berhenti merasa begitu mengerikan.
Hari ini semuanya baik-baik saja, tetapi aku merasa mengerikan. Ibuku begitu hangat, ayahku juga tidak menuntut apa-apa hari ini. Semuanya baik-baik saja. Aku tidak menemukan alasan kenapa aku harus menangis karena merasa mengerikan hari ini. Semuanya benar-benar baik-baik saja, tetapi aku merasa mengerikan. Apa yang terjadi padaku?
Lihat? Aku begitu membingungkan, bukan? Aku senang memikirkan kita suatu hari menghabiskan waktu bersama. Aku begitu ingin hidup di rumah sederhana namun penuh cinta, tetapi aku juga senang jika pada akhirnya kita tidak bertemu. Artinya, Tuhan telah mempertemukanmu dengan seseorang yang jauh lebih baik dibanding aku. Dan aku tidak keberatan, karena Tuhan telah menghentikanku untuk menyakitimu. Mengharapkanmu adalah satu-satunya hal yang aku anggap egois dalam hidupku, tetapi tidak akan menyakitimu, karena pada akhirnya aku tidak akan memilikimu. Aku akan melindungimu dari diriku. Kau tenang saja.
Hal paling sulit yang aku lakukan adalah jujur jika aku sebenarnya tidak baik-baik saja. Saat kita bersama, aku ingin aku lebih jujur pada diriku sendiri tanpa menyakitimu, tanpa menyalahkanmu, dan tanpa membandingkan hidupmu dengan hidupku. Aku tidak mau jadi orang yang seperti itu. Ini ujianku, kenapa aku harus tidak adil padamu? Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus menyadarkan diriku tentang apa yang terjadi.
Aku menyadari begitu banyak waktu yang terbuang demi aku merasa diterima oleh sekitarku. Sekitarku sekarang menerimaku. Aku yakin banyak kesempatan di luar sana yang menanti diriku, tetapi aku tidak mau meninggalkan sekitarku. Jika aku pergi, siapa yang akan memberi perhatian pada mereka? Sekitarku selalu begitu menahan diri, aku tahu mereka begitu menahan diri, jadi aku menahan diri lebih kuat. Ketika aku harusnya melangkah lebih maju, aku begitu kelelahan. Seperti di mana pun aku berada, semuanya akan sama saja. Tidak ada yang berubah.