6 November 2024: Jika Kau Melihatku Sekarang, Mungkin Aku Terlihat Menyedihkan
Aku sekarang di kafe sendirian, memakan kwetiau pedas dan serabi keju sambil mengetik sesuatu untuk buku ini. Sebenarnya aku sedang tidak ingin melakukan apa pun. Aku hanya bingung. Aku sudah terbiasa diabaikan, tetapi semakin kita tahu batas pengabaian itu, semakin aku tidak terbiasa terhadap situasi ini. Apakah aku memang begitu berbeda? Apakah aku memang terlalu emosional sehingga aku merasa tidak cocok dalam segala hal? Aku takut sisiku yang seperti ini akan merepotkanmu. Pasti aku akan selalu merepotkanmu nanti. Terima kasih sudah mau menikah denganku, ya.
Sering kali orang melihatku begitu optimis, padahal tidak begitu. Aku orang yang penuh ketakutan, hingga aku tidak mengerti mengapa orang-orang begitu ingin mendaki gunung. Menurutku itu melelahkan, dan jika penghuni gunung itu tidak suka pada kita, apa yang akan kita lakukan? Aku begitu percaya tiap tempat memiliki hal-hal yang tak kasat mata. Aku sangat percaya itu sehingga aku selalu takut untuk pergi ke mana pun. Aku merasa aman di kamarku sendiri. Jika pergi bersamamu mungkin aku akan mau, tetapi untuk pergi sendiri atau ramai-ramai bersama yang lain, entahlah. Meskipun ramai, aku selalu merasa sendiri.
Akhir-akhir ini aku sering menyadari bahwa mereka mengajakku pergi hanya karena tidak punya pilihan lain tetapi tetap ingin ditemani. Ya, aku hanyalah pilihan terakhir. Apakah kau menikah denganku juga karena tidak punya pilihan lain? Jika begitu, maka katakanlah. Jika kau ingin pergi, aku akan membiarkanmu pergi. Hal yang membuatku senang biasanya akan selalu hilang, selalu begitu, aku juga tidak terlalu mengerti. Jika diriku sendiri membuatku senang, apakah aku juga akan hilang? Aku juga tidak tahu. Aku belum pernah mencobanya meski ingin.
Aku mengecek diriku sendiri tentang siapa aku di kehidupanku yang dulu. Ini tes gratis dan tersedia secara daring (*online*), tetapi entahlah, katanya aku tinggal di Greenland sebagai penulis dan musisi. Ada juga yang bilang bahwa aku tinggal di pelataran Mesir. Entahlah, aku hanya sedang tidak ada kegiatan, jadi aku mencari tahu.
Aku juga sedang menulis novel akhir-akhir ini. Penasaran tentang apa yang kutulis? Hmm, aku juga belum yakin, tetapi jika nanti lolos, aku pasti akan bercerita padamu. Bisakah kau doakan aku supaya tidak menyerah? Supaya menjadi diriku yang kuat lagi, atau supaya hatiku lebih beku lagi? Aku takut jika aku begitu impulsif dan memutuskan untuk tidur selamanya. Jika aku tidak bertemu dirimu, maka bagaimana dengan cita-citaku yang ingin menjadi nenek yang keren itu? Aku ingin menjadi nenek yang keren bersama kakek yang keren juga.
Berbicara soal menikah, banyak temanku yang menyesal karena menikah. Hmm, apakah kau akan menyesal juga jika menikah denganku nanti? Aku takut jika aku begitu mengecewakan. Entah kenapa mereka menyesal, mereka menyarankanku untuk memiliki tanah dan membeli rumah terlebih dahulu. Ketika kita menikah, kau ingin aku menjadi pasangan yang seperti apa? Yang suka cemburu? Atau dingin dan tidak peduli, tetapi hangat hanya kepadamu saja?
Entahlah, jika aku jatuh cinta padamu, maka apa pun yang kau lakukan dan yang kau katakan pasti benar di mataku. Selama itu tidak menyakiti dirimu dan membuatmu bahagia, aku pasti ikut senang. Selamat, kau menikahi orang yang bodoh secara emosional. Aku bisa membaca banyak hal, mengetahui banyak hal, menonton banyak hal, mendengarkan banyak hal, dan aku bisa berbicara apa pun. Jika aku bersamamu lalu aku diam, artinya kupu-kupu dalam hatiku tidak bisa diam. Kau pasti melihatku yang tiba-tiba tersenyum dan menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Aku harap kau tidak mendengarnya.
Aku memang begitu, selalu terlalu impulsif terhadap apa pun yang kusukai. Seperti jika kau suka warna merah muda, maka aku akan memakai baju warna merah muda meski aku tidak menyukainya. Namun, jika aku melihat lewat matamu bahwa kau sesenang itu, maka aku akan melakukannya. Jika kau begitu, artinya kau suka padaku, kan?
Hal yang paling kubenci adalah mengetahui tentangmu lewat orang lain. Jadi, aku akan mengingatkanmu lagi: jika bersamaku kau tidak mendapatkan kebahagiaanmu lagi, maka katakanlah. Jangan diam-diam, aku tidak suka. Hal yang kubenci pun bisa kulakukan untukmu, apalagi yang kau suka, aku pasti bisa melakukannya meski aku akan tersakiti, asal kau bahagia. Aku akan berusaha semampuku membuatmu bahagia. Lihat, kan? Belum bertemu denganmu saja aku sudah sesetia ini.
18 November 2024 : Mungkin Mimisan Itu Pertanda Kau Butuh Tidur?
Hari ini Tuhan memberitahuku lagi jika ini memang saatnya aku pergi. Aku selalu mengejar, menunggu hal yang tidak begitu menginginkanku, dan menjauhi hal-hal yang sudah Tuhan beri. Entahlah, kadang aku juga hanya ingin sendiri. Hari ini aku mimisan lagi. Setelah berminggu-minggu aku tidak mimisan, ternyata aku mimisan lagi. Tahun terakhir ini aku seperti tahu batasku akan sesuatu. Mungkin aku sudah jauh dari jalan Tuhan, makanya aku begini.
Kemarin aku berbicara dengan ayahku. Cukup mengejutkan, ternyata kita hanya perlu membuka pembicaraan lalu semuanya baik-baik saja. Hari ini juga aku menemukan sesuatu yang sedikit mengganggu, seperti kata “cukup”. Harus hati-hati dengan kata “cukup”. Jika hal itu negatif, maka kata “cukup” merupakan hal positif. Jika cukup untuk hal yang positif, maka itu yang negatif. Bingung, bukan? Ya, benar. Sangat bingung. Seperti aku tidak tahu cukupku ini ke arah yang positif atau yang negatif. Hanya saja, akhir-akhir ini aku sering merasa kehabisan hal yang membuatku senang.
Mungkin akhirnya aku berubah. Aku selalu mengajak teman-temanku—biasanya aku tidak begini—tetapi tiba-tiba… oh iya, mereka tidak pernah mengajakku. Aku bertemu teman-teman baru yang sangat hangat padaku. Aku bisa merasakan dia sedih jika aku sedih. Mengapa aku terlalu buta untuk menyadari bahwa di luar sana banyak hal yang begitu indah untuk ditemui? Aku selalu takut menonjolkan diri sebab aku takut orang di sekitarku merasa kecil hati, tetapi sebenarnya yang bagus itu ialah mereka akan bangga padamu, bagaimanapun dirimu.
Lucunya, akhir-akhir ini aku merasa seperti bakteri; semuanya seperti menjaga jarak. Apa pun yang aku lakukan, mereka seperti tertahan menyambutku, lalu berkata, “Tidak, aku tidak suka,” atau, “Aku tidak mau.” Sepertinya aku harus melakukan hal yang sama seperti berkata tidak mau dan tidak suka. Aku kelelahan untuk menjadi udara yang harus selalu menghampiri. Kali ini aku akan berdiam diri saja. Tidak akan memulai apa pun, tidak akan mengakhiri apa pun. Aku lelah sekali. Kau pasti terkejut lagi, kan? Perlahan calon istrimu ini berubah menjadi pribadi yang dingin. Kau tenang saja, aku akan tetap hangat kepadamu. Bagaimanapun.
22 November 2024 : Di Tempat yang Mungkin Kita Bisa Bertemu
Pukul 15.07. Di luar hujan deras. Aku memesan kopi dingin dan semangkuk bakmi; rasanya pedas dan dingin. Lalu tiba-tiba aku menyadari bahwa selama ini definisiku sering kali membuat orang-orang berpikir bahwa aku terlalu lama memfiksikan diri. Definisiku terhadap banyak hal selalu berbeda dengan orang kebanyakan. Katakanlah aku belum menikah, lalu definisiku dinilai terlalu fiksi oleh orang-orang yang sudah menikah. Aku tak keberatan, hanya saja aku jadi berpikir, apakah definisi-definisiku selama ini juga begitu? Orang-orang melihatku seperti tuan putri yang hidup semaunya sendiri. Padahal, mengenai hidup pun aku punya pendapat sendiri. Aku punya prinsip sendiri.
Ternyata, bersama prinsipku, aku selalu hidup sendirian. Seperti bagaimana aku sebagai seorang anak hidup, bagaimana seorang ibu seharusnya mengasihi, bagaimana ayah memiliki cara sendiri dalam menyayangi, bagaimana sahabat siap saling melindungi, dan keluarga harus saling mendampingi. Sekarang aku sadar mengapa hidupku begitu sendirian; karena memang hanya aku sendiri yang berpikir begitu. Selebihnya, aku akan selalu berhati-hati, tanpa niat memiliki, sebab semuanya memang bukan milik sendiri.
Sepertinya aku harus menjelaskan segala prinsipku di sini, agar kau saat hidup bersamaku nanti bisa menyanggahku dengan prinsipku sendiri. Jika aku bercanda kelewatan, jika aku menciptakan kehebohan yang kau sendiri kewalahan sebagai pasanganku nanti, aku memberimu buku ini agar kau tahu cara pikirku yang kadang tidak terlalu manusiawi. Aku benar-benar cemas jika suatu hari nanti aku terbangun sebagai orang yang tidak kau kenali. Aku cemas jika suatu hari nanti aku mati hati.