Bagian Ketiga
Tentang Dunia yang Membuatku Ingin Menghilang
“Aku terlalu lama hidup sambil takut dilihat.”
Apa kabar hari ini? Semoga kau selalu mengalami hari yang hangat. Di bagian ini mungkin kau akan melihat bagaimana aku berusaha menarik diriku dari hal-hal gelap. Sebelum itu, aku harus menceritakan kegelapanku agar kau tahu bahwa terangku tak semudah itu aku buat.
Sebagai calon pasangan hidupku, tentu kau harus tahu mengapa aku begitu tidak ingin dilihat. Mengapa aku tidak ingin ditemukan? Mengapa aku merasa aman dalam segala kesulitan? Aku rasa kamu harus tahu itu, meski saat bertemu denganmu nanti, aku sudah bisa menyambut seluruh semesta dengan segala kehangatan yang aku punya.
Kamu tahu? Hal yang akan kutuliskan di bagian ini membuatku sadar bahwa orang yang terlihat paling baik-baik saja adalah orang yang paling kesulitan bertahan. Orang yang paling mudah tertawa adalah orang yang paling sulit bernapas. Orang yang terlihat menenangkan adalah orang yang paling tidak mau merepotkan. Bersamamu, aku tidak akan menyembunyikannya lagi. Bersamamu nanti, aku akan makin menghargai diri agar terlihat oleh dunia bahwa aku ada. Meski tidak membuat dunia berubah menjadi baik-baik saja, aku akan tetap ada dan ditemukan oleh orang-orang sepertiku.
BEBERAPA KILAS BALIK YANG SEPERTINYA PENTING AKU CERITAKAN
TAHUN 2014
Cerita ini sudah lama sekali. Aku bersekolah dan bertahan hidup dengan rasa percaya diri yang sangat minim; merasa seperti aku berbeda. Seperti ketika orang-orang suka matematika dan aku justru suka musik. Namun, saat itu aku suka pada seseorang—bukan jatuh cinta yang ingin memiliki, melainkan hanya senang saja melihatnya. Aku hingga hafal sepatunya. Setiap kali rombongan pria itu datang, aku hanya menundukkan pandangan atau kabur. Rasa ini cukup aku saja yang tahu.
Lalu aku mendengar kabar bahwa ia menyukai seseorang yang sangat cantik, pintar, dan penuh martabat. Perempuan yang kalau tertawa begitu lembut, suaranya merdu, dan jika memanggil pun tidak dengan berteriak melainkan dengan suara teduh. Ia selalu terlihat segar seperti habis mandi, disukai guru-guru, dan tentu saja populer. Lalu aku? Aku hanya manusia yang kebetulan ada saja di situ. Memakai kacamata, gigi berantakan, tidak cantik, tidak pintar, hanya suka film dan suka musik.
Ego calon istrimu memang sedikit aneh, aku akui.
Aku pernah berbohong kepada kedua orang tuaku perkara membeli gitar. Sebenarnya aku membelinya secara patungan bersama sahabatku karena kami sama-sama suka musik. Masalahnya, gitarnya harus disimpan di mana? Lalu muncullah keputusan: seminggu di rumahku dan seminggu di rumah sahabatku. Setiap kali orang tuaku bertanya milik siapa gitar itu, aku akan bilang, “Ini milik temanku.” Namun, orang tuaku sangat pintar. Akhirnya aku mengaku juga. Mereka sedikit menaikkan nada bicara mereka, tetapi karena aku salah, jadi aku mengaku saja. Lebih cepat, lebih baik.
Ini bagian yang paling bodoh. Aku bahkan merasa bodoh sekarang ketika memikirkannya. Kau tahu apa yang aku lakukan dengan gitar itu? Aku belajar memainkannya, tentu saja. Setiap kunci gitar yang aku pelajari selalu aku rayakan. Aku akan memberi tahu sahabatku dengan antusias saat aku berhasil memainkan kunci Bm.
Jika kau bertanya, “Kenapa harus gitar?” Karena wanita yang ia sukai tidak bisa memainkan gitar. Setidaknya ada satu hal yang aku bisa, sedangkan perempuan itu tidak bisa, bukan? Setelah dipikir-pikir, ternyata aku cukup cerdik dengan cara yang paling bodoh. Tenang saja, ini hanya kejadian pada masa-masa menuju remaja. Tidak usah khawatir, aku sudah tidak memiliki rasa apa-apa lagi padanya.
Kenapa? Oh, ini bagian yang paling membuatku terkejut. Tuhan memberi tahu warna dia yang sebenarnya setelah setahun berlalu.
TAHUN 2015
Aku memang selalu meliriknya sebentar. Tenang, tenang, jangan menatapku seperti itu. Kau calon suamiku, jadi aku rasa kau berhak tahu bagaimana Tuhan melindungiku.
Jadi, tibalah saat pria ini memiliki pacar. Mereka berdua berbicara di luar kelas. Kebetulan sekali kelas perempuan yang dia cintai—katanya—itu berada di sebelah kelas-ku. Kau tahu? Mereka mengobrol, dan perempuannya membelakangiku. Aku tidak tahu mereka sedang mengobrol di luar. Ketika aku keluar untuk membuang sampah, aku terkejut melihat mereka sedang mengobrol. Aku tidak menyangka mereka akan seterang-terangan ini. Kau tahu? Saat mereka mengobrol, mata pria itu justru menatapku! Sekitar sepuluh detik! Ia menatapku saat perempuan itu sedang menceritakan sesuatu kepadanya.
Kau mungkin heran dan bertanya, “Lalu apa masalahnya? Pria itu punya mata, kan? Wajar jika ia melihatmu!”
Masalahnya adalah, tatapan sepuluh detik itu aku anggap sebagai perilaku yang tidak menghargai pasangan. Mungkin masalahnya ada pada pola pikirku.
Pola pikirku adalah jika aku mengobrol dengan siapa pun—siapa pun itu—aku pasti berusaha fokus pada apa yang sedang ia bicarakan. Aku akan menatap orangnya, menatap matanya. Jadi, jika nanti kau menceritakan sesuatu padaku, aku akan fokus sepenuhnya padamu. Ini bukan sekadar janji, tetapi memang sudah seharusnya seperti itu.
Namun, aku juga harus berterima kasih kepada pria itu. Karenanya, aku jadi bisa menguasai kunci-kunci dasar gitar. Aku juga jadi menulis lagu tentang dia, tentang para sahabatku, dan tentang kisah cintaku. Intinya, aku bisa mengekspresikan perasaanku karena momen ini. Nah, kau sebagai calon suamiku, kau mau kuabadikan di bagian mana?
TAHUN 2016
Momen yang ingin membuatku menghilang adalah saat sekitarku mengatakan bahwa aku ‘jelek’. Kira-kira begini kalimatnya: “Kamu itu tidak cantik, jadi kamu harus berusaha keras. Kamu harus belajar dengan giat.” Entah apa yang dialami orang itu semasa hidupnya sehingga tega mengatakan hal seperti ini padaku. Aku berasumsi dia sedang marah pada sesuatu yang bukan aku, dan aku kebetulan ada saja di situ. Meski tanpa dia katakan pun aku sudah tahu; aku memang harus selalu berusaha lebih keras agar dia melihatku.