24 Oktober 2025 : Makhluk Mars Ini Sulit Melupakan Kenangannya Bersama Bumi
Ternyata melupakan itu adalah hal yang sulit. Jika pada akhirnya kita harus hidup dengan hal yang ingin kita lupakan, itu pun bukan perkara yang mudah. Ada banyak hal yang ingin kukatakan kepada teman-temanku—atau mungkin 'mantan' teman? Atau jangan-jangan hal indah seperti pertemanan yang aku maksud ini memang tidak pernah ada sejak awal?
Sekali saja aku ingin bertemu, hanya untuk mendengar apa yang mereka pikirkan terhadapku. Bagi mereka mungkin ini hanya membuang-buang waktu dan terlampau tidak penting, tetapi bagiku ini seperti antara hidup dan mati. Hidup bertahun-tahun dengan pemikiran bahwa pertemananku baik-baik saja, lalu tiba-tiba berakhir asing, adalah hal yang paling tidak aku inginkan. Sebab, aku seperti tiba-tiba ditampar oleh kenyataan bahwa hal yang kukira ada ternyata tidak pernah ada sejak awal.
Aku hanya ingin tahu apa masalahku hingga menjadi begini. Apakah aku terlampau menuntut segala hal, seperti waktu mereka yang harus selalu ada untukku? Waktu mereka ada ketika mereka memang longgar, tetapi ternyata kita tidak saling mengusahakan. Bagaimana caranya bulan bisa bertemu mentari di tengah-tengah waktu senja, di mana perpisahan dan pertemuan harus ada hanya untuk sekejap?
Aku benar-benar ingin bertanya, apa masalahnya? Apa masalahku? Ini benar-benar menghantui. Bagaimana jika selama ini caraku hidup memang memiliki banyak kesalahan? Ini benar-benar menghambat. Harusnya aku tidak bertanya-tanya dan menganggap ini sebagai angin lalu saja, tetapi jauh dalam diriku, aku mempertanyakannya setiap waktu. Segala pertanyaan itu ingin aku utarakan, tetapi jika saatnya kami bertemu, mungkin aku hanya akan diam dan menahan bulir-bulir air mata itu di antara kelopak mataku dengan tenang, meski hatiku miris.
Tersenyum sedikit untuk terlihat baik-baik saja, padahal jauh di dalam sana aku menggerutu: mengapa aku terus menahan diri untuk menjadi baik dan justru menyakiti diri sendiri? Entahlah, sebagian diriku ingin bertemu, dan sebagian diriku yang lain hanya ingin menjauhi kehidupan. Tidak ingin bertemu siapa pun, tidak ingin melakukan apa pun.
Lalu aku menyadari satu hal. Aku berlebihan. Berlebihan menemani, dan berlebihan ingin selalu ditemani. Tak pernah aku keberatan jika mereka tidak ada waktu, atau tidak ada satu pun waktu untuk bisa bertemu. Hanya saja, mengapa suasananya harus berubah begitu dingin? Apa yang telah aku lakukan? Apakah ini proses hidup yang memang mencakup sisi kedewasaan?
Namun, pada beberapa contoh hidupku dan manusia lainnya, kami tetap bisa menyenangkan meskipun dengan cara yang paling menyedihkan—seperti tidak tahu umur tetapi tetap merasa gila terhadap dunia. Bisa, kita bisa, kami bisa, aku dan dia bisa. Mengapa dengan mereka tidak bisa?
Di satu sisi, aku merasa pelajaran ini sangat berharga. Di satu sisi lain, aku tidak terima. Aku merasa begitu kasihan pada diriku sendiri. Kasihan hingga membuatku membeku dan dingin. Kasihan hingga kaku dan tidak beremosi.
Meski tidak beremosi, aku tahu apa itu kehangatan. Akhir-akhir ini aku merasakan banyak emosi yang tidak seharusnya. Segala bentuk emosi yang hangat justru aku sambut dengan dingin, dan segala bentuk emosi yang dingin malah aku jadikan teman. Sebuah anomali jika emosiku bisa bersambut sesuai dengan yang seharusnya. Sebuah hal yang tidak bisa kalian kenali jika aku tiba-tiba harus jujur sesuai dengan emosiku yang ala kadarnya. Bagaimanapun luar biasanya mentari untuk mandiri menyinari bumi, ia tetap butuh bulan untuk menerangi malamnya bumi.
26 Oktober 2025 : Seharusnya Makhluk Mars Ini Tidak Punya Hati
Aku tidak butuh manusia, tetapi aku juga hidup berdampingan dengan manusia. Sesederhana mengingat pesan, menitip barang, memikirkan kebaikan, hingga memberi pelayanan. Oh, kau sendirian. Ini mengesalkan sebab aku sempat menaruh harapan pada hal kecil saja, tetapi ternyata tidak begitu. Ini menggelikan karena aku bisa kesal hanya gara-gara makanan yang disajikan tidak hangat. Padahal aku yang meminta tolong. Aku hanya kesal; kesal karena berharap hari ini bisa berjalan sesempurna itu.
Kata maaf mungkin sering diucapkan secara implisit, tetapi hal ini membuatku kesal sekali. Seolah-olah mengucapkannya adalah sebuah kata terlarang, jadi aku tidak akan pernah mendapatkannya dari orang lain. Maka, aku akan meminta maaf kepada diriku sendiri karena telah hidup begitu mandiri dan hati-hati, sampai sempat merasa tak pantas mendapat semua perilaku baik hati. Ketika sedikit saja merasa pantas untuk berseri, selalu berakhir dengan sakit hati tanpa kejelasan.
Sesederhana menyapa atau meminjam sesuatu, aku luangkan penuh waktu. Namun, mereka yang katanya butuh, tiba-tiba hilang kabar dan tak berkata apa pun lagi. Aku tidak mau hidup begini. Jujur, ini melelahkan. Jujur, aku sudah menjadi orang baik hati bertahun-tahun, dan ternyata dengan segala pengetahuan ini, semuanya terasa melelahkan. Aku ingin pergi, sangat ingin pergi. Jika aku boleh jujur secara emosi, aku tidak mau apa-apa lagi. Hal yang paling membuatku merasa berarti pun ternyata tidak pernah ada. Hanya perasaanku sendiri.
Aku sangat ingin menghilang, benar-benar menghilang. Dunia ini mengerikan. Tuhan, aku harus bagaimana? Aku tidak kuat lagi. Aku tidak mau bercerita kepada siapa pun karena tahu orang-orang pasti mengira aku adalah orang yang tidak tahu diuntung. Namun ini benar, jika aku tidak ada, apakah aku akan dirindukan? Aku sudah melakukan banyak hal, tetapi aku seperti tidak ke mana-mana dan tidak menjadi apa pun. Aku sudah sangat berusaha untuk tenang dan tetap hidup, tetapi ini lebih seperti menahan diri di dalam peti, tetapi tidak bisa mati.
27 Oktober 2025 : Calon Istrimu Ini Memang Berlebihan, Aku Harap Kau Memiliki Kesabaran yang Lapang
Aku bermimpi lalu terbangun karena merasa mual. Bukan karena jijik, melainkan karena muak. Beberapa orang mungkin merasa keren karena menganut sistem bahwa 'diam adalah emas'. Namun kadang, diam dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan tanpa menjelaskan apa pun justru bisa menghancurkan seseorang. Tuhan saja menjelaskan bagaimana caranya agar kita sebagai manusia bisa disukai oleh-Nya, kan? Lalu mengapa manusia begitu merasa sangat indah berada di tingkat tertinggi jika berhasil diam dan tidak menjelaskan sesuatu?
Tentu aku juga harus ingat bahwa aku hanyalah manusia; atas dasar apa aku harus menuntut manusia lain harus bersikap semulia Tuhan, bukan? Mungkin aku kurang taat hingga menjadi begini. Aku memang tidak taat pada Tuhan. Aku selalu merasa buruk di hadapan Tuhan karena makhluk-Nya saja tidak terlalu menyukaiku, bagaimana mungkin aku bisa mengharapkan rasa suka dari Tuhan? Tentu saja pemikiran seperti ini tidak benar, karena pada akhirnya aku selalu ditemani oleh Tuhan. Dalam pelajaran apa pun, dalam pelarian apa pun, aku tahu Tuhan selalu menyertai langkahku. Namun, aku merasa tidak punya apa-apa untuk bisa merasa pantas disayangi Tuhan.
Pada malam-malam sunyi, aku selalu bertanya-tanya: apa salahku? Apa kurangku? Kalimat itu kemudian hadir dengan sendirinya di dalam kepala, seperti:
“Kau tidak perlu melakukan apa pun untuk Ku-cintai,” dan,
“Kau juga tidak perlu melakukan apa pun untuk mencintai-Ku.”
Lalu aku membalasnya dengan isak tangis yang tersentak, “Maafkan aku, Tuhan. Aku begitu ingin dilihat oleh sekitarku dan terus abai pada-Mu yang selalu ada sejak awal—sejak aku berusaha untuk dilihat oleh orang-orang yang ingin aku lihat. Aku merasa mual, Tuhan. Aku terbangun dan mual melihat dir diriku yang begitu menyedihkan.”
Dalam mimpi-mimpi tentang masa lalu yang kuanggap hangat itu, ternyata melalui sudut pandang orang ketiga, aku melihat diriku sendiri, Tuhan. Aku sangat kasihan padanya, aku ingin memeluknya, sungguh. Terima kasih, Tuhan, Kau sudah menemani diriku dan melindungiku dengan sisi hangat-Mu, membuatku berpikir bahwa kenangan-kenangan itu adalah momen-momen yang sangat kurayakan kejadiannya. Bantu aku, Tuhan, aku tidak mau berubah menjadi beku. Aku harus menjadi sosok yang sangat hangat ketika bertemu jodohku nanti.
23 November 2025 : Makhluk Mars Hangat yang Kutemui Hari Ini
Terakhir aku menulis, aku cemas akan menjadi beku. Namun hari ini, aku bertemu sebuah keajaiban. Aku bertemu orang yang sepertiku, dan itu aku temukan dalam diri orang yang baru saja aku kenal hari ini.
Aku baru saja menemui sahabatku di tengah kota. Dengan angin sejuk khas malam hari setelah hujan, dengan lampu-lampu kota yang terang namun sunyi sekaligus saling berisik, aku berniat pulang ke kosanku yang jaraknya sekitar 8 km. Aku memesan ojek online, dan yang menerima pesananku adalah seorang wanita cantik dengan warna kulit kuning langsat, rambutnya diikat sebahu, dan memakai jaket hijau ala ojek online.
Saat di jalan, dengan ramah aku menyapa, “Baru keluar, Kak?”
“Iya…” Jawabnya singkat, tetapi masih terdengar ramah. Aku bertanya seperti itu karena kakak ini masih terlihat segar dan wangi seperti habis mandi.