TERNYATA AKU PEMARAH YANG HEBAT
8 Agustus 2025 : Sebuah Gambaran Jika Suatu Hari Kau Membuatku Kesal
Anda hanya akan jadi “Anda” dalam setiap karyaku.
Anda seperti… terima kasih telah ada.
Anda seperti… tidak apa-apa jika kau tidak ada.
Ini sangat menggelikan ketika ternyata aku selalu menjadi “Anda”-mu bertahun-tahun.
Sedangkan aku selalu mengira “Anda” adalah “Kau”—manusia yang mulia,
yang keberadaannya merupakan pertemuan yang akan selamanya bahagia.
Biasanya aku tidak begini,
tetapi karena “Anda”, aku menjadi lebih waspada.
Ini menyedihkan. Bagaimana jika ada yang berniat meng-“engkau”-kan aku, lalu aku menjadi tinggi hati?
Ini pelajaranku. Semoga kau bahagia dengan pelajaranmu.
—Di hari ini aku kesal terhadap sesuatu. Oh, calon suamiku, kau harus tahu jika aku marah, perkataanku akan menjadi seperti ini
9 Agustus 2025 : Ketika Bulan Ingin Muncul di Siang Hari
Aku tidak mau menulis lagi. Ini sia-sia. Namun, hanya ini yang aku bisa saat aku benar-benar memahami jika aku butuh ruang untuk memakimu tanpa harus menemuimu.
Kau tidak punya aku lagi. Tidak ada yang benar-benar ada selain aku. Dulu aku khawatir, kini tidak lagi. Dulu akan kubiarkan dengan bangga, kini hal ini kubiarkan dengan lelah.
Memang aku yang kehilangan arah, tetapi ini bukan yang paling parah. Ada seseorang yang kehilangan manusia yang tidak keberatan tentang bagaimana cara dia hidup, cara dia mengejar mimpi, cara dia mengegoiskan diri, cara dia membenci, cara dia kagum, dan marah secara bersamaan kepada Tuhan.
Manusia ini akan selalu mendengar cerita paling tidak masuk akal tentangnya. Manusia ini akan selalu menerima suara-suara ragu dengan penuh kepercayaan bahwa orang ini suatu hari akan binasa dengan bahagia. Namun, orang ini selalu ingin menggapai bulan dengan menelan bumi.
Lalu, bumi ini sedih. Sedih karena tidak bisa menyambut hangat-hangat lain tanpa pamrih, merasakan apa yang pergi. Bumi berpikir hal yang harusnya pergi akan pergi, hanya masalah waktu. Baiknya kau simpan segala sendu.
Apakah kau terkejut aku menulis ini? Tenang, aku sedang berbicara kepada “Kau” yang lain. Nanti aku ceritakan jika kita sudah bertemu, ya. Aku sangat lelah sekali.
31 Agustus 2025 : Ternyata Mereka Benar
Selama ini aku hidup untuk membuktikan bahwa orang-orang di sekitar paling terdekatku memiliki pemikiran yang salah. Aku percaya jika kamu memang dikirim Tuhan untuk menemani. Namun, bertahun-tahun aku mengabdi, aku berusaha untuk membuktikan kalau sekitar terdekatku salah. Tetapi tidak, akhirnya tidak begitu. Akhirnya mereka benar, dan aku salah. Aku tidak mau menerima itu. Ini bukan akhir yang aku bayangkan.
Ini menggelikan, ini pelajaran.
16 September 2025 : Rasanya Menyesakkan, Tidak… Rasanya Sudah Tidak Apa-Apa
Apakah aku sebenarnya dendam? Seperti tidak ingin kau mengerti arti menghormati hati? Ini menyesakkan. Aku bermimpi tentang Anda. Ingin bicara, tetapi aku memilih pergi; aku tidak kuat untuk tidak memaki, jadi aku pergi—dalam mimpiku. Di dunia nyata kita belum bertemu lagi. Segala hal yang terasa sungkan ini membuatku mati hati.
Mengapa ini menjadi persoalan besar? Kau yang pergi, kau yang tak mau rugi. Aku tidak pernah dengan sengaja memiliki agenda, entah berbentuk materi atau sekadar pemerhati hati. Sejak awal pun prasangka baik ini terlalu tinggi. Aku selalu tak keberatan jika aku menjadi yang terakhir ditemui. Ini menjadi persoalan besar karena aku sadar bahwa aku begitu kasihan.
Untungnya kita bertemu. Akhir-akhir ini banyak berita yang tak masuk akal dan mengerikan. Aku tidak mau melakukan apa pun, hanya bangun dan tidur; terlihat seperti pecundang, tetapi memang demikian.
Banyak orang yang memaksa jiwanya pergi secara sengaja ataupun tidak sengaja. Aku tidak terima. Mengapa orang-orang yang tidak sabar bertemu Tuhan itu selalu memutuskan segalanya sendirian? Kenapa mereka tidak bertemu denganku dahulu? Aku pasti akan bersedia menjadi seperti hewan peliharaan yang mengikuti ke mana pun, yang akan selalu menyemangati sampai kapan pun. Kenapa orang-orang yang akhirnya bertemu Tuhan itu harus menyerah sendirian? Jika mereka bertemu denganku, aku ingin menemani mereka, mendengarkan mereka, dan membuktikan kepada mereka bahwa dunia yang melelahkan ini mari kita hadapi sama-sama.
Lalu, kita malah bertemu dengan orang yang sedikit tidak tahu diri. Lalu, kita malah menyayangi mereka melebihi sayang kita pada diri sendiri. Apakah ini pelajaran sabar yang sejati?