Sebelum Menjadi Rumahmu

Gisna Auliya
Chapter #8

8 : Membuatku Berani Terlihat

BAGIAN EMPAT

Orang-Orang yang Membuatku Berani Terlihat

“Ternyata ada tempat-tempat yang tidak membuatku merasa salah karena menjadi diriku sendiri.”


MENJELAJAHI SEKITAR UNTUK MENEMUKANMU


30 Desember 2025 : Aku Merasa Sangat Hebat

Hai, hari ini aku mulai membuka diri untuk mencarimu, calon suamiku. Akh, aku hebat, kan? Akhirnya aku berani melangkah meskipun aku tidak yakin. Orang yang kutemui hari ini adalah orang yang baik. Dia membuatku sadar bahwa tata krama itu berbeda dengan sekadar sambutan hangat. Apa yang aku dambakan selama ini hanyalah tata krama yang sudah seharusnya dilakukan sesama manusia.

 

22 Januari 2026 : Apakah Ini Kencan?

Hari ini aku mengusahakan pertemuan yang harusnya sudah aku lakukan sejak lama. Aku sempat mengulur-ngulur waktu sebab kejadian tahun lalu membuatku merasakan urgensi untuk melindungi diri dari sinar matahari. Tentu saja aku tidak menghilang begitu saja; aku jelaskan kepada pria ini bahwa aku tidak lupa akan ajakannya. Bukannya aku tidak mau, tetapi aku sedang kehabisan energi. Aku ingin bertemu saat aku memang merasa senang.

Salah satu resolusi terbaik yang kulakukan tahun ini adalah berani menjelaskan perasaanku. Aku hebat, kan, calon suamiku? Jadi, kelak kau tidak perlu menerka-nerka emosiku lagi. Perlahan-lahan, aku pasti akan mahir melakukannya.

Kembali ke cerita hari ini, aku bertemu dengan seseorang yang pernah kukenal bertahun-tahun lalu. Tatapannya selalu hangat, namun dulu aku masih tidak mengerti. Dulu bagiku, cinta dari orang asing itu terasa tidak masuk akal. Seluruh bentuk hubungan bagiku adalah transaksional; tidak ada yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Padahal sebenarnya ada, dan aku pernah merasakannya, tetapi dulu aku tidak tahu itu apa.


26 Januari 2026 : Ternyata Selama Ini Aku Hanya Menginginkan Hal yang Mudah

Aku bertemu lagi dengan pria itu—pria yang kuceritakan pada tanggal 22 Januari lalu. Aku sungguh menahan tangis. Bukan karena dia bersikap kurang ajar, melainkan karena rasanya ternyata sehangat itu ketika keberadaanku benar-benar dilihat oleh orang yang selama ini kuanggap sebatas 'kenalan' saja. Rasanya seperti tersadar, oh, harusnya memang seperti ini. Tata krama sesama manusia itu harusnya seperti ini.

Di pertemuan kali ini, kami sama-sama sempat terdiam karena mungkin kami sama-sama tipe orang yang lebih suka 'mendengarkan'. Jujur, sejak pertama kali bertemu dengannya hingga hari ini, aku selalu berucap terima kasih dan maaf. Lalu dia menaikkan alisnya sambil menatapku heran, kemudian berkata, “Kau sudah mengatakannya puluhan kali.”

Entahlah, ini semacam kebiasaan burukku. Kebiasaan seolah-olah jika tiba-tiba aku menghilang dari dunia, aku tidak memiliki utang apa pun dan kalian tidak menanggung kesalahan apa pun. Semua catatan hitam itu biarlah ada padaku.

 

12 Februari 2026 : Semakin Serius?

Ini pertemuan ketigaku dengan pria itu. Apakah dia yang selama ini Tuhan kirimkan untukku? Aku juga tidak tahu. Kami hanya memandang layar bioskop saja, lalu bercerita tentang hal-hal tidak penting. Seperti saat dia menuduhku secara bercanda bahwa aku ini NPD, lalu aku tertawa. Itu tuduhan yang sangat tidak masuk akal. Jika dia membaca tulisan ini dari awal, tidak ada satu pun bagian yang menunjukkan aku berusaha dengan cerdik untuk membuat orang-orang menyukaiku. Yang ada justru aku yang kelimpungan mencari arah, bagaimana caranya agar orang-orang yang seharusnya menyayangiku bisa melihatku dengan hangat.


1 Maret 2026 : Aku Sedikit Canggung, Jujur

Ini pertemuan keempat kami. Apakah ini yang namanya PDKT, seperti yang dikatakan orang-orang? Namun, tidak ada ungkapan perasaan apa pun dari mulutnya. Raut wajahnya berbeda hari ini, seperti sedang sangat canggung. Mungkin dia sedang mengalami hal buruk. Entahlah, ia tampak memikirkan banyak hal, lalu aku berinisiatif berceloteh panjang lebar agar bisa mencairkan suasana. Namun, pikirannya sedang tidak berada di sini.

Aku memilih untuk tidak bertanya. Bukan karena tidak mau, melainkan karena aku tahu terkadang seseorang tidak ingin terlihat sedang menyembunyikan sesuatu, dan aku menghargai ruang itu. Aku akan menunggunya hingga ia mau bercerita. Lagipula, sepertinya hal itulah yang selalu ia lakukan selama ini: menungguku. Apakah aku terlalu percaya diri? Oh tidak, apakah jangan-jangan aku ini benar-benar NPD? 

 

15 April 2026: Berita yang Membuatku Terkejut dengan Cara yang Paling Canggung

Hai, calon suamiku? Ingat pria yang kuceritakan kemarin? Sepertinya bukan dia orangnya. Hari ini aku menemukan sesuatu, seperti… ‘ciri-ciri orang yang sudah berpacaran’? Entahlah, intinya pertemuan kemarin mungkin menjadi pertemuan terakhir bagi kami. Pantas saja hari itu ia terlihat begitu gelisah.

Memang kita tidak pernah memulai hubungan apa pun, hanya saja mungkin ia selama ini hanya penasaran saja padaku. Apakah aku sedih karena kini ia bersama yang lain? Tentu tidak. Aku sungguh bahagia jika akhirnya dia menemukan orang yang tepat, dan orang itu memang bukan aku. Hanya saja, mungkin jika dia bersedia menunggu sedikit lebih lama lagi… aku tidak bisa berbohong bahwa kemungkinan untuk bersamanya itu ada. Aku, yang sedang rapuh ini, memilih menulis pesan kepada calon suamiku sendiri; berusaha untuk mengabdi pada diri sendiri, dan berusaha menerima orang-orang yang memang mau menerimaku. Jika saja ia menunggu sedikit lagi, mungkin aku akan jatuh hati.

Untungnya, kedekatan kami hanya bertahan selama empat pertemuan. Dia pria yang baik, tetapi memang bukan untukku.

Lihat selengkapnya