29 Mei 2026 : Ucapan Mertuamu
Seseorang yang sangat dekat denganku berkata, “Mulailah fokus pada hidupmu. Jika kau ingin bekerja di bidang perkantoran, maka fokuslah di sana. Mulai kurangi hobimu itu…”
Aku mengangguk mengiyakan dengan senyum hambar. Tak berani aku menjelaskan apa yang ada di dalam pikiranku, jadi aku jelaskan padamu saja. Jika suatu hari nanti kau juga berharap aku berhenti dari hobi menggambarku, setidaknya kau harus tahu mengapa aku bisa sekeras kepala ini untuk terus menjalani hobiku.
Sejujurnya, aku sangat suka hal-hal yang berhubungan dengan seni—baik itu musik, film, gambar, menulis, dan sejenisnya. Namun, lingkunganku sedikit kaku. Ketertarikan yang seperti ini dinilai tidak terlalu keren. Orang-orang yang pasti disukai dan populer di sekitarku, selain yang berwajah cantik dan tampan, pasti mereka yang mahir matematika, fisika, dan kimia. Seseorang yang menyukai hal-hal pasti selalu lebih disukai oleh banyak orang.
Aku juga pernah berusaha untuk disukai; aku belajar keras agar bisa menguasai hal-hal yang tidak kusukai itu. Namun, ketika aku payah dalam hal tersebut, aku dinilai malas—tanpa mereka tahu seberapa besarnya aku berjuang untuk menguasainya. Sementara itu, sedikit saja berbakat dalam hal yang tidak biasa ini justru dinilai tidak terlalu taat kepada Tuhan.
Bertahun-tahun aku marah kepada Tuhan karena aku lebih bisa menulis cerita dan membuat lagu dibandingkan menyelesaikan rumus-rumus fisika. Secara logika hal itu tidak masuk akal, karena aku belajar fisika lebih dari enam jam, sedangkan untuk musik dan tulisan? Aku tidak pernah mempelajarinya secara khusus. Tuhan memang suka bermain-main.
Kesalnya bukan main saat aku menyadari ternyata aku memang tidak diberi keahlian lebih dalam kimia, fisika, dan matematika. Kesal karena orang-orang hanya melihat nilaiku yang kurang dari lima. Kesal karena seberapa kerasnya aku belajar, aku hanya bisa mendapatkan nilai empat.
Oh, aku melakukan apa pun demi bisa diterima di sekitarku. Hanya saja, mungkin sekitarku memang tidak terlalu menyukaiku. Bahkan dulu, aku juga tidak suka diriku sendiri. Aku sempat merasa berdosa karena memiliki bakat-bakat yang dianggap bisa menyalahi aturan Tuhan. Rasanya seperti, kenapa Tuhan begitu menyusahkanku?
Namun, ketika aku mulai menerima bakat-bakat ini sebagai hobiku, orang-orang justru mulai bertanya padaku:
“Sejak kapan kau mulai menulis?”
“Sejak kapan kau mulai menggambar?”
Dan jawabanku adalah… aku tidak tahu.
Tanpa kusadari, bakat-bakat ini selalu ada padaku sedari dulu. Mulai dari saat aku belum sadar bakat ini ada, hingga saat aku tidak mau mengakui bahwa bakat-bakat ini menetap padaku. Aku pernah merasa berdosa karena memiliki kemampuan ini. Kau tidak tahu bagaimana rasanya hal itu—seperti kau tidak menginginkan sesuatu terjadi, tetapi hal itu tetap dipaksakan terjadi padamu.
Tetapi perasaan, keinginan, suara-suara, dan nada itu selalu hadir saat aku sedang sendiri; saat aku berpikir bagaimana caranya agar terlihat oleh orang yang tidak mau melihatku. Semua itu selalu tiba-tiba hadir. Tidak pernah aku rencanakan untuk membuat lagu tentang temanku, tentang sekitarku, atau tentang diriku sendiri.
Tahun ini, aku sedang belajar menerimaku. Menerima bakat-bakat ini dengan bijak tanpa sedikit pun menyekutukan Tuhan, karena bakat ini juga tercipta atas kehendak-Nya. Bakat ini unik; meskipun aku memilih berhenti tahun ini, tahun depan aku pasti akan memulainya lagi.
Aku tidak bisa mengelak jika sekitarku masih belum bisa menerima apa yang aku lakukan dengan bakat ini. Aku mengerti, aku menerima kenyataan itu, tetapi aku tidak akan pernah sudi menyesuaikan diri hanya demi diterima oleh mereka lagi. Rasanya seperti kau dipaksa berlari tanpa akhir. Hal-hal yang harus kugapai—yang bukan berdasarkan keinginanku sendiri ini—lama-kelamaan membuatku lelah dan malah memperparah malam-malam yang tiba-tiba datang itu.
Malam-malam ketika tiba-tiba ada suara,
tiba-tiba ada melodi,
tiba-tiba tangan ini menggambar dengan sangat cepat,
dan tiba-tiba dalam semalam, tulisanku sudah mencapai 70 lembar.
31 Mei 2026: Kau Tahu? Aku Selalu Menaruh Harapan Besar jika Kita Pasti Bersama Lagi Setelah Kehidupan Ini