Sebelum Menjadi Rumahmu

Gisna Auliya
Chapter #10

10 : Menyambut Mentari

BAGIAN LIMA

Menyambut Mentari dengan Tenang

“Aku tidak lagi terburu-buru ditemukan. Meskipun begitu, aku harus tetap terlihat agar orang-orang sepertiku bisa menemukanku.”


Ini tidak lagi berisi catatan harian. Tidak ada tanggal yang perlu kuingat. Tidak ada lagi hari yang harus kuhitung.

Setelah segala kehilangan, ketakutan, dan keraguan yang kulalui, aku ingin meninggalkan beberapa surat sebagai tanda terima kasih:

Untuk orang-orang yang hadir saat aku merasa kecil.

Untuk orang-orang yang tetap ada saat aku perlahan belajar mencintai diriku sendiri.

Untuk orang-orang yang mungkin tidak pernah tahu, bahwa mereka pernah menjadi rumah bagi seseorang yang hampir menyerah.


Untuk Orang yang Selalu Menyambut Sakura dengan Antusias

Hai, manusia yang selalu menyukai Sakura. Aku harap kau tidak pernah bosan untuk menjadi temanku yang paling dekat. Oh, kita memang sama-sama lelah terhadap apa yang terjadi di muka bumi ini, tetapi kita selalu memiliki satu sama lain untuk menertawakan keadaan kita yang terlihat menyedihkan—dengan cara yang paling sombong.

Aku selalu sungkan untuk ‘menyombongkan’ diri, tetapi bersamamu, aku bisa menerima sisi manusiaku yang gelap itu. Terima kasih juga sudah membuatku menyadari bahwa aku memiliki banyak hal yang harus diselidiki dari diriku; seperti caraku melempar barang, caraku memperlakukan orang, caraku terus menerima yang kadang terlalu berlebihan, dan caraku mencintai yang terkadang membuatmu kesal setengah mati.

Aku ingin kau tahu betapa aku bersyukur bertemu denganmu di kehidupanku ini. Kau seperti jawaban yang hadir untuk segala kecemasan diriku dalam menjalani hidup. Semua orang harus tahu kalau kau adalah orang pertama yang sering memarahiku, tetapi tidak pernah meninggalkanku dengan jawaban yang tak pernah aku tahu. Terima kasih sudah menemaniku di saat-saat aku merasa seperti debu.

Aku harap kau selalu ditemani oleh orang-orang yang selalu membuatmu bahagia. Semoga salah satu dari orang-orang itu adalah aku, ya. Semoga suatu hari nanti kita berdua bisa bertemu Sakura dan manusia paling tenang itu, hehehe.

Ah, banyak sekali sejujurnya yang ingin aku sampaikan. Namun, terima kasih sudah menguatkan cahayaku yang mulai redup ini. Semoga seluruh mimpi kita dalam hidup ini cepat terwujud, ya. Mungkin tulisan ini terlihat sangat personal. Ya, memang. Tulisan ini memang sangat personal karena hadir untuk orang yang memang mau diriku senang, dan tak keberatan membantuku menang dalam keadaan apa pun. Ini bukan bentuk cinta yang penuh makna ingin memiliki dan bersama, melainkan bentuk cinta yang penuh rasa syukur.

Seperti: terima kasih telah bertemu aku, terima kasih telah memarahi aku, dan terima kasih telah menunjukkan bahwa aku begitu layak dirayakan dengan cara yang paling hangat. Aku tidak bisa membalas segala kebaikan yang kau berikan padaku, tetapi aku selalu punya Tuhan yang kuminta untuk terus menyertaimu. Oh, aku harap kau selalu bahagia.

Penuh cinta,

Dari seseorang yang selalu berbicara banyak hal mengenai mimpinya. 


Untuk Kakak yang Mertuanya Ada di Busan

Halo, Kak. Terima kasih banyak sudah ada di hidupku. Di saat aku mengalami lelah yang tidak berujung, Kakak selalu menyemangatiku untuk terus maju menjadi diriku yang paling baik.

Aku tidak pernah merasa dibela, tetapi bersama Akak, aku merasa menjadi adik yang paling beruntung. Biasanya, ketika bertemu seseorang yang aku sayangi, aku selalu menyiapkan sesuatu hal yang lucu. Namun bersama Akak, aku seperti kebahagiaan yang kehabisan ide. Soalnya Akak sudah punya segalanya. Aku harus memberi apa lagi selain lulus dengan nilai yang bagus, kan?

Intinya, aku senang bertemu Akak. Maaf akhir-akhir ini Adek sibuk. Banyak sekali tugas, tetapi bagaimanapun, aku selalu sayang Akak. Semoga Kakak selalu bahagia saat main bersamaku. Semoga… apa lagi, ya? Semoga kita selama-lamanya selalu bisa bertemu, di mana pun dan kapan pun. Meskipun kadang hujan dan pertemuannya selalu diundur, aku selalu ingat bahwa kita akan selalu bertemu lalu mendengarkan lagu Bruno Mars, BTS, dan Taylor Swift bersama.

Terima kasih banyak, Akak, karena tidak terkejut dengan kelakuan Adek yang tiba-tiba menangis karena hal-hal kecil. Sebetulnya, melewati hari-hari bersama Akak itu sering membuatku terharu atas pertemuan ini. Terima kasih sudah membuat Adek merasa hangat.

Penuh Cinta,

Dari manusia yang selalu mendukung Akak.


Untuk Seseorang yang Membuatku Selalu Merasa Beruntung Telah Bertemu Dengannya

Ada seorang guru yang begitu menginginkanku bahagia di muka bumi ini. Dia selalu memberiku semangat untuk terus melakukan hal yang kusukai. Dia begitu cantik, luar dan dalam. Aku tidak menyangka akan bertemu seseorang yang begitu antusias mengajari muridnya berbagai hal yang ia ketahui.

Saat aku merasa hadiahku tidak lagi diterima dengan mata yang antusias oleh orang-orang yang kusayangi, ibu guru ini hadir menerimanya dengan penuh sukacita. Dan hal itu membuatku merasa sangat hangat. Dulu aku takut sekali jika ia merasa risih dengan segala hadiahku. Namun sekarang, setiap tahunnya aku selalu merasa semangat untuk menyiapkan hadiah yang akan aku berikan kepada ibu guru ini. Hadiahnya memang tidak mahal, tetapi aku harap ia menyukainya. Menyiapkan hadiah kecil untuknya adalah misi yang paling menyenangkan bagiku.

Jika ia membaca tulisan ini, aku harap dia tahu betapa aku mensyukuri pertemuan ini. Aku harap dia tahu bahwa ia pernah kujadikan rumah saat aku hampir menyerah. Terima kasih telah memberiku kehangatan, meski ia mungkin tidak menyadarinya. Aku harap ia selalu bertemu dengan orang-orang baik—orang baik selalu mengenali orang baik. Aku harap aku selalu bisa memberinya kabar baik, seperti hal-hal yang bisa membuatnya senang, entah saat aku berhasil melakukan sesuatu atau saat aku berhasil melalui sesuatu.

Kami memang tidak sering bertemu. Kami juga tidak terlalu memiliki banyak waktu untuk saling bersua. Meskipun begitu, aku selalu berharap Tuhan selalu menyertainya di mana pun dan kapan pun; memberikan pelukan hangat-Nya di setiap langkahnya. Aku menyayangimu, sangat, Seonsaengnim.


Untuk Para Sahabatku yang Sudah Lebih dari Sepuluh Tahun Aku Mengenalnya

Halo, sudah lama sekali ya kita tidak berkumpul bersama-sama. Hmmm… aku bingung harus menulis apa. Berkali-kali aku ingin mengirim pesan kepada kalian, tetapi terkadang aku urungkan kembali. Entahlah, apakah aku terlalu takut? Tidak juga, aku mungkin hanya belum siap. Namun, mungkin beberapa saat lagi aku akan kembali. 

Aku tahu aku telah melewatkan banyak momen dalam hidup ini, tetapi… ya, tetapi… meskipun begitu, tentu saja aku selalu berharap kalian selalu dipertemukan dengan kehangatan yang menyenangkan. Aku harap di mana pun dan kapan pun, kalian selalu sehat dan merasa ditemani oleh orang-orang serta hal-hal yang paling kalian sayangi. 

Oh, aku merindukan kalian semua.


Untuk Manusia Favoritku yang Membuatku Semangat Menjadi Pribadi yang Baik, hingga Anaknya Memiliki Anak Lagi

Hai, ibu muda favoritku. Aku tidak menyangka hubungan baik antara kau dan aku ini bisa terus berlanjut hingga kini kau memiliki anak yang menggemaskan. Aku sungguh sangat senang melihat dirimu yang sekarang, yang selalu penuh dengan antusiasme dalam melakukan apa pun.


Untuk Seseorang yang Akan Menjadi Rumahku Jika Aku Tidak Bertemu dengan Suamiku

Perkenalkan teman-temanku, dia adalah manusia yang aku rasa telah menjadi sahabatku sejak abad ke-12. Aku tidak yakin, tetapi ketika pertama kali kami bertemu, kami langsung saling menyadari betapa tidak asingnya kami satu sama lain. Kami memang tidak sering bertemu. Kami sama-sama tipe orang yang akan tenggelam sepenuhnya jika sudah jatuh cinta pada sesuatu, seseorang, atau sebuah hal. 

Dia selalu mendukungku. Dia selalu antusias mendengar segala cerita bodohku yang sering kali tenggelam dalam perasaan menyayangi seseorang. Dia bahkan sudah seperti saksi hidup bagaimana aku berjuang untuk tidak menemui Tuhan dengan caraku sendiri. Dia adalah orang yang tetap ingin memberiku pelukan hangat, meskipun saat itu aku sudah merasa membeku. 

Dia seorang arsitek wanita yang sangat berbakat. Aku pernah berkata kepadanya, “Jika—ini hanya jika—kita tetap tenggelam pada perasaan yang menyebalkan ini, bisakah kita tinggal bersebelahan nanti? Kita akan membuat berbagai studio untuk berkarya; studio lukis, studio musik, dan kita lakukan apa yang selalu kita inginkan.”

“Itu ide yang bagus. Jika kita berdua tidak menemukan 'orang itu', mari kita hidup berdampingan,” ucapnya yakin.

“Baiklah, aku akan berusaha untuk giat bekerja mulai sekarang. Membangun rumah dengan menggunakan jasamu tentu bukan hal yang mudah, bukan?”

“Kau benar, kita harus kaya.” Lalu kami berdua tertawa bersama.

Lihat selengkapnya