Malam selalu menjadi waktu paling jujur.
Karena ketika dunia mulai tenang dan suara-suara perlahan menghilang, masih ada satu suara yang tidak pernah benar-benar pergi dari dalam kepalaku sendiri.
Jam menunjukkan pukul 23.40
Aku masih terjaga.
Sudah hampir satu jam aku berbaring menatap langit-langit kamar tanpa benar-benar melihat apa-apa. Lampu masih menyala. Playlist musik terus berjalan pelan sejak tadi, tapi tak satu pun lagu berhasil membuat kepalaku terasa lebih ringan.
Aku masih tertawa saat orang lain bercanda. Masih menjawab "baik" setiap ditanya kabar.
Tapi belakangan ini, semua itu mulai terasa aneh seperti bukan diriku yang sebenarnya.
Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Entah kenapa akhir-akhir ini aku mudah lelah dengan diriku sendiri. Bukan lelah karena pekerjaan.
Melainkan lelah karena harus terus berpura-pura setiap harinya.
Tapi semakin dewasa, aku mulai sadar tidak semua hal bisa diceritakan begitu saja kepada orang lain. Ada beberapa hal yang akhirnya harus kusimpan sendiri.
Lagi pula, tidak semua orang benar-benar ingin mendengarkan. Semua orang sibuk bertahan dengan isi kepala dan masalah mereka masing-masing.
Aku menghela napas panjang, lalu bangkit dari tempat tidurku. Sambil Mengambil jaket yang tergantung dibelakang pintu kamarku dan berjalan keluar tanpa tujuan yang jelas.
Udara malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Jalanan masih dipenuhi lampu kendaraan dan suara motor yang sesekali melintas cepat.
Aku berjalan sampai langkahku berhenti di depan sebuah minimarket di ujung gang yang biasa buka dua puluh empat jam.
Dan di sanalah aku melihat seorang driver ojol duduk sendirian di kursi depan minimarket. Jaket hijaunya terlihat kusut. Sambil menggenggam ponsel dengan kedua tangannya, lalu di letakkan di atas meja kemudian di angkat lagi, gerakan itu terus menerus berulang seperti seorang yang sedang gelisah menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.
Aku tidak tahu kenapa, tapi ada sesuatu dari lelaki itu yang membuatku sulit pergi begitu saja. Karena terasa tidak asing dari prilaku nya.
Seperti seseorang yang sedang berusaha terlihat kuat setiap harinya...
Langkahku langsung mengarah masuk ke dalam minimarket dan mengambil dua kaleng kopi dingin.
Aku bahkan tidak sadar kenapa harus ambil dua kaleng.
Mungkin karena malam ini aku tidak ingin duduk sendirian.
Atau mungkin… karena aku tahu lelaki itu juga sedang mencoba bertahan dari sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapapun.
Aku memenghampirinya lalu duduk di sampingnya.
“Bang, numpang duduk ya.” ucap ku pelan