Sebelum Pulang

Anam
Chapter #3

LELAH

Setelah melewati malam yang hening ditemani suara-suara riuh di dalam kepalaku dan obrolan singkat bersama seorang driver ojol tadi, aku kembali ke kamar kos. Satu-satunya ruangan yang selama ini diam-diam menyimpan rahasia tentang siapa aku sebenarnya.

Jam telah menunjukkan pukul 03.21 pagi.

Mataku mulai terasa berat, tetapi laptop di atas meja masih menyala. Tumpukan berkas kerja berserakan di sampingnya dan belum sempat kurapikan.

Pagi ini akan ada meeting evaluasi besar tim event marketing untuk periode ini sekaligus pembahasan rencana kegiatan periode berikutnya.

Aku masih menatap layar laptop, mengecek ulang laporan kegiatan untuk memastikan semuanya sesuai SOP. Namun mataku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.

“Ah... bodoh amat. Tidur dulu bentar. Capek...” keluhku pelan.

Aku merebahkan tubuh ke kasur tipis di sudut kamar.

Namun seperti biasa, hidup tidak pernah benar-benar memberi waktu cukup untuk beristirahat.

Aku terbangun dengan sedikit panik saat melihat jam dinding.

07.40.

“Astaghfirullah...” ucapku spontan.

Aku langsung meraih ponsel di samping bantal. Layarnya dipenuhi notifikasi WhatsApp yang membuat kepalaku terasa semakin berat.

Lima panggilan tak terjawab dari Dika.

Obrolan di grup “Koor. Jalan-Jalan” grup tanpa atasan yang isinya lebih sering dipenuhi keluhan kerja, candaan absurd, dan ocehan tidak penting saat jam kantor mulai terasa menyiksa.

Dan beberapa chat lain yang bahkan belum sempat kubaca sejak semalam.

Di antara semua itu, ada pesan dari Dika.

Woiii... kampret, lu di mana?”

“Meeting bentar lagi mulai cuk.”

“Big Boss udah datang tuh.”

Dika adalah sahabatku sejak awal masuk ke perusahaan ini. Orang yang dulu menarikku masuk ke dunia event marketing di Cipta Tunas Bangsa, atau yang lebih sering kami singkat menjadi CTB.

“Sial...” gumamku pelan.

Aku buru-buru masuk kamar mandi lalu mandi secepat mungkin.

***

Dan entah kenapa, akhir-akhir ini aku semakin sering merasa seperti orang asing bagi diriku sendiri.

Aku menghela napas panjang lalu segera keluar, mengenakan kemeja kerja seadanya dan mengambil tas laptop yang tergeletak di dekat meja.

Ponselku kembali berdering.

Telepon dari Dika lagi.

Aku langsung mengangkatnya.

“Lu di mana, kampret?” suara Dika terdengar buru-buru dari seberang sana.

“OTW...” jawabku singkat sambil memasukkan laptop ke dalam tas.

“OTW...OTW.... Buruan cuk...”

Aku terkekeh kecil meski sebenarnya tidak benar-benar ingin tertawa.

“Big Boss udah datang tuh. Dan kayaknya mood beliau pagi ini lagi nggak bagus. Bisa-bisa kita semua kena semprot.”

“Oke, siap bosku. Bentar lagi juga nyampe, bilang aja sama big boss, gue lagi di jalan, suruh tungguin aja atau tunda aja dulu meeting nya sampe gue datang, hahaha” jawabku bercanda agar suasana tidak semakin tegang.

"kampret emang lu...ha...ha"

Telepon pun terputus.

Aku memasukkan ponsel ke saku lalu keluar dari kamar kos dengan langkah tergesa-gesa.

***

Jalanan Jakarta pagi ini sudah dipenuhi kendaraan. Klakson bersahutan dari berbagai arah seperti suara yang tidak pernah benar-benar selesai.

Orang-orang mulai sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Pedagang kaki lima membuka lapak, beberapa karyawan berjalan terburu-buru sambil menggenggam kopi dan ponsel mereka, sementara kendaraan memenuhi jalanan ibu kota yang seolah tidak pernah benar-benar tidur.

Dan di tengah semua itu, aku kembali merasa kecil.

Seperti seseorang yang terus berjalan tanpa benar-benar tahu sedang menuju ke arah mana.

Tanpa kusadari, ucapan driver ojol semalam kembali terngiang di kepalaku.

“Kadang hidup cuma ngasih kita jeda sebentar buat capek... habis itu disuruh lanjut lagi.”

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi entah kenapa begitu menempel di kepalaku sejak tadi malam.

Tak lama kemudian sebuah motor berhenti tepat di depanku.

“Kak Anam ya?” tanya pengemudinya sopan.

“Iya, Bang. Tolong agak cepat ya, saya udah telat. Nanti ongkosnya saya tambahin.”

“Oke, siap bosku,” jawabnya sambil tersenyum lalu menyerahkan helm kepadaku.

Aku langsung memakai helem lalu naik ke motor.

“Udah siap, Bang?” tanyanya lagi.

“Oke, gas, Bang.”

Motor itu langsung melaju kencang membelah lautan kendaraan di tengah ibu kota.

Angin pagi menerpa wajahku sepanjang perjalanan, sementara pikiranku masih dipenuhi bayangan meeting pagi ini.

Sesampainya di parkiran kantor, aku langsung turun dan membayar ongkos perjalanan. Tarif di aplikasi menunjukkan lima belas ribu rupiah, tetapi sesuai janjiku tadi, aku menyerahkan uang lima puluh ribu kepada driver itu.

Aku buru-buru melangkah menuju pintu lobby terdengar suara seseorang memanggil dari belakang.

“Bang...”

Aku menoleh cepat.

“Iya? Kembaliannya ambil aja, Bang,” jawabku.

Driver ojol itu tersenyum kecil.

“Makasih Bang. Semoga rezekinya dilancarin dan berkah.”

Aku mengangguk kecil sambil membalas senyumnya.

“Helemnya, Bang...” lanjutnya lagi sambil menunjuk ke arah kepalaku.

“Oh iya... helmnya.”gumam ku dalam hati dan sedikit kaget

Aku terkekeh kecil sambil melepas helem yang masih kupakai.

“Maaf, Bang. buru-buru soalnya.”

“Oke, siap bosku,” jawabnya sambil tertawa kecil.

Aku menyerahkan helem itu lalu berlari kecil menuju lobby kantor.

***

Gedung kantor pusat CTB sudah terlihat sibuk. Beberapa karyawan berjalan cepat sambil membawa laptop dan berkas meeting. Sebagian lagi berdiri di dekat pintu lobby dengan kopi di tangan dan wajah yang terlihat setengah sadar.

CTB memang belum sebesar perusahaan-perusahaan besar lain di Jakarta. Kantornya pun hanya menyewa tiga lantai di sebuah gedung perkantoran sederhana di kawasan Jakarta Selatan. Namun ritme kerja di dalamnya sering kali terasa seperti perusahaan raksasa yang tidak pernah berhenti berlari.

Pintu kaca otomatis terbuka saat aku masuk.

Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut wajahku yang masih sedikit basah oleh keringat.

Aku mempercepat langkah menuju mesin absensi di dekat resepsionis.

Di layar digital besar yang tergantung di dinding lobby, waktu menunjukkan pukul 08.20.

Sial.

Telat dua puluh menit.

Tanpa banyak berpikir aku langsung menempelkan kartu akses ke mesin absensi.

“Bip.”

Lihat selengkapnya