Sebelum Pulang

Anam
Chapter #4

HARI ITU

Pukul 13.00.  

Kami berempat sudah duduk di dalam ruang meeting sambil menunggu Pak Hendra datang. Di internal tim, kami sering memanggil beliau Big Boss. Bukan tanpa alasan. Selain karena posisinya sebagai kepala divisi, beliau juga terkenal sering memberi tugas mendadak lengkap dengan deadline yang kadang terasa tidak manusiawi.  

Aku duduk berdampingan dengan Dika.  

Sedangkan Ayu dan Dewi duduk tepat di seberang kami.  

Dika sibuk memutar-mutar pulpen di tangannya.  

Dewi sedang membalas chat di ponselnya.  

Sementara Ayu sejak tadi beberapa kali melirik ke arahku sebelum kembali pura-pura fokus pada layar laptopnya.  

“Bang Anam...” panggil Dewi pelan.  

Aku menoleh.  

“Yup?”

“Nanti setelah meeting ada kegiatan gak?”

Aku berpikir sejenak sebelum menjawab.  

“Hmm... nanti ya.. rencananya mau ngajak kalian ngumpul dulu. Ada beberapa hal penting yang pengen gue sampaikan.”

Dika langsung menoleh cepat.  

“Hal penting apaan?”

Aku tersenyum kecil.  

“Belum juga meeting mulai udah kepo aja lu.”  

“Ya iyalah. Nada suara lu kayak orang mau ngumumin pensiun.”

Ayu yang sedari tadi diam langsung ikut menatapku.  

“Lu jangan bilang mau resign dah,” ucapnya spontan.  

Nada suaranya terdengar lebih serius dibanding candaan biasa.  

Aku sedikit terdiam sebelum akhirnya tersenyum tipis.  

“Belum juga ngomong apa-apa udah suudzon aja.”

Ayu langsung mengalihkan pandangan sambil pura-pura membetulkan rambutnya.  

“Ya siapa tahu,” gumamnya pelan.  

Lalu Dika menyeletuk seperti baru menyadari sesuatu.  

“Wih... panik banget Bu Ayu.” 

“Apaan sih?” balas Ayu cepat sambil melempar tisu ke arah Dika.  

Tisu itu langsung ditangkap Dika dengan gaya sok keren lalu malah diberikan kepadaku sambil nyengir jahil.  

“Nam... ini dari Ayu buat lu katanya.”

“Iih... apaan sih lu Dik...” timpal Ayu sambil terlihat sedikit kesal sekaligus malu.  

Aku spontan menerima tisu itu sambil terkekeh kecil.  

“Oh ya... makasih ya tisunya.” 

“Ciyeeeee...” suara Dika langsung menggema satu ruangan.  

Dewi hanya bisa menutup mulut sambil tertawa kecil.  

Sedangkan wajah Ayu mulai memerah. Ia buru-buru menatap layar laptopnya lagi meski jelas-jelas sejak tadi tidak mengetik apa pun.  

Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkah mereka.  

Entah kenapa, suasana seperti ini selalu terasa hangat.  

Mungkin karena kami terlalu sering dihajar deadline, pindah kota, kurang tidur, dan hidup di tengah tekanan kerja yang nyaris tidak pernah benar-benar selesai.  

Dalam empat tahun terakhir, hidup kami hampir lebih banyak di jalan dibanding di rumah sendiri.  

Minggu ini Jakarta.  

Minggu depan Surabaya.  

Lalu pindah lagi ke Makassar, Bandung, atau Medan.  

Kadang baru selesai bongkar event jam dua pagi.  

Besoknya harus sudah presentasi lagi di kota berbeda.  

Tidur di hotel seadanya.  

Makan telat.  

Dikejar target.  

Dan tetap harus terlihat profesional di depan klien meski isi kepala rasanya sudah mau meledak.  

Karena itu, momen kecil seperti sekarang terasa anehnya begitu berharga.  

Suasana ruangan masih dipenuhi candaan kecil khas kami.  

Sampai akhirnya...  

Pintu ruang meeting terbuka.  

Suara langkah sepatu terdengar memasuki ruangan.  

Pak Hendra masuk bersama Rina yang membawa beberapa map dan laptop.  

Seketika suasana berubah.  

Dika yang tadi masih nyengir langsung duduk tegak.  

Dewi buru-buru mengunci layar ponselnya.  

Ayu memperbaiki posisi duduknya.  

Sedangkan aku otomatis menarik napas pelan sambil menatap ke depan.  

Bahkan suara pendingin ruangan terasa lebih terdengar dibanding sebelumnya.  

Pak Hendra berjalan tenang menuju kursi paling depan.  

Kemeja putih dengan lengan tergulung itu masih terlihat rapi meski wajahnya tampak sedikit lelah.  

Namun seperti biasa, auranya tetap membuat satu ruangan mendadak serius.  

Beliau meletakkan tablet dan beberapa berkas di atas meja sebelum menatap kami satu per satu.  

“Siang semuanya.”

“Siang Pak,” jawab kami hampir bersamaan.

Pak Hendra mengangguk kecil lalu langsung membuka laptopnya.  

“Oke. Hari ini kita akan evaluasi beberapa event yang sudah berjalan selama periode ini sekaligus pembahasan target baru untuk periode berikutnya.”

Beliau berhenti sejenak sambil melihat data di layar.  

“Kita mulai dari tim Anam dulu.” 

Dadaku terasa sedikit mengencang.  

Biasanya kalimat itu akan membuatku bersemangat.  

Namun entah kenapa, siang ini rasanya berbeda.  

Aku perlahan berdiri dari kursi lalu berjalan menuju kedepan untuk melakukan presentasi.  

Aku menarik napas pelan sebelum mulai berbicara.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."

Beberapa orang di ruangan langsung mengangguk kecil.

Aku menekan remote presentasi hingga slide pertama muncul di layar besar.

"Untuk periode ini, tim kami fokus menangani program seminar pendidikan dan partnership campaign di wilayah Indonesia Timur, khususnya Sulawesi dan Papua."

Beberapa dokumentasi event mulai tampil di layar.

Foto seminar.

Suasana peserta.

Panggung acara.

Dan beberapa kegiatan lapangan selama roadshow berlangsung.

"Secara keseluruhan, antusias peserta cukup tinggi hampir di seluruh wilayah. Terutama di Makassar dan Jayapura yang jumlah pesertanya bahkan melebihi target awal."

Aku kembali mengganti slide.

Grafik dan data mulai muncul di layar.

"Namun untuk wilayah Sorong, meskipun jumlah peserta yang hadir cukup besar, conversion ke membership memang belum maksimal."

Lihat selengkapnya