Lampu di sebagian ruangan mulai dimatikan satu per satu, menyisakan suara pendingin ruangan dan bunyi keyboard dari beberapa karyawan yang masih lembur.
Aku berdiri di dekat jendela lantai tiga sambil menatap langit Jakarta yang perlahan berubah jingga.
Di bawah sana, kendaraan mulai memenuhi jalanan seperti aliran yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Ponselku bergetar pelan.
Grup kecil tim kami kembali ramai.
Dika "Wih... serius amat."
Dewi "Tumben."
Sedangkan Ayu cuma mengirim emoji bingung.
Aku tersenyum kecil lalu memasukkan ponsel ke saku dan berjalan menuju rooftop gedung.
Tempat itu sebenarnya sederhana.
Tidak terlalu luas.
Hanya ada beberapa kursi besi, meja kecil, dan lampu gantung yang mulai menyala saat malam datang.
Biasanya tempat itu dipakai karyawan buat merokok atau sekadar cari udara segar ketika kantor mulai terasa sesak.
Aku duduk di kursi paling pinggir sambil menatap gedung-gedung Jakarta yang perlahan dipenuhi cahaya malam.
Tidak lama kemudian pintu rooftop terbuka.
Dika muncul paling depan sambil membawa plastik cemilan dan kopi botolan.
"Nah ini dia bapak pengembara."
Dewi berjalan di belakangnya sambil membawa dua cup mie instan.
"Sumpah ya, kalau ternyata cuma curhat percintaan gue pulang."
Aku tertawa kecil.
"Tenang. Belum separah itu."
Sedangkan Ayu datang paling akhir sambil membawa laptop kecil di tangannya.
"Lu ngajak ngobrol apa meeting jilid dua sih?"
"Sadis banget."
Ayu duduk di kursi dekatku sambil meletakkan laptop di meja.
Dika langsung selonjoran.
"Kalau gak penting gue cabut ya. Kasur kos gue udah manggil nih."
"Padahal baru jam enam," balas Dewi.
"Capek itu gak kenal waktu, Wi."
Aku tersenyum melihat tingkah mereka lalu menatap mereka satu per satu dan mengtakan.
"Gak terasa ya..."
“Sudah empat tahun aja kita menjadi pengembara dari satu kota ke kota lainnya, tapi aneh gak ada satu kota pun yang benar-benar menjadi rumah."
Dika yang tadi sibuk buka mie langsung melirik.
"Nah kan..."
"Fix ini mau pidato perpisahan ha..ha..ha.."
Aku cuma bisa tersenyum.
Dan untuk kali ini aku tidak langsung membalas candaan Dika. Mungkin karena itu juga, suasana perlahan berubah lebih tenang.
Ayu menatapku.
Sedangkan Dewi mulai menyimpan ponselnya.
Aku menghela napas pelan.
"Kalian pernah gak sih..."
"ngerasa capek... tapi bukan capek kerja?"
Semua diam tidak ada yang menjawab pertanyaan ku, Dika yang bisa sering nyeletuk pun ikut diam.
Aku kembali bersandar ke kursi.
"Tadi pagi Rudi nelepon gue."
Dika langsung mengangkat alis.
"Anak Makassar itu?"
Aku mengangguk,"ya"
"Dia gajak gue, ke Makassar buat mulai melangkah untuk wujudtin salah satu impian gue."
Dewi terlihat penasaran.
"Yang soal tempat pelatihan itu?"
Aku tersenyum kecil.
"Lu masih inget aja?"
"Ya iya lah, dulu lu kan sering banget ngomongin itu sampe bosen dengernya ha..ha..ha..."
Ayu yang sejak tadi diam.
Namun matanya terus mencuri pandang ke arahku,
Lalu Dika tiba-tiba bertanya dengan serius,
"Jadi ceritanya lu mau cabut nih ?"
Aku sedikit kaget.
"Nah itu yang lagi gue pertimbangkan dik." Jawab ku sambil mengusap wajah pelan.
Tiba-tiba Ayu yang sejak tadi diam akhirnya bicara.
" Lu beneran mau pergi? " Dengan suara yang agak kesal.
Membuat kami sontak langsung menoleh kepadanya. Wajah nya terlihat kemerahan dan agak sedikit malu malu,
"Maksud gue gini..."
"Tim bakal beda aja nanti kalo kamu cabut..."