Aku membuka gerbang kos perlahan.
Suara engsel besi yang berdecit memecah kesunyian malam yang mulai larut. Beberapa penghuni masih duduk di teras, menunduk menatap layar ponsel masing-masing. Sebagian mengangguk saat kami berpapasan.
Aku membalas dengan senyum tipis, lalu melangkah menuju kamar.
Lorong sempit itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Mungkin karena pikiranku masih tertinggal di rooftop kantor.
Masih tertinggal pada obrolan yang seharusnya sederhana, tetapi entah bagaimana berhasil menyentuh bagian diriku yang selama ini kusimpan rapat.
Aku berhenti di depan pintu kamar, mengeluarkan anak kunci dari saku, lalu memutarnya perlahan hingga terdengar bunyi klik.
Pintu terbuka.
Sesaat kemudian aku sudah berada di dalam, membiarkan pintu menutup sendiri di belakangku, mengunci seluruh riuh dunia di luar sana.
Seketika, sunyi kembali berkuasa.
Aku melepaskan sepatu, menaruh tas di atas kursi, lalu merebahkan tubuh ke kasur.
"Hufff...!"
Aku mengembuskan napas panjang.
Berharap rasa lelah segera membawaku tertidur.
Namun yang datang justru ingatan tentang seorang perempuan yang pernah menjadi alasan mengapa aku bisa bertahan melewati begitu banyak hari sulit.
Ponsel di samping bantal tiba-tiba menyala.
Notifikasi dari grup kantor muncul di layar.
Dika mengirim pesan.
"Jangan galau gara-gara sesi healing tadi ya, Nam."
Disusul emoji tertawa.
Aku tersenyum kecil.
Lalu mengunci layar ponsel kembali.
Namun begitu layar itu meredup dan berubah gelap, senyumku perlahan menghilang.
Di atas permukaan kaca yang hitam, pantulan wajahku sendiri justru mengingatkanku pada seseorang yang selama ini berusaha kulupakan.
Ika.
Dan seperti rekaman lama yang kembali diputar, ingatanku menyeretku ke sebuah sore mendung empat tahun lalu.
***
Empat Tahun Sebelumnya
Langit menggantung kelabu sejak siang.
Awan tebal menutupi matahari dan membuat kota terlihat lebih muram dari biasanya.
Aku duduk sendirian di sebuah bangku taman sambil memutar-mutar botol air mineral yang hampir kosong.
Hari itu Ika memintaku bertemu.
Katanya ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.
Aku menunggu.
Dan terus menunggu.
Sampai akhirnya ponselku bergetar.
Aku langsung meraihnya.
Namun sebelum sempat membuka layar, seseorang menyapaku.
"Bang Anam?"
Aku menoleh.
Seorang perempuan berdiri di samping bangku.
Wajahnya terasa familiar.
"Oh... Rani?"
Ia mengangguk pelan.
Namun tidak ada senyum di wajahnya.
Dan entah mengapa, melihat ekspresi itu membuat perasaanku semakin tidak tenang.
"Ika nitip ini buat Bang Anam."
Ia menyodorkan sebuah amplop berwarna krem.
Tangannya terlihat sedikit gemetar.
"Apa ini, Ran? Ika mana?"
Rani menunduk.
Seolah sedang mencari keberanian untuk menjawab.
"Semalam... Ika nangis terus."
Suaranya hampir tak terdengar.
"Maaf, Bang."
Hanya itu yang ia katakan sebelum berbalik dan melangkah pergi.
Meninggalkanku sendirian bersama amplop di tangan.
Mataku tertuju pada tulisan di bagian depan.
Untuk Anam.
Tulisan tangan Ika.
Tulisan yang biasanya selalu berhasil membuatku tersenyum.