Sebelum Pulang

Anam
Chapter #7

SAKIT

Pagi empat tahun yang lalu

Pagi itu datang terlalu cepat.

Atau mungkin aku hanya berharap malam tidak pernah berakhir.

Sebab selama gelap masih bertahan, aku masih bisa berpura-pura bahwa tidak ada yang berubah. Bahwa semuanya masih berada di tempat yang sama. Bahwa aku masih memiliki waktu.

Padahal waktu tidak pernah benar-benar menunggu siapa pun.

Aku belum tidur.

Bukan karena tidak bisa.

Tapi setiap kali aku mencoba memejamkan mata, pikiranku justru semakin ramai. Ada terlalu banyak hal yang belum selesai. Terlalu banyak kalimat yang tertahan. Terlalu banyak kemungkinan yang masih ingin kupercaya, meskipun bagian terdalam dari diriku sudah tahu bahwa beberapa di antaranya mungkin tidak akan pernah terjadi.

Di meja depan, kertas-kertas berserakan tanpa arah.

Laptop masih menyala, menampilkan layar yang sejak tadi hanya menjadi cahaya tambahan di ruangan yang semakin sunyi.

Kopi di samping tanganku sudah kehilangan hangatnya.

Asbak penuh abu.

Aku menatap semuanya dalam diam.

Lucu ya.

Aku berhasil menyelesaikan begitu banyak hal.

Tapi tetap merasa seperti seseorang yang tersesat di tengah jalan yang ia bangun sendiri.

"Harusnya sudah cukup..." gumam ku

Seharusnya setelah semua ini selesai, aku merasa lega.

Seharusnya ada kepuasan.

Seharusnya aku bisa mulai melangkah namun masih ada sesuatu yang terus mengganjal dalam pikiran ku.

Seperti seseorang yang terus berlari bukan karena tahu ke mana tujuan akhirnya, melainkan karena takut berhenti.

Sebab ketika berhenti...

ia harus berhadapan dengan sesuatu yang selama ini ia hindari.

Tiba-tiba Ponselku bergetar.

Nama Dika muncul di layar.

Aku meraih ponselku dan langsung menerima panggilannya.

"Lo belum tidur?"

"Belum."

"Gue kira cuma orang gila yang masih kerja jam segini."

Aku tersenyum kecil.

"Berarti kita sama."

"Enggak," jawabnya cepat.

"Gue cuma nggak bisa tidur. Lo beda."

"Apa bedanya?"

Dika diam sebentar sebelum ia menjawab.

"Lo terdengar seperti bukan orang lagi kerja."

Aku hanya bisa diam.

Mataku kembali menatap layar laptop yang penuh angka dan tulisan, tapi tidak benar-benar kubaca.

"Lo kayak lagi berusaha menang melawan sesuatu."

Aku hanya diam.

Karena terkadang ada kalimat yang tidak perlu dibantah. Bukan karena benar, tapi karena terlalu dekat dengan kenyataan.

Dika menarik napas.

"Nam."

"Iya?"

"Lo lagi ngejar sesuatu...."

"Atau sebenarnya lo lagi lari dari sesuatu?" tanya Dika.

Aku terdiam cukup lama.

Aku tahu pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan.

Dika tidak sedang mencari jawaban.

Dia hanya sedang mencoba membuatku jujur kepada diriku sendiri.

"Dua-duanya," jawabku akhirnya.

Untuk beberapa detik, tidak ada suara.

Lalu ia tertawa kecil.

"Ternyata lo masih bisa jujur."

Aku tersenyum tipis.

"Di kantor gue ada lowongan buat tim event marketing."

"Event?"

"Iya. Banyak perjalanan. Banyak tempat baru. Banyak orang baru."

Aku bersandar di kursi.

Lihat selengkapnya