Sebelum Pulang

Anam
Chapter #8

PERGI

Ponselku bergetar.

​Suara kecil itu memecah sunyi malam yang sejak tadi menemaniku. Aku menatap nama itu cukup lama.

​Dika.

​Jempolku berhenti di atas layar. Bukan karena aku tidak ingin bicara dengannya, tapi karena aku tahu, dia pasti sudah mendengar kabar ini.

​Akhirnya aku menarik napas, lalu menekan tombol jawab.

"Lo ke sana ya?"

​Itu pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya. Aku tahu maksudnya. Tidak perlu dijelaskan. Tidak perlu disebutkan namanya. Karena ada beberapa orang yang sudah terlalu mengenal kita sampai mereka tahu apa yang sedang kita rasakan.

​Aku menatap jalan di depan rumah. Gelap. Kosong. Sama seperti perasaanku saat itu.

"Iya," jawabku pelan.

​Di seberang sana hanya napas Dika yang terdengar samar, seolah dia sedang mencari kata yang tepat. Sampai akhirnya dia bertanya,

"Lo masih cinta?"

​Pertanyaan itu sederhana, tapi entah kenapa terasa seperti sedang ditampar kenyataan. Aku tidak langsung menanggapinya, karena terkadang jawaban yang paling jujur adalah jawaban yang paling sulit untuk diucapkan.

"Kalo bilang nggak..." Aku berhenti sebentar, menelan sesuatu yang terasa berat.

"Bohong."

​Dika tidak langsung menanggapinya. Mungkin karena dia sudah tahu. Atau mungkin karena dia tahu tidak ada kalimat penghiburan yang benar-benar bisa memperbaiki sesuatu yang sudah patah.

"Nam..."

"Iya?"

​"Denger gue ya."

​Aku hanya bisa terdiam.

"Lo nggak harus sembuh dulu buat bergerak."

​Aku menatap langit. Gelap. Tidak ada bintang. Hanya awan yang menggantung tanpa arah.

​"Kadang..." lanjutnya, "dengan bergerak, lo justru bisa belajar untuk sembuh."

​Aku tersenyum kecil. Bukan karena lucu, tapi karena aku tahu hidup tidak sesederhana itu. Ada luka yang tidak hilang hanya karena seseorang memilih pergi. Ada kenangan yang tetap ikut berjalan meskipun kita sudah berpindah tempat.

"Dik..."

"Iya?"

"Kalau pergi semudah itu, mungkin dari dulu gue udah pergi."

​Dika diam. Aku melanjutkan,

"Masalahnya bukan tempatnya."

​Untuk beberapa detik tidak ada suara. Lalu Dika menarik napas,

"Justru itu alasan lo harus pergi, Nam."

​Aku mengerutkan kening. "Maksud lo?"

"Karena kalau lo tetap di sana, setiap sudut bakal terus mengingatkan lo tentang sesuatu yang sudah nggak bisa lo miliki."

​Aku diam. Karena mungkin itu yang paling aku takutkan. Bukan kehilangan Ika. Tapi kehilangan kesempatan untuk menjadi seseorang yang baru.

Lihat selengkapnya