Kembali ke masa kini
Dering ponsel tiba-tiba memecah lamunanku.
Suara kecil itu terasa seperti sesuatu yang asing. Sejak tadi pikiranku masih terjebak pada kejadian empat tahun lalu.
Tentang undangan berwarna krem.
Tentang tenda putih yang berdiri di halaman.
Tentang hari ketika aku melihat seseorang yang kucintai memilih jalan hidupnya bersama orang lain.
Dan tentang rasa sakit yang dulu kupikir tidak akan pernah bisa kulewati.
Aku menatap layar ponsel yang tergeletak di samping bantal.
Nama Ayu muncul di sana.
Aku membiarkannya bergetar beberapa saat.
Entah kenapa, melihat namanya malam ini membuatku merasa sedikit berbeda.
Bukan karena takut.
Tapi karena ada sesuatu dari cara dia menghubungiku yang terasa tidak biasa.
Ayu bukan orang yang sering menelepon malam-malam tanpa alasan.
Akhirnya aku menarik napas panjang dan menekan tombol jawab.
"Halo, Yu."
"Tumben nelpon malam-malam begini."
"Bang Anam..."
Nada suara terdengar pelan, seperti sedang ada seorang yang sedang gugup, malu - malu.
"Iya?" jawab ku
"Bang Anam benar mau cabut dari CTB?"
"Hmm itu Masih aku pertimbangkan, Yu."
Tiba-tiba suanana menjadi sedikit canggung dan kami terdiam sejenak, sebelum ayu menjaku untuk bertemu berdua besok.
"Besok kita ketemu di cafe dekat kantor ya. berdua aja." kata ayu
Aku mengernyitkan kening, dan sedikit kaget
"Hah, kok berdua aja, Dika sama Dewi gak di ajak nih."
"Iya kali ini berdua aja Bang, soalnya Ada hal yang penting yang ingin aku bicarakan sama Bang Anam."
"Hal penting..?"
"Kenapa gak bicarakan sekarang aja"
"Nanti aja, Bang."
"Kenapa?" Tanya ku lagi
"Pokoknya datang aja."
Nada bicaranya sedikit gugup seperti ada sesuatu yang selama ini ia pendam.
"Nanti juga tahu."
Tapi sebelum aku sempat mengatakan apa pun, Panggilan itu berakhir. Aku menatap layar ponsel yang kembali gelap, lalu mencoba menghubunginya lagi, namun tidak diangkat. Akhirnya aku mengirimkan pesan singkat:
"Emang mau bicara apa, Yu? Kenapa harus berdua aja?"
Balasan masuk singkat:
"Datang aja, Bang. Nanti juga tahu."
***
Aku membaca pesan itu beberapa kali.
Lalu menaruh ponsel di samping.
Aku mengusap wajahku perlahan.
Entah kenapa, percakapan singkat itu kembali membawa pikiranku kepada satu hal.
Tentang keputusan bertahan atau menerima tawaran dari Rudi.
Selama empat tahun terakhir, aku selalu mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku sedang mengejar masa depan.
Dan mungkin itu tidak sepenuhnya salah.
Aku memang bekerja keras.
Aku memang berusaha menjadi lebih baik.
Tapi malam ini aku mulai menyadari...
Di balik semua itu, ada bagian kecil dari diriku yang sebenarnya hanya sedang berlari.
Berlari dari sesuatu yang belum pernah benar-benar aku selesaikan.
Apalagi setelah telepon dari Rudi pagi tadi.