Sebelum Pulang

Anam
Chapter #10

KODE

Kafe itu belum terlalu ramai.

Hanya terdengar suara mesin espresso yang sesekali mendesis, berpadu dengan alunan musik akustik yang mengalun pelan dari sudut ruangan. Cahaya matahari yang masuk melalui dinding kaca membuat suasana terasa hangat, meski udara pagi Jakarta masih menyisakan sedikit kesejukan.

Aku datang lebih dulu.

Kupilih meja di pojok dekat jendela, tempat yang cukup tenang dan jauh dari lalu-lalang pengunjung.

Secangkir kopi hitam sudah tersaji di depanku, tetapi sejak lima belas menit yang lalu belum juga kusentuh.

Pikiranku masih dipenuhi banyak hal.

Tentang tawaran Rudi.

Tentang CTB.

Tentang empat tahun yang kulewati.

Dan tentang telepon Ayu semalam yang terasa begitu berbeda.

Tak lama kemudian pintu kafe terbuka.

Ayu masuk sambil menenteng tas selempangnya.

Hari itu ia tidak mengenakan pakaian kantor seperti biasanya. Blus berwarna krem dipadukan dengan celana hitam sederhana membuat penampilannya terlihat jauh lebih santai.

Saat matanya bertemu denganku, ia tersenyum tipis.

"Maaf ya, Bang. Agak telat."

Aku menggeleng sambil tersenyum.

"Nggak apa-apa. Aku juga baru aja."

Padahal aku sudah datang hampir dua puluh menit lebih awal.

Ayu menarik kursi di depanku.

Beberapa detik kami hanya saling diam.

Seorang pelayan datang mencatat pesanan, lalu kembali meninggalkan kami.

Keheningan itu tidak terasa canggung.

Justru terasa seperti dua orang yang sama-sama sedang mencari cara memulai pembicaraan.

Ayu memainkan sendok kecil di atas mejanya.

Ia memutarnya pelan.

Berulang-ulang.

Seolah sedang mengumpulkan keberanian.

"Bang..."

"Iya?"

"Boleh nanya sesuatu?"

"Tanya aja."

Ayu menatapku cukup lama.

"Kalau Bang Anam jadi pindah... berarti benar-benar ninggalin CTB?"

Aku mengangguk pelan.

"Mungkin."

"Mungkin?"

"Soalnya aku sendiri belum benar-benar memutuskan."

Ayu kembali diam.

"Kalau boleh jujur..."

Ia berhenti sebentar.

"...aku nggak nyangka Bang Anam bakal kepikiran buat pergi."

"Kenapa?"

"Soalnya selama ini Bang selalu kelihatan betah."

Aku tersenyum kecil.

"Kadang orang kelihatan betah bukan karena memang nyaman."

"Lalu?"

"Kadang cuma belum punya keberanian buat melangkah."

Ayu menundukkan kepala.

Entah sedang memikirkan jawabanku atau memikirkan sesuatu yang lain.

"Bang..."

"Iya?"

"Kalau memang akhirnya pergi..."

Ia kembali berhenti.

"...bakal kangen nggak sama kantor?"

Aku tertawa pelan.

"Masa nanya begitu?"

"Jawab dulu."

"Tentu."

"Yang paling dikangenin apa?"

Aku berpikir sebentar.

"Lembur bareng."

"Rapat dadakan."

"Dimarahin klien."

"Ngopi tengah malam."

"Lalu kalian."

Ayu tersenyum.

"Kalian?"

"Iya."

"Kamu."

"Dika."

"Dewi."

"Kalian sudah seperti keluarga."

Senyum Ayu perlahan berubah.

Masih tersenyum.

Tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Entah kenapa aku merasa ia sedikit kecewa ketika mendengar kata keluarga.

Namun ia segera menutupinya.

"Iya sih..."

"Kita memang udah lama bareng."

Pelayan datang membawa minuman.

Percakapan kembali berhenti beberapa saat.

Ayu mengaduk kopinya tanpa benar-benar meminumnya.

"Bang."

"Hm?"

"Kalau boleh jujur..."

"Aku sebenarnya takut."

"Takut apa?"

"Takut semuanya berubah."

Aku mengangguk pelan.

"Itu wajar."

"Soalnya..."

Ia menarik napas.

Lihat selengkapnya