Sebelum Rumah Menjadi Sepi

GAZALI
Chapter #1

BAB 1 — TIKET SEKALI JALAN

Pagi yang Terlihat Biasa

Rumah Galang. Pukul 06.00.

Alarm belum sempat berteriak. Galang sudah bangun.

Di luar, subuh masih setengah tidur. Dari celah gorden, langit masih biru keabu-abuan, seperti kaus yang kebanyakan dicuci. Galang menarik napas. Dingin AC bercampur bau selimut Nino—campuran bedak bayi dan keringat semalam.

Ia turun dari kasur pelan. Lantai kayu terasa lebih dingin dari biasanya. Langkah pertama selalu ia arahkan ke kamar sebelah. Pintu tidak pernah dikunci.

Nino tidur melintang. Selimutnya sudah di lantai. Satu kaki menggantung, kaus bergambar dinosaurus tersingkap sampai pusar. Galang berjongkok. Mengambil selimut, menutup perut itu, lalu merapikan bantal yang sudah penyok.

Dari dapur, suara sendok ketemu panci. Nisa.

Galang ke kamar mandi. Sikat gigi. Air keran pagi ini rasanya lebih jernih. Di cermin, matanya sudah tidak bengkak. Bagus. Berarti tadi malam tidurnya benar.

Wangi nasi baru matang menyambut di meja makan. Nisa sedang memotong timun. Gerakannya cepat, rapi, seperti sudah dihafal tubuh.

"Telurnya mau ceplok atau dadar?" Nisa tidak menoleh.

"Ceplok. Yang kuningnya masih goyang."

Nisa mendengus. Tapi wajannya sudah diisi minyak.

Galang membuka kulkas. Mengambil kotak bekal biru milik Nino. Isinya sudah Nisa siapkan sejak semalam: nasi kepal, ayam suwir, brokoli. Ia menambahkan satu potong semangka, diiris kecil, tanpa biji.

Jam dinding berdetak. Suaranya lebih jelas pagi ini.

"Papa!" Nino muncul di ambang pintu dapur. Rambutnya berdiri ke segala arah. Mata masih setengah tutup.

Galang berjongkok, merentangkan tangan. Nino berlari, menabrak dada Galang. Hangat. Bau matahari, padahal matahari belum terbit.

"Mandi dulu, jagoan."

"Nanti Papa ikat sepatu?"

"Iya."

Nisa menaruh piring di meja. Tiga piring. Tiga gelas susu. Tiga sendok. Formasi yang tidak pernah berubah lima tahun terakhir.

Makan tidak banyak bicara. Hanya suara sendok, kunyahan, dan sesekali Nisa mengingatkan, "Nin, nasinya jangan dipindah ke pipi."

Selesai makan, Galang ke depan. Mengambil sepatu Nino dari rak. Sepatu hitam dengan lampu di solnya. Ia berlutut. Nino menaruh kaki kecilnya di paha Galang.

Tali sepatu kiri. Lingkaran. Masukkan. Tarik. Simpul mati. Tali sepatu kanan. Ulangi. Tekan ujung sepatu, "Masih pas?" Nino mengangguk.

Galang berdiri, menepuk kepala anaknya. Nino menengadah.

"Ayah…"

Galang menunduk. "Hmm?"

 

Pertanyaan Sederhana


Depan rumah.

Di luar, jalanan kompleks mulai hidup. Pak RT lewat sambil gowes sepeda. Dari seberang, Bu Maya melambai ke Nino.

Nino tidak langsung naik ke mobil. Matanya menatap ke ujung jalan. Di sana, Raka—teman sekelasnya—sedang salim ke seorang bapak tua. Bapak itu membungkuk, mencium kepala Raka, lalu mengacak rambutnya. Raka ketawa, lari ke mobil ibunya.

Nino diam. Jari kecilnya menarik ujung kemeja Galang.

"Ayah…"

"Iya, Nak?"

"Kakek tinggal di mana?"

Galang berhenti. Kunci mobil menggantung di jari, tidak jadi masuk lubang. Udara pagi mendadak berat, menekan dada.

Nisa yang sedang mengunci pintu menoleh. Diam.

Galang jongkok lagi, menyejajarkan mata dengan Nino. "Kok tanya Kakek?"

"Tadi Raka pamit sama Kakek. Raka bilang, tiap minggu ke rumah Kakek. Nino belum pernah."

Galang mencari kata. Tenggorokan kering. Ia melirik Nisa. Nisa hanya mengangkat bahu, kecil. Terserah kamu.

"Kapan kita ke rumah Kakek, Yah?" Nino melanjutkan. Matanya bening. Tidak ada tuduhan. Hanya penasaran lima tahun.

Galang menggaruk tengkuk. "Kakek… jauh, Nin."

"Sejauh mana? Sejauh sekolah?"

"Lebih jauh."

Nino mengerucutkan bibir. Berpikir. Lalu kalimat itu keluar. Ringan, seperti bertanya kenapa langit biru.

"Kalau Nino pergi…" Ia menunjuk dada sendiri. "Ayah juga nggak mau Nino pulang?"

Sunyi.

Suara sendok jatuh di dapur rumah sebelah. Suara motor lewat. Suara jam dinding dari dalam rumah. Semua terdengar jelas, karena antara Galang dan dunia tiba-tiba ada kaca.

Galang membeku.

Lihat selengkapnya