Sebelum Rumah Menjadi Sepi

GAZALI
Chapter #2

BAB 2 — JALAN YANG SEMAKIN DEKAT

Terminal. Malam Sebelum Keberangkatan


Terminal Bus. 21.15 WIB.

Langit sudah hitam. Lampu terminal kuning, tapi kalah sama lampu sorot bus yang berderet seperti kunang-kunang besar.

Galang turun dari taksi online. Ransel satu, isinya tiga kaus. Di saku kemeja, gantungan kunci rumah kecil.

Nisa gendong Nino. Nino sudah pakai piyama, tapi dipaksa bangun. Matanya merah, tapi tidak nangis.

Di kaca depan bus, papan jurusan mika: SUKA DAMAI – PMT BANDAR. 22.00.

Sopir teriak, "Suka Damai! Pematang Bandar! Dua lagi, jalan!"

Angin malam bau solar dan gorengan. Dari warung terminal, radio dangdut kecil.

Nisa merapikan kerah Galang. Tangannya berhenti lama di situ.

Nino menggeliat, lalu memeluk leher Galang. Cepat. Erat. Lalu lepas. Seperti takut kelamaan.

Tidak ada "Hati-hati". Nisa hanya bilang, pelan.

"Pulanglah dengan hati yang ringan."

Galang mengangguk. Cium kepala Nino. Asin.

Ia naik. Satu anak tangga. Dua. Tidak menoleh.

Pintu bus menutup. Brak.

Dari jendela, Nino melambai sekali. Nisa tidak. Ia gendong Nino, mundur, lalu hilang ditelan kerumunan.

21.40. Bus masih ngetem. Mesin hidup, AC mati. Panas.

 

Kursi Nomor 12


Dalam Bus. 21.55 WIB.

Kursi 12B, dekat jendela. Jok kulit sintetis, sobek di pinggir.

Galang duduk. Keringat di punggung. Ia buka kancing kemeja paling atas.

Di tangan, tiket. Sudah lemas.

Tiket Bus

PO. Antar Jaya

Nama: Galang Pratama

Keberangkatan: 22.00

Perkiraan Tiba: 06.00

Tujuan: Desa Suka Damai, Kec. Pematang Bandar

Rp 180.000

Kursi: 12B

Kernet naik. "Ayo, yang belum naik cepat. Mau jalan!"

Pintu ditutup. 22.01. Bus mundur. Tit... tit... tit...

Lampu terminal lari ke belakang. Gelap datang.

Galang tempel dahi ke kaca. Dingin. Di luar, warung-warung remang, lalu gudang, lalu sawah.

Ia keluarkan gantungan kunci. Kayu. Huruf G goresan pisau. Ditaruh di atas tiket, di pangkuan.

Jempolnya mau merobek tiket. Tinggal tarik. Turun sekarang juga masih bisa. Bilang sakit perut.

Bus masuk tol. Laju. Wung...

Tangan Galang berhenti. Ia genggam gantungan kunci. Kayunya menusuk telapak.

 

Orang Asing di Sebelahnya


23.30 WIB. KM 57.

Kursi 12A kosong sampai pintu tol. Lalu bapak-bapak naik. Umur 60-an. Batik lusuh, tas plastik hitam, sandal jepit. Bau minyak angin.

"Duduk sini ya, Mas."

Lihat selengkapnya