Turun dari Bus
Terminal kecil Desa Suka Damai. Sore. 16.25 WIB.
Bus berhenti. Remnya berdecit, panjang, seperti mengaduh.
Penumpang turun satu-satu. Ibu gendong anak. Bapak bawa karung beras. Anak SMA seragam putih abu-abu, ketawa sambil dorong temannya.
Galang duduk di kursi 12B. Tidak bergerak.
Kernet nengok. "Mas, Suka Damai. Sudah sampai."
Galang mengangguk. Tangannya meraih tas ransel di atas. Lambat. Seperti tas itu isinya batu.
Ia berdiri. Lorong bus sempit. Langkah pertama berat. Kedua lebih berat.
Di pintu, ia berhenti.
Di bawah, tanah. Tanah merah. Retak-retak karena kemarau. Ada bekas jejak ban sepeda, jejak sandal, jejak ayam.
Sepuluh tahun. Tanah yang sama.
Galang turun satu anak tangga. Berhenti lagi.
Angin sore menyentuh wajah. Bawa bau. Asap pembakaran sampah, sedikit amis dari selokan, dan... bau daun mangga. Samar.
Ia menghirup. Dalam. Sampai dada penuh.
Lalu turun. Kaki kanan dulu.
Begitu sol sepatunya menyentuh tanah, lututnya mau tekuk.
Tanah itu tidak marah. Tidak mengusir. Diam saja.
Galang berdiri tegak. Bus di belakangnya menutup pintu. Brak.
Mesin hidup. Asap hitam. Bus pergi. Suaranya mengecil, mengecil, hilang di tikungan.
Sekarang sepi.
Hanya Galang, tas ransel, dan tanah merah Desa Suka Damai.
Jalan yang Mengenali Langkahnya
Jalan desa. Menuju rumah.
Galang berjalan.
Jalan aspal setengah, setengah tanah. Dulu semua tanah. Sekarang ada tambalan, tapi lubangnya lebih banyak.
Kanan jalan, Warung Bu Aminah. Dinding papan sudah diganti bata setengah. Etalase kaca, isinya kerupuk, sabun colek, minyak curah. Di depan, ada bangku panjang.
Galang lewat. Tidak menoleh.
"Lang?"
Ia berhenti. Suara itu.
Bu Aminah keluar dari warung. Kain di bahu. Tangan basah. Lebih gemuk dari sepuluh tahun lalu. Uban sudah banyak.
Bu Aminah menatap Galang. Lama. Dari sepatu, naik ke wajah. Berhenti di mata.
Galang tidak tahu mau bilang apa. Tangannya genggam tali ransel. Kencang.
Bu Aminah mengangguk. Pelan. Sekali.
"Akhirnya pulang juga, Lang."
Tidak ada "Ke mana saja?" Tidak ada "Kenapa baru sekarang?" Tidak ada "Ayahmu sakit tahu."
Hanya itu.
Galang membuka mulut. Kering. Ia mengangguk. Juga sekali.
Lalu jalan lagi.
Di belakang, Bu Aminah kembali ke warung. Suara radionya kecil-kecil: ...inilah dia, lagu nostalgia...
Masjid masih di sana. Kubah hijau, catnya baru. Bedugnya sama. Dulu Galang suka tidur di terasnya kalau main petak umpet.
Lapangan bola. Dulu tanah lapang. Sekarang setengahnya jadi PAUD. Temboknya warna-warni. Ada gambar kelinci.
Rumah Pak RT. Dulu pagar kayu. Sekarang besi hitam. Tapi pohon jambu di depannya masih. Lebih tinggi.
Suara ayam. Petok-petok. Suara anak-anak. Awas lu! Oper sini!
Anginnya sama. Sore, dingin, bawa bau rumput dipotong.
Kaki Galang hafal jalan ini. Padahal kepalanya lupa. Belok kiri setelah tiang listrik miring. Lewati selokan kecil. Jangan injak tutupnya, lapuk.
Desa tidak lupa Galang. Meski Galang berusaha melupakan desa.
Pohon Mangga
Depan rumah lama. 16.50 WIB.
Galang berhenti.
Di depannya, pohon mangga.