Sebelum Rumah Menjadi Sepi

GAZALI
Chapter #4

BAB 4 — RUANG YANG MASIH MENUNGGU


Masuk ke Rumah


Sore.

Galang melepas sandal.

Lantai semen. Dingin. Di ujung, retak seperti dulu. Tidak ditambal. Hanya menghitam.

Ia melangkah. Satu.

Jam dinding. Kayu jati. Angka romawi. Tik. Tik.

Dulu suara itu ganggu kalau mau tidur. Sekarang suara itu satu-satunya yang bilang, "Ya, kamu di rumah."

Foto keluarga masih di sana. Bingkai kayu. Kaca retak di pojok kiri bawah. Galang SMP. Cengengesan. Di tengah, Ayah. Tangan kanan di bahu Galang. Kotor tanah.

Radio tua di sudut. Merk National. Tombolnya tinggal tiga. Dulu selalu nyala jam lima sore. Sekarang diam. Debu tipis di atasnya.

Tidak ada yang berubah.

Justru itu yang bikin dada Galang sesak. Kalau semua berubah, ia bisa nyalahin waktu.

Tapi rumah ini menolak lupa.

 

Segelas The


Dapur. Sore.

Kompor. Api biru. Cerek aluminium bunyi nging pelan.

Ibu di depan kompor. Punggung bungkuk sedikit. Rambut putih diikat, ada yang lepas.

Tidak menoleh. Tangannya ambil cangkir kaca. Satu sendok teh. Dua gula. Diaduk. Ting. Ting. Ting.

Galang berdiri di pintu dapur. Tidak duduk.

Ibu taruh cangkir di meja kayu. Dorong pelan ke arah kursi kosong.

Galang maju. Duduk. Kayu kursi berderit.

Ibu duduk juga. Tangannya gemetar waktu angkat cangkir sendiri.

Mereka bicara.

"Nino sudah sekolah?" Ibu tanya. Matanya ke teh.

"Sudah. TK besar."

"Nisa sehat?"

"Sehat, Bu."

Sunyi.

Cuma suara cicak. Cek. Cek. Di dinding.

Galang aduk teh. Pelan. Sendok ketemu kaca.

Ibu tidak tanya, "Kenapa baru sekarang?" Galang tidak cerita, "Aku diusir kerjaan".

Teh diminum. Panas. Tenggorokan Galang perih.

 

Kamarmu Masih Sama


Kamar Galang. Sore.

Pintu kayu. Cat hijau muda. Bekas stiker bola dikelupas paksa. Masih ada.

Ibu pegang gagang. Tua. Uratnya biru.

Dorong. Krek.

Bau kayu. Bau buku. Bau kapur barus. Bau sepuluh tahun lalu.

Kasur. Seprei biru kotak-kotak. Bantal satu. Guling kempes.

Meja belajar. Kayu jati. Di pojok ada goresan pisau: G.A.L.A.N.G IX A.

Rak buku. Laskar Pelangi. Sampulnya pudar. Ensiklopedia IPA jilid 3. Bola basket kempes di bawah.

Poster Peterpan. Taman Langit. Ujungnya melengkung.

Galang masuk. Lantai kayu berderit di papan ketiga dari pintu. Sama.

Ia sentuh meja. Debu tipis. Berarti baru dilap.

Di atas lemari, kotak kayu. Seukuran kotak sepatu. Kuncinya menggantung. Karatan.

Galang lihat ke atas. Tidak tanya.

Ia lihat Ibu. Suaranya lirih. Hampir hilang.

Lihat selengkapnya