Sebelum Rumah Menjadi Sepi

GAZALI
Chapter #5

BAB 5 — BAHASA YANG TIDAK PERNAH HILANG

Pagi Pertama


Pagi.

Srak. Srak. Srak.

Galang bangun. Langit-langit kamar masih ada sarang laba-laba kecil di sudut. Dulu tidak ada.

Ia turun dari kasur. Lantai semen dingin. Nyeker.

Pintu kamar dibuka. Kriit.

Halaman. Ibu. Membungkuk. Sapu lidi di tangan. Kain sarung dililit jadi sapu pinggang.

Ibu tidak nengok. "Sudah bangun?"

Galang garuk kepala. "Iya, Bu."

Embun masih di ujung rumput. Ayam belum berani keluar kandang.

Di tembok, sapu satu lagi. Berdiri. Gagangnya pendek.

Galang ambil. Kayunya kasar. Ada getah kering.

Tidak ada "Biar Ibu saja". Ibu cuma geser, kasih Galang bagian halaman yang belum.

Srak. Srak.

Dua orang. Dua sapu. Matahari baru naik setengah.

Debu kena sinar. Kuning. Melayang.

Ibu berhenti. Pegang pinggang. Napasnya berat sedikit.

Galang berhenti juga. "Bu, istirahat."

Ibu senyum. Kecil. "Dulu kamu yang ngajarin Ibu nyapu, ingat?"

Galang diam. Ia ingat. Umur 7 tahun. Sapunya kebesaran.

 

Sarapan


Ruang makan. Pagi.

Meja kayu. Empat kursi. Satu kosong.

Ayah sudah duduk. Dekat jendela. Pegang tongkat kayu. Ujungnya karet hitam. Disandarkan ke meja.

Ibu taruh nasi. Masih mengepul. Lauk tempe, telur dadar, sambal.

Galang tarik kursi. Di depan Ayah.

Kayunya krek.

Mereka makan.

Tidak ada "Silakan". Hanya sendok.

Ting. Ting. Sendok ketemu piring seng.

Galang ambil tempe. Ayah ambil lalap. Tangan kiri. Gemetar sedikit. Tapi sampai.

Mata mereka ketemu. Sekali. Di atas uap nasi.

Galang cepat-cepat nunduk. Nasi dikunyah. Hambar. Padahal sambalnya pedas.

Ayah juga nunduk. Kunyah pelan.

Ibu tuang teh. Dua cangkir. Dorong satu ke Galang. Satu ke Ayah.

Uap teh naik. Bau melati.

Di luar, burung di jemuran. Cit. Cit.

Dialog hanya dua kalimat.

Ibu: "Nasinya cukup?"

Galang: "Cukup, Bu."

Habis.

 

Gelas Air


Masih di meja makan. Pagi.

Ibu ke sumur. Cuci piring.

Cangkir Ayah kosong. Bibir Ayah kering.

Tangannya gerak. Mau ambil teko. Teko di tengah meja. Dua jengkal.

Tangan kanan di paha. Diam. Tangan kiri naik. Gemetar. Jari-jarinya hampir sampai.

Galang lihat.

Tidak mikir. Galang berdiri setengah. Dorong teko ke dekat tangan kiri Ayah.

Ayah berhenti gerak. Menatap teko. Lalu menatap Galang.

Matanya tidak marah. Tidak sedih.

Hanya... capek.

Lalu angguk. Sekali. Pelan.

Galang duduk lagi.

Ayah tuang air pakai tangan kiri. Sedikit tumpah ke tatakan. Tidak apa.

Galang pura-pura tidak lihat. Ambil sendok, aduk teh yang sudah dingin.

Tapi telinganya panas.

 

Halaman Belakang


Lihat selengkapnya