Sebelum Rumah Menjadi Sepi

GAZALI
Chapter #6

BAB 6 — KATA YANG TAK PERNAH SAMPAI

Pagi yang Canggung


Pagi.

Uap nasi naik dari bakul. Bau pandan.

Meja makan. Empat kursi. Ayah sudah di kursinya, dekat jendela. Pegang tongkat, disandarkan ke meja. Tangan kiri di atas paha. Tangan kanan diam.

Ibu taruh telur dadar. Bagi tiga.

Galang tarik kursi. Di depan Ayah. Kayunya krek.

Sendok. Piring seng. Ting.

Galang mau bicara. Sudah dilatih sejak bangun. "Yah, tidurnya nyenyak?"

Yang keluar:

"Ayah..."

Ayah nengok. Sendok berhenti di udara.

Galang lanjut. Tenggorokan kering.

"...tehnya kurang hangat."

Bodoh.

Ayah lihat cangkirnya. Uap masih ada.

Lalu angguk. Pelan. Minum. Satu teguk.

Ibu dari dapur lihat. Lap di bahu. Tidak komentar.

Galang suap nasi. Tidak ada rasa.

 

Pak Hadi Datang


Teras. Sore.

Pintu pagar kriit.

Lelaki. Lima puluhan akhir. Kaos oblong, celana pendek. Kulit legam. Di tangan, plastik hitam. Isinya bibit. Cabai, terong, kemangi.

"Assalamualaikum," suaranya besar.

Ibu dari dalam jawab, "Waalaikumsalam, Pak Hadi."

Pak Hadi lepas sandal. Naik teras. Tidak sungkan.

Ayah di kursi teras. Bukan kursi roda. Kursi kayu. Tongkat di samping.

Pak Hadi jongkok di depan Ayah. "Panasnya enak hari ini, Ri."

Ayah tidak jawab. Matanya ke pohon mangga.

Pak Hadi angguk sendiri. "Iya. Kayaknya mau berbuah lagi."

Galang keluar bawa teh. Dua gelas.

Pak Hadi lihat Galang. Matanya sipit ketawa. "Heh. Kupikir kamu lupa jalan pulang."

Galang senyum. Malu. "Baru ingat, Pak."

Pak Hadi tepuk bahu Galang. Sekali. Keras. "Bagus. Rumahmu kangen."

Tidak tanya "Ke mana aja?". Tidak bilang "Anak durhaka".

Justru itu yang bikin Galang tidak enak.

 

Bahasa Mata


Teras. Sore.

Pak Hadi duduk di bangku kayu. Galang di lantai teras.

Ayah di tengah. Pegang cangkir teh pakai dua tangan. Tangan kanan gemetar, jadi kiri yang bantu.

Pak Hadi cerita. "Bibit tomat kemarin sudah tinggi sejengkal, Ri."

Ayah tidak jawab. Kedip. Sekali.

Pak Hadi ketawa. "Oh. Kurang air?"

Ayah lihat ke ember plastik di samping. Cepat. Balik lagi.

Pak Hadi angguk. "Besok saya siram."

Galang bengong.

Pak Hadi nengok. "Kenapa? Bingung?"

Galang garuk kepala. "Iya, Pak. Kok Bapak tahu?"

Pak Hadi sedot teh. Slruup. "Ayahmu kalau mau sesuatu, dia nggak minta. Dia lihat."

Galang lihat Ayah. Ayah lihat pohon mangga.

"Kalau dia lihat jendela lama, artinya mau keluar," kata Pak Hadi. "Kalau lihat teko, haus. Kalau gosok lengan, dingin. Kalau diam lihat kamu..."

Pak Hadi berhenti. Senyum.

"Itu artinya dia nunggu kamu ngomong duluan. Tapi nggak tahu caranya."

Galang tunduk. Lihat teh sendiri. Sudah dingin.

 

Lihat selengkapnya