Sebelum Rumah Menjadi Sepi

GAZALI
Chapter #7

BAB 7 — SETIAP SENJA

Rutinitas Pagi


Pagi.

Air di ember. Dingin.

Galang di kamar mandi. Gayung plastik biru. Guyur. Sekali. Dua kali.

Di luar, suara sandal Ibu. Sret. Sret. Ke kamar Ayah.

Pintu kamar Ayah kebuka sedikit.

Galang pakai handuk, keluar. Berdiri di ambang.

Ibu jongkok. Bantu Ayah duduk di tepi kasur. Pakaikan kaus. Lengan kiri dulu. Lalu kanan. Pelan.

Ayah diam. Matanya ke jendela.

Galang masuk. "Bu, biar aku."

Ibu nengok. Ragu. Lalu geser. Kasih baju Ayah. Kemeja kotak-kotak.

Galang jongkok. Canggung. Kancing pertama. Tangannya gemetar.

Ayah lihat tangan Galang. Tidak komentar.

Kancing kedua. Ketiga.

Selesai.

Galang bantu sisir. Rambut Ayah tipis. Putih.

Ayah senyum kecil. Di kaca lemari, kelihatan.

Ibu di pintu. Lihat. Lalu ke dapur. Tidak bilang "Terima kasih".

Tidak perlu.

 

Jam Empat Sore


Teras. Sore.

Matahari masih tinggi. Belum oranye.

Ayah di kursi kayu teras. Bukan kursi roda. Pegang tongkat. Ujung karetnya nempel lantai.

Ia lihat ke Galang. Lalu lihat ke pintu. Lalu ke jalan desa.

Galang lagi nyapu. Berhenti.

Ayah angkat dagu. Sedikit. Arah jalan.

Galang taruh sapu. "Mau keluar, Yah?"

Ayah angguk. Sekali.

Galang ke samping. Sodor siku.

Ayah berdiri. Pelan. Berat ke tongkat. Tangan kiri pegang siku Galang.

Langkah pertama. Tek. Tongkat dulu. Kaki kiri. Kaki kanan nyeret sedikit.

Langkah kedua. Tek.

Sampai pinggir teras.

Di halaman, kursi roda terlipat. Bersandar di tembok. Tidak dipakai. Hari ini Ayah kuat.

Ayah duduk di kursi teras. Hadap jalan.

Bukan kebun. Bukan langit.

Jalan tanah. Yang dulu Galang lewati waktu pergi.

Ia duduk diam. Hampir satu jam.

 

Orang-Orang yang Lewat


Teras. Sore.

Anak-anak pakai sarung. Dari langgar. Ketawa-ketawa. Lewat depan rumah.

"Punten, Kek!" teriak satu anak.

Ayah angkat tangan kiri. Lambaikan. Pelan.

Anak-anak lewat.

Petani. Pikul cangkul. Baju lusuh. "Monggo, Pak Rian."

Ayah angguk.

Lihat selengkapnya