Rutinitas Baru
Pagi merayap lewat celah jendela. Ayam belum habis berkokok.
Galang sudah di dapur. Mengisi teko dengan air hangat. Menaruh obat di piring kecil, sebelahnya gelas. Handuk bersih ia gantung di sandaran kursi. Pakaian Ayah ia lipat di ujung meja.
Tidak ada yang menyuruh.
Ibu berdiri di depan kompor. Mengaduk sayur. Sesekali melirik. Tidak bicara. Tapi ujung bibirnya naik. Sedikit.
Galang membawa semua ke kamar Ayah. Menaruh di nakas. Ayah menatapnya. Tidak kaget. Tidak juga senang berlebihan. Hanya mengangguk. Sekali.
Galang keluar.
Dari dapur, Ibu melihat punggung anaknya. Ia menarik napas. Dalam.
Bukan karena semua selesai.
Tapi untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, beban di pundaknya terasa lebih ringan.
Papan Catur
Sore turun. Angin menyapu daun kering di teras.
Pak Hadi datang. Di ketiaknya, papan catur tua. Kayunya retak di sudut. Bidak hitam putih sudah menguning.
Ia duduk di bangku bambu, berhadapan dengan Ayah. Tidak bicara. Membuka papan. Menyusun bidak.
Ayah menatap papan itu. Tangan kirinya bergerak. Mengambil pion. Gemetar. Tapi sampai.
Mereka main. Sunyi. Hanya suara kayu bertemu kayu. Sesekali suara jangkrik.
Galang duduk di tangga, memperhatikan.
Pak Hadi menggeser kuda. Menatap Ayah. Senyum.
“Dulu ayahmu selalu menang,” katanya. “Sekarang, kalau aku menang pun rasanya tidak enak.”
Ayah tidak menjawab. Hanya mengangkat ujung bibir. Tipis.
Pak Hadi mengangguk. Menggeser menteri.
Ayah membalas. Lambat.
Galang mengerti. Mereka tidak sedang bermain. Mereka sedang mempertahankan sesuatu yang lebih tua dari papan itu.
Pertanyaan yang Ditahan
Matahari hampir hilang. Galang mengantar Pak Hadi sampai gerbang.
Di bawah pohon mangga, Pak Hadi berhenti. Menaruh topi di kepala.
Galang menunduk. Menggaruk tanah dengan ujung sandal.
“Pak...” suaranya pelan. “Sebenarnya apa yang terjadi setelah saya pergi?”
Pak Hadi tidak langsung menoleh. Ia melihat jalan. Lama.
Lalu menarik napas. Panjang. Mulutnya membuka.
Galang menunggu.
Tapi Pak Hadi menutup mulut lagi. Menatap Galang. Matanya teduh.
“Ada cerita yang bukan hak saya untuk menceritakannya,” katanya.
Ia menepuk bahu Galang. Sekali. Lalu berjalan.