Pagi yang Hampir Normal
Pagi datang. Ayam di luar tidak terlalu ribut.
Galang bangun lebih dulu. Mengisi teko. Menaruh obat di piring kecil. Handuk bersih ia lipat di sandaran kursi Ayah. Pakaian ganti ia gantung di pintu.
Semua tanpa suara. Tanpa disuruh.
Dari dapur, Ibu melihat. Tangannya berhenti mengaduk sayur. Matanya menatap punggung Galang. Lalu senyum. Kecil. Tidak lebar.
Bukan karena semua sudah selesai.
Tapi karena untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, beban di pundaknya tidak ia pikul sendiri.
Ayah keluar kamar. Berjalan pelan, pakai tongkat. Langkahnya pendek. Menyeret kaki kanan. Sesampai di kursi, ia duduk. Napasnya berat. Tapi ia tersenyum ke Galang.
Galang membalas. Tipis.
Rumah terasa... hampir normal.
Lemari Lama
Siang. Panas masuk lewat genteng.
Ibu memanggil dari kamar.
“Lang, pintu lemari macet. Bisa benerin?”
Galang masuk. Ayah sedang tidur siang di kursi rotan.
Ia jongkok di depan lemari kayu tua. Kayunya sudah pudar. Pegangannya longgar. Galang membuka pelan. Engselnya berdecit.
Di dalam, baju Ayah tersusun. Rapi. Bau kapur barus.
Di rak paling bawah, ada tumpukan. Galang menarik satu. Seragam SMA. Putih abu-abu. Namanya masih dibordir di dada.
Di sebelahnya, sepatu hitam. Ujungnya mengelupas. Tapi bersih. Tidak berdebu.
Ada piagam. Juara dua lomba cerdas cermat. Ada bola plastik. Kempis. Ada mobil-mobilan kayu.
Galang memegang seragam itu. Kainnya lemas. Tapi tidak apek.
Artinya... seseorang rutin membersihkannya.
Galang menoleh ke Ayah. Ayah masih tidur. Dada naik turun.
Galang menutup lemari pelan-pelan.
Ayah tidak pernah benar-benar melepas Galang.
Lemari itu bukan tempat menyimpan. Itu tempat menjaga.
Tiket Bus
Sore. Angin membawa bau tanah basah.
Galang duduk di lantai kamar Ayah. Membereskan buku-buku lama yang jatuh waktu ia benerin lemari.
Satu buku jatuh. Halaman terbuka. Dari dalamnya, meluncur kertas kecil.
Galang memungut. Tiket bus. Warnanya sudah pudar. Tulisannya hampir hilang.
Tapi tanggalnya masih kebaca.
Hari ketika ia meninggalkan rumah. Sepuluh tahun lalu.
Galang membeku. Jari-jarinya dingin.
Kenapa tiket ini ada di rumah?
Bukankah tiket itu seharusnya ikut bersamanya?
Ia ingat meremasnya di terminal. Membuangnya ke tong sampah.
Ia menatap tiket itu lama. Bau kertas tua masuk ke hidung.
Misteri pertama.
Jawaban yang Berbeda
Malam. Ibu menyulam di ruang tengah.
Galang duduk di samping. Menyerahkan tiket itu.
“Bu... ini kenapa ada di sini?”
Ibu berhenti menyulam. Menatap tiket. Lalu menatap Galang.