Sebelum Rumah Menjadi Sepi

GAZALI
Chapter #11

BAB 11 - Orang yang Tidak Pernah Bercerita Tentang Dirinya

Berjalan Sendiri

Pagi belum panas. Embun masih menempel di ujung rumput.

Galang menutup pintu depan pelan. Tidak bilang ke Ibu. Tidak bangunkan Ayah.

Ia berjalan. Menyusuri jalan desa. Melewati rumah-rumah yang atapnya sudah banyak ganti seng. Dulu, semua masih genteng tanah.

Anjing di ujung gang menggonggong sekali. Lalu diam. Mengenali.

Galang menunduk. Menatap kakinya. Jalan ini dulu tempat ia berlari, marah, lalu pergi.

Hari ini ia berjalan. Pelan.

Bukan untuk bernostalgia.

Ia ingin tahu, apa yang ditinggalkannya selain rumah.

 

Warung Bu Aminah

Warung di tikungan masih sama. Catnya pudar. Tapi toples-toples di etalase tetap rapi. Aroma minyak dan kopi bubuk menyambut.

Bu Aminah di belakang meja. Tangannya membungkus gula. Ia menoleh. Matanya melebar.

“Lang?”

Galang mengangguk. “Bu.”

Bu Aminah keluar dari meja. Memeluk Galang. Sebentar. Hangat. Bau dapur di bajunya.

Galang membeli teh, kopi, dan gula. Menaruh uang di meja.

Bu Aminah menggeleng. Mendorong uang itu balik.

“Simpan.”

Galang bingung. “Kenapa?”

Bu Aminah tersenyum. Lipatan di matanya dalam.

“Dulu ayahmu sering bantu saya waktu warung ini hampir tutup. Beliau kirim beras. Diam-diam. Waktu itu anak saya sakit.”

Galang diam. Tangannya menggantung di udara.

“Saya... tidak pernah dengar.”

Bu Aminah menepuk tangan Galang.

“Ayahmu memang begitu. Memberi tanpa cerita.”

Galang mengambil belanjaan. Melangkah keluar.

Di pintu, ia menoleh. Bu Aminah melambaikan tangan.

Tampak Jalan desa kosong, tak berubah seperti sepuluh tahun lalu waktu ia pergi meninggalkannya.

 

Tukang Becak

Siang merayap. Galang lewat lapangan.

Becak mangkal di bawah pohon trembesi. Tukang becak tua duduk, kipas-kipas dengan topi.

Ia menoleh. Menatap Galang lama. Lalu tertawa.

“Kamu mirip ayahmu. Orangnya sama-sama keras kepala.”

Galang berhenti. “Bapak kenal Ayah?”

“Kenal?” Tukang becak meludah ke tanah. “Seminggu sekali dia titip sembako. Suruh antar ke rumah Bu Siti. Yang suaminya lumpuh itu.”

Ia menunjuk dagu. “Tidak boleh bilang dari siapa. Katanya titip saja.”

Galang menelan ludah.

“Ayah tidak pernah bilang.”

Tukang becak mengangguk. Naik ke sadel.

“Orang baik tidak suka rame, Nak.”

Ia mengayuh becak. Pelan. Meninggalkan Galang di bawah pohon.

Lihat selengkapnya