Sebelum Rumah Menjadi Sepi

GAZALI
Chapter #12

BAB 12 - Nama yang Masih Diingat

Undangan ke Mushola

Pagi menyentuh atap seng. Ayam belum berhenti berkokok.

Ketukan di pintu. Tiga kali. Pelan.

Galang membuka. Pengurus mushola berdiri di teras. Sarungnya dililit, peci miring. Umurnya sudah lewat enam puluh.

“Lang,” katanya. “Bisa ke mushola sebentar?”

Galang mengerutkan dahi. “Ada apa, Pak?”

“Bukan rapat. Anak-anak mau ketemu.” Orang tua itu tersenyum. “Mereka minta ketemu anak Pak Hasan.”

Galang diam.

Selama ini ia hanya Galang. Anak yang pergi. Anak yang pulang.

Hari itu, namanya ditempel nama lain.

Ia mengangguk. “Sebentar, Pak.”

 

Tempat yang Masih Sama

Jalan ke mushola tidak jauh. Melewati selokan kecil, pohon nangka, jemuran baju.

Galang mendorong pintu kayu. Engselnya berdecit. Bau karpet tua dan kapur barus menyambut.

Di dalam, rak Al-Qur’an masih di sudut. Catnya mengelupas. Papan tulis kecil menggantung di dinding. Kapur putih patah-patah di baki.

Di ujung, bangku kayu panjang. Tempat Ayah biasa duduk, kata Ibu dulu. Bangku itu masih di sana. Kosong. Tidak ada yang menempati.

Galang menyentuh pinggiran papan tulis. Debu tipis di ujung jari.

Semuanya sederhana.

Tapi tidak ada yang berubah.

Seperti waktu sengaja berhenti di sini.

 

Cerita Anak-anak

Satu-satu mereka datang. Remaja. Umur belasan. Ada yang pakai seragam sekolah, ada yang masih pakai kaus.

Yang paling besar, namanya Rian. Ia menaruh peci di dada.

“Pak Hasan nggak pernah marah kalau kami salah baca,” katanya.

Yang lain, Dodi, menyela sambil tertawa.

“Marah, kok. Tapi habis itu ngajarin lagi. Pelan-pelan.”

“Kadang dibawain singkong rebus,” tambah yang kecil, Udin. “Katanya biar kuat ngaji.”

Mereka bicara bergantian. Ada yang ingat Ayah membetulkan kipas angin. Ada yang ingat Ayah membersihkan kamar mandi waktu mampet.

Cerita mereka beda-beda. Ada yang lupa tanggal. Ada yang salah tempat.

Tapi satu hal sama: Ayah selalu datang lagi besoknya.

Galang duduk di lantai. Mendengar. Tidak menyela.

 

Papan yang Retak

Galang berdiri. Mendekat ke papan tulis.

Di tengah, retakan panjang. Dari atas sampai bawah. Kayunya sudah melengkung.

Pengurus mushola ikut berdiri di samping.

“Mau saya ganti,” katanya. “Tiga tahun lalu.”

Ia menunjuk retakan itu.

“Pak Hasan bilang jangan. Katanya, selama masih bisa dipakai, masih ada manfaatnya.”

Galang menatap retakan itu. Kasar. Hitam di sela-sela.

Lihat selengkapnya