Kembali ke Kebun
Pagi baru naik. Kabut tipis masih menggantung di pucuk pohon.
Galang berjalan sendiri. Tidak bilang ke Ibu. Tidak membangunkan Ayah.
Di kebun, Pak Hadi sudah ada. Memegang sabit, memangkas ranting liar. Bunyi krek, krek, jatuh ke tanah.
Galang mendekat. Mengambil cangkul di gubuk. Ikut mencabut rumput.
Tidak ada sapaan. Tidak ada tanya.
Hanya suara daun, tanah, dan napas mereka.
Keheningan itu tidak canggung.
Sudah akrab.
Pohon Tertua
Siang merayap. Matahari menembus sela daun.
Pak Hadi berhenti. Mengelap keringat dengan lengan baju. Menunjuk pohon mangga paling besar di sudut kebun.
Batangnya dua pelukan orang dewasa. Kulitnya pecah-pecah. Akarnya keluar, mencengkeram tanah merah.
“Duduk,” kata Pak Hadi.
Mereka duduk di bangku bambu di bawahnya. Kayunya sudah licin, hitam karena sering dipakai.
Pak Hadi menepuk batang pohon.
“Pohon ini ditanam ayahmu sebelum kamu lahir.”
Galang menoleh. Mengusap kulit batang itu. Kasar. Dingin. Bau getah tua.
Ia memejamkan mata. Membayangkan Ayah muda, mencangkul, menanam.
Waktu yang berlalu terasa berat di telapak tangannya.
Pertanyaan yang Berbeda
Angin sore lewat. Daun-daun mangga bergesek.
Galang memetik daun kering di tanah. Meremasnya.
Kali ini ia tidak bertanya, “Apa yang terjadi?”
Ia menoleh ke Pak Hadi.
“Seperti apa Ayah dulu, Pak?”
Pak Hadi menatapnya. Lalu tersenyum. Garis di wajahnya dalam.
Pertanyaan itu lebih ringan.
Ia bersandar ke batang pohon.
“Keras kepala,” katanya. “Kalau kerja, tidak mau berhenti sebelum selesai.”
Ia diam sebentar. Mengambil napas.
“Sulit minta bantuan. Malu. Tapi kalau ada orang susah, dia datang paling dulu.”
Pak Hadi menunjuk tangannya sendiri.
“Ini,” katanya. “Bekas luka. Jatuh dari atap tetangga. Waktu itu gentengnya bocor. Ayahmu yang naik. Aku cuma pegang tangga.”
Galang mendengar. Tidak menyela.
Cerita itu tidak membuat Ayah sempurna.
Justru membuat Ayah manusia.
Janji
Pak Hadi menunduk. Mengambil batu kecil. Melempar ke kolam. Plung.