Sebelum Rumah Menjadi Sepi

GAZALI
Chapter #14

BAB 14 - Bahasa yang Tidak Pernah Diucapkan

Baju yang Sobek

Pagi merayap masuk lewat celah pintu. Angin membawa bau cucian basah.

Galang mengangkat keranjang dari jemuran. Satu-satu ia melipat. Kaos, sarung, celana.

Tangannya berhenti. Kemeja Ayah. Lengan panjang, warna cokelat pudar. Kancing paling atas hampir lepas. Benangnya tinggal sehelai.

Galang mengangkat kemeja itu.

“Bu, ini sudah sobek. Beli baru saja.”

Ibu menoleh dari sumur. Tangan masih berbusa. Ia tersenyum. Kecil.

“Ayahmu pasti memilih memperbaikinya.”

Galang menatap kancing itu. Bergoyang kalau kena angin.

Ibu melanjutkan, sambil menyikat.

“Baginya, yang rusak dijaga. Bukan diganti.”

Galang diam. Melipat kemeja itu. Lebih hati-hati.

 

“Ayah terbiasa menjaga, bukan mengganti.”

 

Mesin Jahit

Siang. Matahari tinggi. Panas menyentuh lantai.

Di ruang tengah, mesin jahit tua berderit. Kayunya sudah gelap. Pedalnya dipijak Ibu, naik turun.

Galang duduk di lantai. Menyandar ke dinding. Bau minyak mesin dan kain lama memenuhi udara.

Suara mesin mengisi rumah. Teratur. Seperti napas.

Di sela bunyi itu, Ibu bicara. Tidak menoleh. Tangannya tetap lurus di kain.

“Dulu ayahmu sering pulang bawa baju sobek karena kerja.”

Jarum turun naik.

“Yang pertama dia tanya bukan makan.”

Mesin berhenti sebentar. Ibu menggunting benang.

“Tapi kamu sudah tidur atau belum.”

Galang menatap punggung Ibu. Bahunya naik turun pelan.

Mesin berbunyi lagi.

Galang tidak menjawab. Hanya menarik napas. Dalam.

 

Payung

Sore. Langit gelap tiba-tiba. Angin kencang.

Tetes pertama jatuh di seng. Lalu deras.

Galang berdiri di pintu. Menatap hujan. Bau tanah basah naik.

Di sudut, payung hitam. Gagangnya bambu. Sudah pecah di ujung. Kainnya pudar.

Ibu lewat membawa baskom. Melihat Galang menatap payung.

Ia berhenti. Tersenyum kecil.

“Itu payung yang selalu dibawa ayahmu kalau hujan.”

Galang memegang gagangnya. Dingin.

“Supaya Ayah tidak kehujanan?”

Ibu menggeleng. Mengambil handuk di tali.

“Supaya kalau kamu pulang sekolah kehujanan, dia bisa menjemput.”

Galang membeku. Jari-jarinya erat di gagang payung.

Hujan makin deras. Suaranya menutup semua.

 

 

Teh Hangat

Malam. Lampu kuning di ruang tengah.

Ibu dari dapur. Membawa dua cangkir. Uapnya naik. Bau melati.

Satu cangkir ditaruh di depan Ayah. Di meja kecil. Tanpa bertanya. Tanpa suara.

Ayah menoleh. Mengangguk. Tangannya mengambil cangkir. Gemetar. Ia minum pelan. Seteguk. Dua teguk.

Ibu duduk di kursi rotan. Merajut. Jarumnya bergerak. Klik. Klik.

Tidak ada percakapan.

Lihat selengkapnya