Laci yang Selalu Dikunci
Pagi merayap masuk lewat celah gorden. Debu menari di cahaya.
Galang lewat kamar Ayah. Pintu terbuka sedikit.
Ayah di sana. Berdiri memegang tongkat. Membungkuk. Pelan-pelan membuka lemari tua. Engselnya berderit.
Dari celah pintu, Galang melihat. Ayah mengambil kotak kayu kecil. Ukurannya dua jengkal. Warnanya gelap. Sudutnya halus karena sering disentuh.
Ayah duduk di pinggir tempat tidur. Menaruh kotak itu di pangkuan. Tidak dibuka.
Hanya dipegang. Lama. Ibu jarinya mengusap permukaan kayu. Naik turun.
Lalu Ayah memasukkan lagi. Ke dalam lemari. Mengunci dengan kunci kecil. Suara klik pelan.
Galang mundur. Tidak bersuara.
Kotak itu lebih penting daripada isinya.
Kunci Kecil
Siang. Panas menyentuh ubin.
Galang membantu Ayah ganti baju. Kemeja lengan pendek. Kancingnya banyak.
Waktu membuka kancing kedua dari atas, kerah tersingkap.
Di balik leher Ayah, tergantung tali merah. Sudah pudar. Di ujungnya, kunci kecil. Kuning. Kusam.
Ayah sadar Galang melihat. Tangannya yang gemetar naik. Menggenggam kunci itu. Erat.
Tidak bicara. Tapi matanya bilang: jangan.
Galang mengangguk. Melanjutkan mengancing.
Kunci itu sering disentuh. Pinggirannya licin.
Pertanyaan kepada Ibu
Sore. Angin masuk lewat jendela dapur. Bau bawang goreng.
Ibu mengupas singkong. Galang duduk di bangku kayu. Memetik daun kemangi.
“Kotak itu apa, Bu?” Suara Galang rendah.
Pisau Ibu berhenti di udara. Lama.
Ia menaruh pisau. Menatap Galang. Matanya tenang.
“Benda itu bukan untuk disembunyikan.”
Galang menunggu.
Ibu mengambil singkong lagi. Mengupas.
“...hanya belum waktunya.”
Suaranya pelan. Tapi berat.
Galang menunduk. Meremas daun kemangi. Bau langu di jari.
Jawaban itu sederhana.
Namun menyimpan makna besar.
Pak Hadi Mengerti
Sore hampir habis. Galang ke rumah Pak Hadi. Tidak jauh.
Pak Hadi di depan rumah. Memperbaiki pagar bambu.
Galang tidak menyebut kotak. Tidak menyebut kunci.
Hanya berdiri di samping. Ikut memegang bambu.
Pak Hadi melirik. Tahu.
Ia mengikat bambu dengan kawat.
“Kadang rasa ingin tahu bisa membuat kita menemukan jawaban,” katanya.
Tangannya berhenti. Menatap Galang.
“Tapi belum tentu membuat kita siap menerimanya.”
Galang menelan ludah.
Pak Hadi tersenyum. Tipis. Menepuk bahu Galang.
Tidak menjelaskan isi kotak.