Sebelum Rumah Menjadi Sepi

GAZALI
Chapter #16

BAB 16 - Terminal yang Masih Mengingat

Keinginan yang Muncul

Pagi baru naik. Embun masih di ujung daun.

Galang di dapur. Membantu Ibu mencuci piring. Tangannya berbusa.

Ia berhenti. Menaruh piring. Mengelap tangan di celana.

“Bu...” suaranya pelan. “Aku ingin ke terminal.”

Ibu menoleh. Tangan berhenti di bak cuci. Air masih menetes.

Ia tahu tempat itu bukan sekadar terminal.

Itu tempat seluruh hidup mereka berubah.

Lama.

Lalu Ibu mengangguk. Sekali.

“Hati-hati.”

Galang mengambil kunci motor di gantungan.

 

Perjalanan Pulang ke Masa Lalu

Siang. Jalanan ramai. Asap knalpot. Klakson.

Galang mengendarai motor pelan. Melewati pasar. Melewati SD lamanya. Temboknya sudah dicat biru. Dulu kuning.

Banyak bangunan berubah. Ruko baru. Papan reklame.

Tapi setiap tikungan membangkitkan sesuatu.

Tikungan dekat masjid. Dulu ia jatuh dari sepeda. Ayah menggendongnya pulang.

Perempatan. Dulu ia dibelikan es.

Jalan yang dulu terasa panjang kini terasa sempit.

Tapi kenangan di dalamnya tidak menyempit.

 

Bangku yang Sama

Terminal. Suara bus. Asap solar. Bau keringat dan gorengan.

Banyak yang berubah. Atap baru. Lantai keramik. Loket dicat ulang.

Tapi di sudut, satu bangku besi tua masih ada. Catnya mengelupas. Ada karat di kaki.

Galang mendekat. Duduk. Besinya dingin.

Ia menatap ke depan. Ke jalur bus.

Ia mulai mengingat malam itu.

Suara hujan. Tangis yang ditahan. Lampu bus menyala. Pintu menutup.

Tapi...

Ada bagian yang kosong.

Antara ia naik bus dan bus jalan.

Seperti ada potongan yang hilang.

Galang meremas ujung bangkunya. Dingin.

 

Penjual Teh

Sore turun. Lampu terminal menyala. Kuning. Suram.

Dari gerobak, aroma teh panas.

Penjual tua mendekat. Bawa dua gelas plastik. Rambutnya putih semua. Kumis tipis.

Ia menaruh satu gelas di samping Galang. Duduk. Tidak izin.

“Kamu anak Pak Hasan, ya?”

Galang menoleh. Kaget. Mengangguk. “Iya, Pak.”

Orang tua itu tertawa. Batuk.

“Sudah lama sekali. Kamu masih kecil waktu itu.”

Mereka minum teh. Hambar. Tapi hangat.

Lalu tiba-tiba lelaki itu berkata,

“Ayahmu waktu itu datang juga.”

Galang membeku. Gelas di tangan berhenti di bibir.

“Apa?”

 

Lihat selengkapnya