Sebelum Rumah Menjadi Sepi

GAZALI
Chapter #17

BAB 17 - Malam yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

Jaket Lama

Pagi masuk lewat celah pintu gudang. Debu beterbangan di cahaya.

Galang membuka pintu kayu. Engselnya menjerit pelan. Bau tanah dan kardus lama menyambut.

Di pojok, gantungan baju. Di sana, jaket abu-abu. Warnanya pudar. Ujung lengan ada bekas sobek yang pernah dijahit kasar.

Galang mendekat. Jari-jarinya ragu. Lalu menyentuh. Kainnya dingin. Kaku.

Ia mengangkat jaket itu. Debu jatuh ke lantai.

Di saku depan, ada yang mengganjal. Ia merogoh. Karcis parkir motor. Kertasnya tipis. Tinta sudah hampir hilang. Tanggalnya samar.

Begitu jaket itu disentuh...

Udara di gudang jadi berat.

Kenangan naik. Tidak langsung. Satu-satu. Seperti air sumur yang ditarik pelan.

Galang menempelkan jaket ke dada. Bau apek dan sedikit bau hujan lama.

Ia menutup mata.



Suara Hujan

Malam turun.

Hujan mengguyur desa. Tidak deras. Tidak pelan. Irama itu sama.

Tik. Tik. Tik di genteng.

Galang duduk di lantai kamar. Punggung bersandar ke dinding. Lutut ditekuk.

Ia memejamkan mata.

Suara hujan menjadi jembatan.

Menuju malam sepuluh tahun lalu.

Ia ingat suara yang sama. Di teras. Di jalan. Di terminal.

Bau tanah basah. Dingin di kulit.

Galang menarik napas. Dalam.

Membiarkan hujan masuk ke kepala.


Potongan Pertengkaran

Bukan flashback penuh.

Hanya potongan-potongan. Gambar putus-putus.

Ayah berdiri. Wajah merah. Urat di leher keluar.

“Kamu pikir hidup semudah itu?” suara Ayah. Berat.

Galang membalas. Lebih muda. Lebih keras.

“Aku capek diatur terus!”

Pintu dibanting. Kayu bergetar.

Ibu di sudut. Menutup mulut. Bahunya guncang.

Gelas jatuh dari meja. Pecah. Bunyinya nyaring. Kepingan ke mana-mana.

Lalu...

Gelap.

Ingatan berhenti.

Galang membuka mata. Napasnya pendek.

Ia memegang kepala.

Apa yang terjadi setelah gelas pecah?

Kosong.

Seperti ada lembaran sobek dari buku.


Jam Dinding

Pagi. Galang ke ruang tengah.

Di dinding, jam kayu tua. Angka romawi. Sudah kusam.

Jarumnya berhenti di pukul 21.17.

Ibu lewat bawa sapu.

Galang menunjuk. “Jamnya mati, Bu.”

Ibu berhenti menyapu. Menatap jam lama.

“Jam itu rusak malam kamu pergi.”

Sapu di tangan Ibu tidak bergerak.

Galang menelan ludah. “Rusak kenapa?”

Ibu menggeleng. Mengambil lap di meja.

“Tidak tahu. Tiba-tiba berhenti.”

Ia mengelap bingkai jam. Pelan.

Galang menatap angka 21.17.

Lihat selengkapnya