Sebelum Rumah Menjadi Sepi

GAZALI
Chapter #18

BAB 18 - Lelaki yang Berdiri di Belakang Bus

Pak Hadi Datang Lebih Pagi

Pagi masih muda. Embun belum jatuh dari daun mangga.

Ketukan di pintu. Pelan. Tiga kali.

Galang membuka. Pak Hadi berdiri di teras. Tidak bawa bibit. Tangannya kosong.

Biasanya Pak Hadi datang sore.

Hari ini wajahnya beda. Lebih berat. Matanya merah sedikit. Seperti semalaman menimbang kata.

Ia menatap ke dalam. Ke arah kursi rotan. Ayah di sana. Bersandar. Memegang tongkat. Tidak menoleh.

Pak Hadi diam lama.

Lalu menatap Galang.

“Hari ini... ada cerita yang sudah waktunya kamu tahu.”

Galang menggenggam gagang pintu. Dingin.



Berjalan ke Kebun

Pak Hadi tidak masuk rumah.

“Ayo,” katanya.

Galang mengangguk. Mengikuti.

Mereka lewat jalan tanah. Rumput basah. Bau pagi naik.

Bukan karena kebun penting.

Pak Hadi tahu Ayah tidak ingin mendengar kisah itu secara langsung.

Sampai di bawah pohon mangga tua. Tempat yang sama seperti Bab 13.

Bangku bambu masih di sana. Kayunya licin. Hitam.

Pak Hadi duduk. Menepuk sebelahnya.

Galang duduk.

Angin lewat. Daun bergesek.

Lingkaran cerita mulai terasa utuh.


Malam Itu

Pak Hadi mengambil ranting. Menggambar lingkaran di tanah.

“Setelah kamu pergi...” suaranya berat.

Galang menahan napas.

“Ayahmu diam. Tidak sampai lima menit.”

Pak Hadi mengangkat wajah. Menatap Galang.

“Tiba-tiba dia berdiri. Mengambil jaket. Yang abu-abu itu.”

Galang ingat jaket di gudang.

“Lalu dia bilang,” Pak Hadi menelan ludah. “Aku harus menyusul dia.”

Tangannya meremas ranting sampai patah.

“Aku ikut.”

Galang tidak bergerak. Tidak berkedip.

Cerita mulai bergeser. Ke sudut pandang Ayah.


Di Belakang Tiang Terminal

Malam. Hujan gerimis. Lampu terminal kuning. Suram.

Pak Hadi menunjuk ke arah warung tutup, meski mereka di kebun.

“Ayahmu berdiri di sana. Di belakang tiang.”

Galang membayangkan. Tiang besi. Catnya mengelupas.

“Dia lihat kamu beli tiket.”

Jari Pak Hadi bergetar.

“Beberapa kali Ayahmu melangkah maju.”

Ia menirukan. Satu langkah. Berhenti.

“Panggil saja,” kataku.

Ayah menggeleng.

Air matanya mulai jatuh. Diam-diam. Jatuh ke kerah baju.

“Kalau sekarang kupanggil...” suara Ayah lirih. “Aku takut dia mengira aku menang karena dia kembali.”

Galang menutup mata.

Bukan gengsi.

Melainkan rasa takut membuat luka semakin dalam.

Pak Hadi menunduk. “Aku baru paham malam itu.”

Bus Berangkat

Mesin bus menyala. Asap hitam. Bau solar.

Galang naik. Tas di punggung. Tidak menoleh.

Pak Hadi melanjutkan. Suaranya serak.

“Ayahmu melangkah satu langkah.”

Ia memperagakan dengan tangan. Gemetar.

“Tangannya terangkat. Hampir memanggil.”

Pak Hadi diam. Lama.

“Tapi bus bergerak lebih dulu.”

Galang membuka mata. Basah.

“Suara Ayahmu tenggelam.”

Pak Hadi menepuk dada.

“Galang...” katanya. Menirukan Ayah. “Cuma itu.”

Lihat selengkapnya