Pagi yang Berbeda
Pagi belum tinggi. Embun masih di ujung daun.
Galang bangun lebih dulu. Tidak menunggu ayam berkokok.
Ia keluar. Menyapu halaman. Bunyi sapu di tanah. Srak. Srak. Daun mangga kering terkumpul.
Lalu ke sumur. Mengisi bak mandi. Ember besi berat. Air dingin menyentuh kulit.
Ia menyiram tanaman. Pot cabai. Kemangi. Bunga pukul empat.
Semua selesai sebelum matahari naik.
Pintu kamar terbuka. Ayah keluar. Memakai tongkat. Langkahnya pendek. Menyeret kaki kanan.
Ayah berhenti di ambang pintu. Menatap halaman. Bersih. Bak penuh. Tanaman basah.
Tidak ada kata.
Tapi matanya lama di Galang.
Ada bangga di sana. Tipis. Seperti cahaya pagi.
Galang menunduk. Menyembunyikan senyum pahit.
Kopi Pagi
Di dapur. Bau kopi naik.
Galang menuang air panas ke cangkir. Dua sendok. Gulanya satu. Atau dua?
Ia lupa.
Dibawa ke teras. Satu untuk Ayah. Satu untuknya.
Ayah duduk di kursi teras. Selimut di paha.
Galang menaruh cangkir di meja kecil. Kayunya kasar.
Ayah mengambil. Mencium. Lalu menyesap.
Wajahnya berubah. Kening berkerut sedikit.
Galang panik. “Keasinan, Yah?”
Ayah diam. Menelan.
Lalu tersenyum kecil. Mengangguk. Menyesap lagi. Habis.
Galang tertawa. Pertama kali setelah pulang. Lepas.
Ayah ikut. Suaranya serak. Tapi nyata.
Ibu dari pintu mengintip. Menutup mulut. Matanya basah.
Untuk pertama kalinya mereka tertawa bersama.
Karena kopi yang salah takaran.
Burung Pipit
Selesai kopi, mereka masih di teras.
Seekor burung pipit hinggap di pagar bambu. Kecil. Cokelat. Matanya bulat.
Ayah menunjuk dengan dagu. Tangan kanannya gemetar, tidak bisa angkat tinggi.
Galang menoleh.
“Pipit,” kata Ayah. Pelan. Satu kata.
Galang diam. Menatap burung itu.
Tiba-tiba ia ingat.
Waktu kecil. Ayah sering menunjuk burung. Di sawah. Di kabel listrik.
“Yang itu gelatik,” kata Ayah dulu.
Galang mengangguk waktu itu. Tapi lupa besoknya.
Sekarang ia ingat lagi.
Burung itu terbang. Ke pohon mangga.
Galang menoleh ke Ayah.
Ayah masih menatap ke arah pohon.
Kenangan kecil sering bertahan lebih lama daripada peristiwa besar.
Langkah yang Melambat
Sore. Langit cerah. Angin hangat.
“Ke kebun,” kata Galang.
Ayah mengangguk. Mengambil tongkat.
Mereka jalan. Pelan.
Baru sepuluh langkah dari teras, Ayah berhenti.
Napasnya pendek. Tangan kanan gemetar di gagang tongkat.
Dahi berkeringat.
Galang segera memegang lengannya.
“Ayah duduk dulu.”
Ayah menggeleng. Bibirnya rapat. Seolah berkata, Aku masih mampu.
Ia memaksa melangkah lagi.
Satu. Dua.
Langkah ketiga, tubuhnya miring.
Galang cepat merangkul. Menahan.