Janji Besok
Kabut pagi masih menggantung di atas pematang sawah. Embun menetes perlahan dari ujung daun cabai yang tumbuh di halaman belakang. Udara terasa dingin, tetapi cahaya matahari mulai mengintip dari balik pepohonan mangga.
Galang sudah mengenakan sepatu dan kemeja lengan panjang. Di tangannya ada topi anyaman bambu yang biasa dipakai Ayah saat berkebun.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara tongkat terdengar dari dalam kamar.
Galang menoleh.
Ayah keluar perlahan.
Hari itu Ayah tampak berbeda. Rambut putihnya disisir rapi ke belakang. Ia mengenakan kemeja cokelat tua yang sudah lama tidak dipakai. Kancing yang dulu copot kini telah dijahit kembali oleh Ibu. Sarung kotak-kotaknya tampak bersih.
Wajahnya memang masih pucat.
Namun matanya terlihat hidup.
Seolah pagi itu ada sesuatu yang sangat ingin ia lakukan.
Galang tersenyum.
"Ayah ganteng hari ini."
Ayah menunduk malu.
Senyum kecil muncul di sudut bibir kirinya.
"Ayo, Yah."
Ayah mengangguk pelan.
Tangannya menggenggam tongkat lebih erat.
Hari itu, tanpa diketahui siapa pun, Ayah sedang membuat sebuah janji yang hanya ia pahami sendiri.
Berjalan Lebih Lambat
Jalan menuju kebun masih basah oleh embun semalam. Bau tanah yang lembap bercampur harum rumput liar memenuhi udara pagi.
Biasanya Ayah selalu berjalan paling depan. Meskipun tubuhnya melemah setelah stroke, ia tetap menjadi penunjuk jalan.
Hari ini berbeda.
Ayah justru membiarkan Galang melangkah lebih dulu.
Sesekali tongkatnya mengetuk tanah.
Tok.
Ia menunjuk jalan setapak di sebelah kiri.
Galang berhenti.
"Lewat sini, Yah?"
Ayah mengangguk.
Beberapa langkah kemudian Ayah kembali memberi isyarat.
Bukan karena Galang salah.
Melainkan karena Ayah ingin memastikan anaknya mulai mengingat sendiri setiap sudut kebun itu.
Tanpa disadari, posisi mereka telah berubah.
Bukan lagi Ayah yang memimpin.
Tetapi Ayah yang perlahan menyerahkan jalan itu kepada Galang.
Saat melewati tanah yang miring, tubuh Ayah sedikit limbung.
Galang cepat-cepat memegang lengannya.
Kali ini...
Ayah tidak menolak.
Bibit Terakhir
Sinar matahari mulai menerobos sela-sela daun mangga ketika mereka sampai di sudut kebun.
Ayah berhenti di depan sebuah polybag hitam.
Di dalamnya tumbuh bibit mangga kecil setinggi sejengkal.
Daunnya baru tiga helai.
Ayah berjongkok perlahan.
Gerakannya berat.
Napasnya mulai terdengar pendek.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengangkat bibit itu.
Galang buru-buru menopang siku Ayah agar bisa berdiri.
Ayah kemudian menyodorkan bibit itu kepadanya.
"...ka...mu..."
Galang menerimanya.
Tanah yang membungkus akar masih terasa dingin.
Ayah menunjuk sebidang tanah kosong di dekat pohon mangga tua.
Galang mengerti.
Ia mengambil cangkul.
Menggali lubang.
Menanam bibit itu.
Lalu menimbunnya kembali dengan hati-hati.
Biasanya Ayah selalu ikut memegang cangkul.
Hari ini...
Ia hanya berdiri memandang.
Seolah pekerjaan itu memang sudah bukan lagi miliknya.
Cara Melihat Daun
Ayah berjalan menuju pohon jambu.
Ia memetik dua helai daun.
Satu hijau segar.
Satu lagi menguning dengan bintik-bintik kecil.
Keduanya diletakkan di telapak tangan Galang.