Sebelum Rumah Menjadi Sepi

GAZALI
Chapter #22

BAB 22 - Surat Pertama

Pagi Setelah Kotak Dibuka

Pagi datang. Kabut tipis menempel di kaca jendela.

Rumah terasa sunyi. Lebih sunyi dari biasanya.

Galang duduk di lantai kamar. Di depan, kotak kayu terbuka. Kosong.

Di atas meja, enam amplop. Tersusun. Rapi.

Ia tidak tidur semalaman.

Dari kamar Ayah, napas pelan. Teratur. Tidak batuk.

Galang menoleh. Pintu sedikit terbuka.

Ayah sedang tidur. Selimut sampai dada. Wajahnya tampak damai.

Lebih damai dari hari-hari sebelumnya.

Seperti beban di bahu turun.

Galang menunduk. Menatap tangannya.

Masih terasa berat kunci kecil semalam.

Di luar, burung berkicau. Pelan. Sekali. Lalu diam.


Amplop Bertanggal

Galang berdiri. Mendekat ke meja.

Mengambil enam amplop itu. Ringan. Kertasnya rapuh. Pinggirnya menguning.

Dibolak-balik.

Setiap surat punya tanggal. Tinta pulpen biru. Sudah pudar. Ada yang luntur kena air.


Tahun 1.

Tahun 2.

Tahun 3.

Tahun 4.

Tahun 5.

Tahun 10.


Semuanya diawali kalimat yang sama.

Untuk Galang, kalau suatu hari kamu pulang.

Galang menutup mata.

Tangannya gemetar.

Kertas itu tipis.

Tapi menahan sepuluh tahun.

Sepuluh tahun yang tidak pernah ia lihat.

Ia meletakkan lagi. Tidak berani sentuh.

Dadanya sesak.

Di luar, angin menyentuh gorden. Menggerakkan sedikit.


Surat Pertama Dibuka

Galang duduk di pinggir tempat tidur.

Amplop Tahun 1 di pangkuan.

Jari-jarinya membuka lem. Pelan. Lemnya sudah kering. Mudah lepas.

Kertas dilipat dua.

Tulisan Ayah. Tidak rapi. Ada coretan. Ada tinta yang meleber. Hurufnya besar-besar.

Galang membaca.

Nak...

Ia berhenti. Menelan ludah.

Suara jangkrik dari luar. Kecil.

Melanjutkan.

Kalau surat ini suatu hari sampai ke tanganmu, berarti Tuhan masih memberiku kesempatan meminta maaf.

Galang menggenggam kertas erat.

Kertas itu bergetar di tangannya.

Sejak malam kamu pergi, rumah ini tidak pernah benar-benar ramai lagi.

Ia ingat teras semalam. Ayah duduk sampai subuh. Kata Ibu.

Menarik napas.

Setiap malam aku ingin mencarimu.

Tangannya dingin.

Tapi aku takut.

Galang menatap ke jendela. Embun di kaca menetes. Satu garis.

Takut kamu pulang karena kasihan.

Bukan karena hatimu memang ingin pulang.

Ia menggigit bibir.

Maka aku memilih menunggu.

Air mata jatuh. Satu tetes. Ke kertas. Titik itu melebar.

Menunggu adalah hukuman yang kupilih sendiri.

Galang menutup mata.

Dan setiap hari hukuman itu mengajarkanku betapa berharganya seorang anak.

Sunyi.

Hanya suara napasnya sendiri. Berat.

Di luar, daun jatuh. Pelan.

Galang Berhenti Membaca

Galang tidak sanggup melanjutkan.

Ia melipat surat. Tidak rapi. Lipatannya miring.

Menaruh di samping. Di atas meja.

Menutupi wajahnya.

Tangannya menekan mata.

Lihat selengkapnya