Cahaya Pagi di Rumah Lama
Pagi datang. Sunyi.
Galang duduk sendirian di ruang tamu. Tidak di kamar. Tidak di dapur.
Lampu mati. Cahaya masuk lewat celah jendela. Garis-garis di lantai kayu.
Ia menatap sekeliling.
Dinding. Kursi. Lemari. Jam.
Semua diam.
Untuk pertama kalinya...
Ia memperhatikan setiap sudut rumah.
Ada sesuatu yang aneh.
Cat yang mengelupas di pojok tetap sama. Goresan di meja masih di tempat yang sama.
Rumah itu seperti berhenti bertambah tua.
Seperti waktu di sini ditahan.
Galang menarik napas.
Bau kayu lama naik.
Bekas Tinggi Badan
Galang berdiri. Melangkah ke kusen pintu.
Di kayu itu, garis-garis pensil.
Tipis. Ada yang hampir hilang.
Usia lima tahun. Di bawah.
Delapan tahun. Lebih tinggi.
Sepuluh tahun.
Lima belas tahun.
Jari Galang menelusuri.
Dan...
Tidak ada garis lagi.
Kosong.
Karena malam itu Galang pergi.
Ibu lewat membawa sapu. Berhenti.
Galang menunjuk kusen. “Kok tidak dicat ulang, Bu?”
Ibu menunduk. Menyapu pelan.
“Ayah melarang Ibu mengecat kusen itu.”
Sapu berhenti.
Galang diam.
Kamar yang Tetap Sama
Galang mendorong pintu kamar.
Pelan.
Engselnya bunyi. Sama seperti dulu.
Di dalam, poster lama. Tim bola. Sudutnya sobek.
Rak buku. Buku komik. Berdebu.
Selimut. Motif kotak. Lusuh.
Meja belajar. Ada goresan nama: Galang. Ukiran pakai pulpen.
Letak bantal masih sama. Di kiri.
Galang masuk. Duduk di kasur.
Kasur itu ambles sedikit. Seperti dulu.
Ia baru sadar.
Tak ada satu pun yang berubah.
Bahkan bau kamarnya. Bau kapur barus.
Ia membuka laci.
Pensil patah. Penghapus hilang separuh.
Sama.
Pengakuan Ibu
Sore. Di dapur.
Galang mencuci gelas.
“Bu,” katanya.
Ibu mengupas bawang.
“Kenapa semuanya masih seperti ini?”
Ibu berhenti mengupas.
Menaruh pisau.
Menatap ke arah ruang tamu. Ke arah kamar Galang.
Tersenyum tipis.
“Karena setiap kali Ibu ingin mengganti sesuatu...”
Ibu berhenti.
Menarik napas.