Kotak yang Dibuka Lagi
Pagi datang. Tidak ada suara ayam.
Galang duduk di depan kotak kayu. Tutupnya terbuka.
Kemarin ia menutupnya lagi. Rapi.
Hari ini dibuka lagi.
Bukan untuk mengambil surat.
Tangannya menyentuh benda-benda kecil di dalam.
Gelang bayi. Gigi susu. Rapor. Mobil-mobilan. Sepatu sekolah yang sudah kekecilan.
Setiap benda terasa lebih berat daripada ukurannya.
Di luar, angin menyentuh jendela. Pelan.
Ayah di kamar. Napasnya terdengar sampai sini.
Galang tidak langsung mengambil apa-apa.
Hanya duduk. Menatap.
Simbol: Gelang bayi.
Gelang Bayi
Galang mengangkat gelang itu. Benang merah. Sudah pudar.
Nama "Galang" tertulis dengan tinta. Kecil. Miring.
Ibu lewat. Bawa handuk. Berhenti.
Melihat gelang di tangan Galang.
Tersenyum. Tapi mata basah.
"Ayahmu yang paling keras menolak ketika rumah sakit menawarkan gelang itu untuk dibuang."
Galang menoleh.
Ibu melanjutkan.
"Katanya, ini bukti kamu pernah lahir dari kami."
Galang membalik gelang kecil itu.
Ia tak pernah tahu benda sekecil itu disimpan selama puluhan tahun.
Di laci. Di kotak.
Tidak hilang.
Tidak berdebu.
Tangannya menggenggam.
Dingin.
Rapor Pertama
Di bawah gelang, rapor kelas satu SD.
Sampulnya biru. Sudutnya lepas.
Galang membuka.
Nilai delapan. Sembilan. Tujuh.
Di bawah, catatan guru:
"Galang terlalu sering melamun di kelas. Perlu didampingi belajar."
Galang malu. Menutup rapor cepat.
Ayah dari kursi rotan menoleh.
Hari ini Ayah pakai kursi roda. Pertama kali keluar kamar dengan itu.
Di dalam rumah masih pakai tongkat. Tapi pagi ini, Galang yang dorong.
Ayah tersenyum.
Menunjuk tanda tangan kecilnya di halaman terakhir.
Seolah berkata,
"Aku tetap bangga waktu itu."
Galang menelan ludah.
Tidak sanggup menatap Ayah lama.
Mobil-Mobilan Rusak
Galang mengambil mobil-mobilan plastik.
Warna merah. Roda depan hilang satu.
Ia tertawa kecil.
"Aku pikir ini sudah hilang."
Ibu dari dapur menyahut. Tidak menoleh.
"Ayahmu yang menemukannya di bawah lemari."
Ibu berhenti mengiris.
"Katanya, nanti kalau Galang pulang pasti dicari."
Galang memutar mobil itu di tangan.
Ingat. Umur enam. Jatuh. Roda patah. Nangis.