Sebelum Tiba Revolusi

Saparuddin Santa
Chapter #2

Bab 2 - Sebelum Jalan Berbeda

Bab 2 - Sebelum Jalan Berbeda

Surabaya - 2006

"Kau serius Darto?"

Pertanyaan Nana itu membawa pikirannya melompat jauh ke belakang, ke-sebuah pagi yang panas di Surabaya, dua puluh tahun silam. Saat mereka masih mengenakan seragam pabrik rokok yang sama.

Pabrik itu berdiri di tengah kawasan industri yang tak pernah benar-benar tidur. Sejak pukul enam pagi, ratusan sepeda motor sudah memenuhi halaman parkir. Dari kejauhan, aroma tembakau dan cengkeh bercampur dengan bau aspal yang dipanaskan matahari.

Darto masih berusia dua puluh sembilan tahun ketika pertama kali bekerja di sana. Ia bukan lelaki yang menonjol. Tubuhnya kurus. Kulitnya gelap karena sering membantu ayahnya bertani sebelum merantau ke Surabaya. Kalau buruh-buruh lelaki lain menghabiskan waktu istirahat dengan bercanda atau menggoda buruh perempuan, Darto lebih sering membawa buku. Kadang buku sejarah. Kadang novel. Kadang koran bekas yang dibelinya dari pedagang loak. Karena itulah ia sering menjadi bahan olok-olok teman-temannya.

"Kalau membaca terus, memang ada perempuan yang mau sama kau, To?"

Semua tertawa setiap kali Darto hanya menenggelamkan wajahnya diantara koran bekas saat jam istirahat pabrik. Darto hanya tersenyum, dan membiarkan rasa puas memenuhi kegembiraan teman-teman yang mengoloknya. Ia sudah terlalu terbiasa mendengar ejekan semacam itu.

Tapi sikap acuh Darto berubah saat ia melihat sosok yang berbeda di kantin itu. Lelaki yang tak paham bagaimana tersenyum pada lawan jenis itu, terpukau dengan penampilan berbeda dari seorang perempuan, dialah Ratna Indaswari. Orang-orang pabrik memanggilnya Nana. Perempuan yang akhirnya, membuatnya merasa tidak sendiri di pabrik itu.

Pertama kali ia memperhatikan Nana adalah pada bulan kedua bekerja. Saat itu kantin pabrik sedang penuh. Para buruh baru mencari tempat duduk. Darto yang selalu datang terlambat ke kantin terpaksa duduk di meja paling ujung. Sendirian.

Disanalah Nana datang membawa nampan makan siangnya. "Masih kosong?" Darto mengangguk gugup saat suara Nana mengusik sendirinya.

"Silakan." Kata Darto. Nana kemudian memilih duduk tanpa memperhatikan siapa yang berada di depannya. Dan selama lima belas menit berikutnya mereka hampir tidak berbicara sama sekali.

Bagi orang lain, peristiwa itu tidak berarti apa-apa. Namun bagi Darto, itulah awal dari semuanya. Nana berbeda dengan kebanyakan perempuan yang pernah dikenalnya. Wajahnya, bukan hanya cantik. Dengan rambut yang dibiarkan bergerai, membuat Darto tidak siap berkedip saat memandangnya secara diam-diam. Dimata Darto, wajah Nana selalu tampak hidup. Dan matanya mudah tertawa. Ya, matanya seperti selalu meminta siapa saja yang memandangnya, akan merasakan kegembiraan yang lepas. Satu lagi, dia punya kebiasaan mengangkat alis kiri saat sedang heran. Hal-hal kecil semacam itu, entah mengapa selalu diingat Darto. Bahkan bertahun-tahun kemudian.

 Nana belum merasakan apapun hari itu, bahkan mungkin tidak menangkap energi apapun yang dipancarkan Darto di pertemuan pertama mereka. Tapi percakapannyan dengan Risti sahabatnya, membuatnya mengingat-ingat wajah lelaki yang memberinya tempat di kantin hari itu.

"Mas Darto itu aneh." Suatu hari Nana berkata kepada Risti saat mereka sedang memilah tembakau      

Lihat selengkapnya